Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Kesalahan yang telah kau lakukan


"Lepaskan aku, Naina." Ucap Aga.


Naina menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau sebelum Kakak berjanji tidak lagi memukul Daniel!"


Aga menghela nafas panjang. "Dia pantas mendapatkannya!" Tekan Aga.


"Dalam hal ini aku juga bersalah Kak. Jangan menyalahkan Daniel sepenuhnya."


Helaan nafas Aga kian memberat. Pandangannya tak lepas dari wajah Daniel yang nampak tidak berniat melakukan pembelaan sama sekali.


"Lepaskan tanganmu karena aku tak akan memukulnya lagi." Ucap Aga.


Mendengar ucapan Aga yang terdengar bersungguh-sungguh, Naina pun melepaskan pelukannya.


"Daniel..." lirih Naina dengan air mata yang mengalir di pipinya menatap wajah Daniel yang memerah dan luka robek di sudut bibirnya.


Daniel menatap Naina dengan tersenyum tipis menandakan jika pukulan itu tidak berarti apa-apa padanya. Daniel pun bangkit. Membalas tatapan dingin Aga dengan wajah tak kalah dingin.


"Jika Kakak masih ingin memukulku, maka lakukan saja." Ucap Daniel.


"Daniel..." Naina menggeleng tak setuju atas apa yang Daniel katakan.


Aga mengalihkan pandangannya dari Daniel ke wajah Naina yang nampak begitu cemas menatap pada Daniel.


"Apa kau masih mau membela pria yang telah merusakmu, Naina?" Tanya Aga.


Naina menolehkan wajahnya, menatap wajah Aga yang jauh lebih tinggi darinya. "Di tidak sepenuhnya bersalah karena merusakku, Kak. Aku juga turut bersalah karena aku juga ingin melakukannya. Kami melakukannya karena aku menyukainya waktu itu." Walau pun merasa tak pantas mengucapkannya, Naina tetap mengatakannya karena di sini ia dan Daniel sama-sama bersalah.


"Ku mohon jangan lagi memukul dan menyalahkan Daniel sepenuhnya..." pinta Naina sambil mengatupkan kedua tangannya pada Aga.


Aga tak membalas ucapan Naina. Pandangannya kini kembali beralih pada wajah Daniel.


"Apa kau tahu alasan apa yang membuat aku memukulmu, Daniel?" Tanya Aga.


Daniel memilih diam. Namun pandangannya masih tertuju pada wajah Kakak sepupunya itu.


"Pertama, kau sudah melakukan dosa besar degan menodai seorang wanita dan wanita itu adalah kekasihku saat ini. Kedua, karena ulahmu putri kalian yang tidak berdosa harus hidup dalam kebohongan sejak dia lahir di dunia ini. Apa kau sadar betapa besar kesalahanmu itu?" Tatapan Aga berubah tajam. Kedua tangannya nampak terkepal kembali.


"Aku sadar. Dan aku tidak akan membela diri atas apa yang aku lakukan." Balas Daniel.


"Dan ketiga, kesalahanmu terbesarmu karena sudah membuat hati Bibi Hasna terluka karena merasa gagal mendidik putra yang sangat disayanginya selama ini. Bibi Hasna saat ini pasti menyalahkan dirinya sendiri karena sudah menjadi sosok ibu yang gagal untukmu. Bibi Hasna pasti sangat hancur hatinya saat ini." Ucap Aga.


Daniel tertegun. Ucapan Aga benar, Mamanya sangatlah hancur saat mengetahui dosa besar yang telah ia lakukan. Mamanya juga kerap menyalahkan dirinya sendiri atas kelakukannya di masa lalu.


"Kau telah menghancurkan hati kedua orang tua, Daniel. Orang tuamu dan orang tua Naina." Lanjut Aga kemudian.


Daniel tertunduk. "Aku sadar atas kesalahanku, Kak." Balas Daniel.


Aga mengusap wajahnya kasar. Ia tak lagi bersuara. Pandangannya menatap kosong ke arah langit. Keadaan ini benar-benar membuatnya cukup terkejut. Meski pun sejak awal hatinya sudah curiga saat melihat tatapan Daniel pada Naina yang terlihat tidak biasa, kesamaan di warna mata Daniel dan Zeline yang selalu terbayang di ingatannya, serta terakhir kalinya ia melihat betapa Zeline sangat menyayangi Daniel. Namun tetap saja saat telinganya mendengar secara langsung fakta yang sebenarnya membuat hatinya hancur saat ini. Terlebih pria yang telah merenggut kesucian kekasihnya adalah adik sepupunya sendiri.


***


Berikan vote dan giftnya dulu yuk untuk lanjut ke bab beritkutnya☺️