Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Kau cukup berani


"Apa benar jika Aga sudah berniat menikah dengan Naina?" Pertanyaan yang sejak pagi tadi mengganggu pemikirannya membuat Daniel nampak tidak fokus memeriksa setumpuk dokumen yang ada di depannya.


Daniel menyandarkan punggung kokohnya di sandaran kursi. Menatap pada langit-langit ruangannya dengan pemikiran yang terus tertuju pada Naina.


"Apa Aga sudah mengetahui jika Naina sudah memiliki seorang anak?" Lagi-lagi banyak pertanyaan yang belum dapat ia temukan jawabannya. Daniel semakin dibuat gelisah. Entah perasaan apa yang ia rasakan saat ini.


Aku tidak akan membiarkan mereka menikah sampai Naina berkata jujur pada Zeline jika aku adalah ayah kandungnya. Daniel membatin. Kedua tangannya nampak terkepal erat entah karena apa. Hatinya benar-benar merasa tak rela jika gadis kecil yang hadir di dunia karena kebejatannya di masa lalu itu masih menganggapnya sebagai orang lain. Entah mengapa Daniel sangat ingin Zeline mengetahui jika ia adalah ayah kandungnya.


Di depan pintu lift yang baru saja tertutup, seorang wanita nampak berdiri tegap sambil menatap ragu ruangan yang ingin ditujunya.


"Aku tidak boleh menundanya. Aku harus menemui Daniel dan melarangnya untuk menemui Zeline lagi." Dengan tekad yang sangat kuat, Naina pun memberanikan diri melangkah semakin mendekat ke arah ruangan Presdir.


"Kemana perginya sekretaris Daniel?" Gumam Naina saat tak melihat keberadaan siapa pun di depan ruangan Daniel. Tak ingin membuang waktu lama dan dengan mengumpulkan sebanyak-banyaknya keberaniannya, Naina pun meraih ganggang pintu lalu membukanya tanpa mengetuk lebih dulu.


Ceklek


Suara pintu ruangannya yang terdengar terbuka berhasil menghentikan lamunan Daniel. Daniel menegapkan tubuhnya. Menatap tak percaya pada pintu yang terbuka dan menampilkan sosok wanita yang kini sedang mengganggu pemikirannya.


"Naina?" Gumam Daniel begitu pelan. Daniel membiarkan saja Naina yang terus melangkah ke arahnya tanpa bersuara. Ia hanya ingin melihat ada hal apa yang membuat wanita itu dengan beraninya masuk ke dalam ruangannya bahkan tanpa mengetuk pintu lebih dulu.


Melihat Daniel yang hanya diam saja tak membuat nyali Naina menyurut. Apa lagi setelah ia mengingat kejadian tadi malam saat Zeline tiba-tiba terbangun dan menangis bahkan putriny itu mengigau memanggil nama Daniel membuat dada Naina bergemuruh.


Daniel pun akhirnya angkat bicara. "Anda terlihat begitu sopan masuk ke dalam ruangan saya tanpa mengetuk pintu lebih dulu." Suara Daniel terdengar datar dan formal. Pandangannya nampak dingin menatap pada Naina.


Mendengar ucapan Daniel membuat Naina merutuki kelancangannya. Namun ia tak ingin terlihat bersalah di depan pria yang telah merusak masa depannya. "Sepertinya saya sudah tidak memiliki kesopanan pada pria seperti anda." Balas Naina dengan suara yang sedikit bergetar.


Daniel yang mendengarkannya nampak melipat bibirnya. Walau Naina kini menatapnya dengan nyalang, namun tubuh wanita itu tak dapat berbohong jika ia sangat gugup saat ini.


"Seperti saya?" Daniel menarik bibirnya ke samping. Beranjak dari kursi lalu berjalan mendekat ke arah Naina.


Naina pun sontak memundurkan langkahnya.


"Kenapa kau mundur? Dimana keberanianmu itu?" Daniel mencibir. Menatap remeh pada lawan di depannya.


Naina mengepalkan kedua tangannya. "Karena aku tidak ingin berdekatan dengan pria berengsek seperti dirimu!" Balas Naina di sela keberaniannya.


Daniel dibuat terdiam. Karena lagi-lagi Naina mengeluarkan kata keramat itu untuknya.


***