
"Tentu saja Mama merasa tidak asing. Karena Mama telah bertemu dengan Ibu kandungnya sebelumnya."
"Apa maksudmu Dara?" Mama Hasna terlihat tidak mengerti.
"Naina. Kekasih Aga yang pernah Mama jumpai itu adalah wanita yang aku duga ibu dari anak itu." Ungkap Dara.
"Apa?!" Suara Mama Hasna terdengar begitu terkejut. Beberapa orang pun sontak menatap pada mereka mendengar suara Mama Hasna.
"Ayo ikut Dara." Dara menarik tangan Mama Hasna menjauh dari orang-orang yang saat ini tengah menatap mereka.
"Kau jangan bercanda Dara!" Tekan Mama Hasna tak percaya.
"Apakah Mama tidak bisa melihat dengan jelas kemiripan di wajah gadis tadi dengan Naina yang aku maksud?" Tanya Dara.
Mama Hasna nampak berpikir lalu mengangguk. "Mama baru sadar jika Mama melihat wajah Naina di wajah anak itu." Ucap Mama Hasna pelan.
"Sudahlah. Tidak usah Mama pikirkan lagi. Lebih baik saat ini kini cukup diam karena itu bukan urusan kita." Ucap Dara kemudian.
"Tapi ... apa kau tidak melihat warna mata gadis kecil itu." Mama Hasna turut dibuat berpikir.
Dara menghela nafas panjang. "Seperti yang Dara katakan. Kita jangan terlalu berpikir kemana-mana karena itu bukan urusan kita. Mungkin saja Naina memiliki keturunan yang memiliki warna mata yang sama dengan keluarga kita." Ucap Dara.
Mama Hasna hanya diam. Ia tidak begitu yakin dengan ucapan Dara.
*
Sore itu Naina pun pulang dari perusahaan dengan perasaan tidak tenang. Sejak keluar dari gerbang perusahaan, pandangannya terus melirik ke arah kaca spion untuk melihat kendaraan yang ada di belakang motornya.
Setengah perjalan ia lewati dengan perasaan tenang karena tidak ada kendaraan yang mencurigakan mengikutinya dari belakang seperti hari-hari sebelumnya. Namun ketenangan itu tak berjalan lama sebab setelah melewati lampu merah, sebuah mobil hitam nampak terus mengikutinya dari arah belakang.
"Siapa orang yang ada di dalam mobil itu? Kenapa dia seperti mengikutiku." Gumam Naina mulai resah. Naina pun menambah kecepatan motornya agar dapat menghindar dari seseorang yang sedang menguntitnya.
Perjalanan menuju rumahnya hari itu Naina lewati dengan memakan waktu cukup lama karena ia harus melewati gang demi gang agar penguntit itu tak lagi mengikutinya.
"Dimana Zeline?" Gumam Naina lalu melangkah masuk ke dalam rumah. "Amara... Dimana Zeline?" Tanya Naina saat bertemu dengan Amara yang sedang menonton TV.
"Zeline dibawa pergi sama Ibu ke supermarket, Kak." Balas Amara.
"Apa sudah lama?" Tanya Naina.
"Cukup lama. Sepertinya sebentar lagi Ibu dan Zeline akan sampai." Balas Amara.
*
Di depan sebuah gerobak martabak yang sedang ramai sore itu, Ibu dan Zeline yang sedang menunggu pesanannya bersama Zeline sambil duduk di atas motor tiba-tiba saja dikejutkan dengan kedatangan seorang pria yang masih menggunakan jas kerjanya.
"Hai Zeline..."
"Tak Danteng? Beli maltabak juga?" Tanya Zeline dengan wajah begitu senang saat melihat wajah pria di depannya.
"Tidak. Kakak hanya ingin menghampiri Zeline di sini."
"Menghampili Zel?" Wajah Zeline semakin senang.
Melihat cucunya sedang berbicara dengan seorang pria asing ibu pun angkat bicara. "Maaf, anda siapa?" Tanya Ibu sambil memasang wajah waspada.
"Agh, maaf. Sebelumnya perkenalkan, Ibu, nama saya Daniel. Teman Naina." Balas Daniel lalu mengulurkan tangannya pada Ibu.
***
Note.
Sebelum membaca cerita ini, ada baiknya teman-teman membaca lebih dulu info yang aku berikan di awal cerita jika jalan cerita ini memang cukup panjang. Satu lagi aku beritahu, jika aku bukanlah penulis yang handal di bidang ini, aku juga masih belajar. Saran dan semua masukan teman-teman aku terima. Namun jika teman-teman merasa bosan, aku tidak melarang untuk berhenti membaca ceritaku ini dari pada memberikan komentar yang membuat minat menulisku berkurang. Terimakasih😊