Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Dia ada dimana-mana


"Daniel..." Naina tertegun saat melihat pandangan Daniel yang berada di dalam mobil kini terpusat ke arahnya. Buru-buru Naina kembali melihat ke arah depan tanpa memperdulikan jika saat ini Daniel masih terus memperhatikan dirinya.


Setelah lampu lalu lintas berubah warna, Naina segera menancap pedal gasnya dengan jantung yang berdetak tidak karuan.


"Kenapa dia ada dimana saja aku berada akhir-akhir ini." Tubuh Naina dibuat merinding membayangkan wajah tampan Danile baru saja.


Saat sudah sampai di perusahaan Alexander, wajah Naina sudah nampak pucat seakan tak teraliri darah di sana.


"Kenapa wajahmu pucat sekali?" Aga mendekati meja kerja Naina saat melihat wajah wanitanya nampak pucat saat melewati meja kerjanya.


"Wajahku pucat?" Naina memegang kedua pipinya.


Aga mengangguk pelan. "Ada apa denganmu? Apa kau sakit, hem?" Tanya Aga lalu menempelkan tangan di kening Naina.


"Tidak. Aku baik-baik saja, Kak." Naina tersenyum agar Aga tidak mengkhawatirkan keadaannya.


"Pagi Naina... Pagi Kak Aga..." Mendengar suara cempreng Sasa memanggil nama mereka, membuat Aga segera menjauhkan tubuhnya dari Naina. "Sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat." Sasa tertawa kecil lalu mendaratkan tubuhnya di kursi kerjanya.


"Pagi Sasa..." Naina yang belum sempat menjawab sapaan Sasa akhirnya bersuara. Sedangkan Aga segera beranjak kembali ke meja kerjanya.


"Dimas dan Thoriq tumben sekali belum datang jam segini, Sa?" Tanya Naina saat melihat jam di pergelangan tangannya.


"Mereka sudah datang kok. Cuma tadi waktu di lobby mereka bertemu dengan Nyonya Alexander yang datang membawa cucu-cucunya. Dan mereka berinisiatif membantu Nyonya Alexander menggendong cucu-cucunya untuk dibawa ke ruangan Presdir karena melihat Nyonya Alexander." Jelas Sasa.


"Nyonya Alexader? Maksudmu Ibu Presdir?" Tanya Naina yang diangguki oleh Sasa.


Tak lama dua orang yang dibicarakan itu pun datang.


"Bagaimana rasanya menggendong cucu sultan?" Ledek Sasa saat melihat wajah Dimas dan Thoriq yang kelelahan.


"Tidak lagi untuk lain kalinya. Mereka sungguh membuat darahku naik." Gerutu Dimas dengan nafas naik turun.


"Benar. Aku baru mengerti banyak staff yang merasa kapok setelah membantu Nyonya Alexander membawa cucunya.


"Kedua cucu laki-laki Nyonya Alexander itu sungguh bandel, Nai... Maklum saja sih masih anak-anak. Tapi tingkah bandelnya cukup membuat darah tinggi." Seloroh Sasa sambil tertawa-tawa.


Naina yang masih belum mengerti itu hanya memilih mengangguk tanpa bertanya kembali.


*


"Kenapa Mama membawa Fahran dan Fahri ke sini?" Daniel yang baru saja memulai pekerjaannya dibuat memijat pelipisnya saat melihat kedatangan Mamanya datang membawa kedua keponakan nakalnya.


"Memangnya kenapa? Mereka ingin ikut dengan Mama dan Mama tidak mungkin menolak keinginan cucu-cucu Mama." Mama Hasna berkata dengan santai tanpa beban.


"Hari ini aku memiliki banyak pekerjaan, Ma. Jika mereka berada di sini bisa-bisa pekerjaanku akan terbengkalai." Daniel berusaha membuat Mamanya mengerti maksud ucapannya.


"Kami bisa membantu Om menyelesaikannya. Benar Kan Fahri?" Ucap Fahran pada adiknya.


"Benar!" Fahri tersenyum senang.


"Tidak perlu." Pungkas Daniel dengan cepat.


"Sudahlah... Kau tidak perlu khawatir begitu. Mama hanya sebentar di sini untuk memberitahukan padamu jika malam ini Mama ingin mengajakmu dan Kakakmu berkunjung ke rumah Om Andrew untuk menghadiri undangan makan malamnya karena Aga sudah mau kembali ke mansion dan mau memperkenalkan wanita yang kini telah menjadi kekasihnya."


***


Selamat membaca☺


lanjut??


Mohon beri dukungan untuk karya author dengan cara memberikan like, komen dan votenya☺


Semakin banyak dukungannya... Maka author juga makin semangat upnya, hihi☺☺