Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Perasaan khawatir


"Kakak? Ada apa? Kenapa Kakak keluar lagi dari kamar?" Tanya Amara yang masih menonton acara tv saat Naina kembali keluar dari dalam kamarnya.


"Badan Zel sedikit panas, Kakak ingin mengompresnya." Ucap Naina dengan wajah cemas.


"Zel demam?" Amara yang ikut merasa cemas pun bangkit dari pembaringannya.


Naina mengangguk membenarkan.


"Pantas saja sejak siang tadi Zel sedikit rewel. Ternyata badannya sedang tidak sehat. Dan tadi juga Zel sangat sulit untuk tidur." Ucap Amara yang diangguki Naina.


Malam itu Naina dan Amara pun bekerja sama menjaga Zeline yang sedang sakit. Untung saja setelah dikompres panas di tubuh Zeline semakin menurun.


"Semoga saja besok pagi keadaan Zel sudah kembali pulih." Ucap Amara sambil mengelus sayang rambut keponakanannya.


"Semoga saja..." Balas Naina yang masih merasa cemas dengan keadaan putrinya.


*


"Bagaimana Kak? Apa panas di tubuh Zel sudah turun?" Tanya Amara pada Naina yang sedang duduk di samping putrinya yang masih tertidur.


"Masih sedikit panas." Balas Naina dengan pelan agar tak mengganggu tidur putrinya.


"Apa Kakak tidak bekerja?" Tanya Amara saat melihat jam yang menggantung di dinding kamar sudah menunjukkan pukul enam namun Naina belum juga bersiap-siap.


"Zel sedang sakit, Kakak merasa khawatir jika meninggalkannya." Ucap Naina.


"Bukankah hari ini Kakak ada rapat divisi dengan pemimpin perusahaan?" Tanya Amara yang diangguki oleh Naina.


"Kalau begitu pergilah bekerja, Kak. Kakak tidak perlu khawatir, Zeline biar Amara yang menjaganya." Ucap Amara meyakinkan Naina.


Naina nampak berpikir. Hari ini Aga, Thoriq dan Dimas ada pekerjaan di luar perusahaan, dan hanya ia dan Sasa yang bisa menghadiri rapat hari ini. Setelah cukup lama berpikir, pagi itu Naina pun memutuskan untuk berangkat bekerja.


"Amara... kabari Kakak jika ada apa-apa dengan Zel." Pesan Naina sebelum berangkat bekerja. Karena Zeline belum juga bangun saat ia ingin berangkat bekerja, akhirnya Naina pun berangkat tanpa berbicara dengan putrinya lebih dulu.


"Baik, Kak. Hati-hati di jalan." Pesan Amara yang diangguki Naina.


*


"Naina... Ada apa dengan wajahmu?" Tanya Sasa yang dapat menangkap raut berbeda di wajah Naina. Saat ini ia dan Naina sedang berjalan menuju ruangan rapat.


Naina menghentikan langkahnya yang membuat langkah Sasa turut terhenti. "Zeline sedang sakit. Dan aku merasa cemas meninggalkannya hanya berdua bersama Amara di rumah." Ucap Naina mengungkapkan kekhawatirannya.


"Memangnya Ibumu kemana?" Tanya Sasa.


"Ibu dan Ayah sedang pergi ke kampung untuk menghadiri acara pernikahan Bibiku."


"Loh, kenapa Zel tidak diajak?" Sasa nampak bingung.


"Zel tidak ingin ikut dan lebih memilih untuk tinggal bersamaku dan Amara." Jelas Naina.


"Lalu bagaimana keadaan Zel saat ini?" Tanya Sasa yang turut merasa khawatir.


"Suhu badannya masih sedikit panas." Ucap Naina.


Mereka pun kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan rapat. Saat sudah berada di ruangan rapat, ternyata Daniel dan Marko sudah duduk menunggu kedatangan mereka di kursi kebesarannya.


Dengan wajah tertunduk, Naina pun berjalan menuju kursi tempat duduknya dan Sasa. Tak lama setelah menunggu perwakilan divisi lain turut bergabung bersama mereka, rapat pun dimulai.


Selama rapat berlangsung, Naina nampak tidak fokus pada apa yang disampaikan perwakilan divisi lain di depannya. Pemikirannya terus tertuju dengan putrinya yang sedang sakit di rumah. Beberapa menit berlalu, deringan bunyi telfon di ponselnya yang lupa ia matikan membuat Naina segera mengambil ponselnya yang ada di saku blezernya.


"Amara? Ada apa Amara menelfonku?" Gumam Naina pelan. Lalu sedetik kemudian perasaan khawatir menyelimuti hatinya saat mengingat keadaan putrinya di rumah.


***


Lanjut?


Vote, komen dan likenya yuk😊