Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Tidak mungkin menjauhimu


"Tuan Daniel, anda sudah kembali." Ucap Marko saat berpapasan dengan Daniel di depan ruangan kerjanya.


Daniel mengangguk. "Apa laporan keuangan bulan ini sudah kau periksa?" Tanya Daniel.


Marko mengangguk. "Saya sudah memeriksanya dan menandai data yang mana saja yang tidak sesuai, Tuan." Balas Marko.


"Bagus. Bawa laporan itu ke ruangan saya." Titah Daniel.


"Baik, Tuan." Balas Marko patuh.


Daniel yang hendak melangkah meninggalkan Marko menghentikan langkahnya saat Marko kembali berbicara.


"Maaf, Tuan. Apa anda tidak mengaktifkan ponsel anda? Nona Queen sejak tadi menghubungi saya dan menanyakan keberadaan anda." Ucap Marko.


"Sepertinya ponsel saya kehabisan daya. Ada apa Queen menanyakan keberadaan saya?" Tanya Daniel.


"Nona Queen tidak mengatakan alasannya, Tuan. Namun Nona Queen berpesan agar Tuan segera menghubunginya kembali." Ucap Marko.


Daniel mengangguk paham. "Jika Queen menghubungimu lagi katakan saja jika saya ada banyak pekerjaan penting saat ini dan tidak bisa diganggu." Ucap Daniel lalu berlalu dari hadapan Marko tanpa menunggu Marko membalas ucapannya.


*


Brak


Daniel menghempaskan banyak dokumen di depannya begitu saja di atas lantai. Banyaknya pemikiran yang mengganggu ketenangannya akhir-akhir ini membuatnya tidak fokus dalam bekerja.


Daniel memijit pelipisnya yang semakin terasa sakit. "Naina... Zeline..." Dua nama wanita yang kini berputar-putar di pemikirannya membuat dada Daniel kian sesak. Daniel memejamkan kedua kelopak matanya. Ingatannya pun kembali berputar pada pertemuannya dan Zeline untuk pertama kalinya.


"Bagaimana pun juga Zeline adalah putriku. Naina tidak berhak melarangku bertemu dengannya." Gumam Daniel mengepalkan kedua tangannya erat saat mengingat ucapan Naina beberapa waktu lalu yang melarangnya dengan keras untuk menemui putrinya.


"Maafkan aku yang tidak bisa mengikuti keinginanmu. Tapi aku sungguh tidak bisa jauh dari anakku sendiri dan juga dirimu." Gumam Daniel dengan penuh arti.


*


"Apa, Bu? Jadi tadi Zel bertemu dengan Daniel di dalam mall?" Naina yang baru saja sampai di rumahnya dikejutkan oleh ucapan Ibu yang mengatakan jika tadi mereka bertemu dengan Daniel dan ibunya di dalam mall.


Ibu mengangguk membenarkan lalu kembali menceritakan saat Zeline tiba-tiba saja menghilang saat ia dan Amara sedang sibuk memilih baju hingga akhirnya Zeline ditemukan di dalam gendongan Mama Hasna.


"Apa Daniel berniat mengambil Zeline, Bu?" wajah Naina berubah cemas dan takut.


Ibu dengan cepat menggeleng. "Daniel bahkan mau mengembalikan Zeline pada Ibu saat mengetahui Zeline pergi tanpa berpamitan pada Ibu dan Amara." Ucap Ibu menenangkan Naina.


Naina menghembuskan nafas lega. Pantas saja tadi siang ia sempat bertemu dengan Daniel yang baru saja masuk ke dalam perusahaan, ternyata pria itu baru saja pergi bersama ibunya ke mall dan sempat bertemu dengan anaknya.


"Naina... apa kau tahu jika Zeline terlihat sangat senang saat bertemu dengan ayahnya? Wajah Zeline yang akhir-akhir ini redup akhirnya ceria kembali setelah bertemu dengan Daniel. Dan Ibu juga dapat melihat jika Daniel juga memendam kerinduan pada Zeline dan itu dapat dilihat saat ia merasa tak rela saat Ibu membawa Zeline pergi dari hadapannya." Ucap Ibu menjelaskan apa yang ia lihat.


***


Lanjut? Berikan dukungan dulu yuk dengan cara komen, like dan votenya.


Dan sambil menunggu cerita Naina dan Daniel update, silahkan mampir ke karya aku yang baru yang berjudul Bukan Sekedar Menikahi. Lanjutan dari novel aku Hanya Sekedar Menikahi. Terimakasih😉