
"Tidak apa-apa... Ayah tidak jahat." Amara mengelus rambut Zeline dengan sayang.
"Ayo kembali ke kamar. Apa Zel mau Ayah tidak lagi marah?" Tanya Daniel.
Zeline mengangguk.
"Jika tidak mau, Zeline harus kembali ke kamar agar Kakak bisa meminta maaf dengan Ayah." Ucap Daniel dengan tersenyum. Senyuman yang dapat membuat putrinya sedikit tenang saat melihatnya.
Zeline menatap pada wajah Daniel. Tangisannya pun bertambah kencang saat melihat merah di kedua pipi Daniel.
"Atit ini..." ucapnya sambil memegang kedua pipi Daniel dengan tangan mungilnya.
Daniel tersenyum. "Jangan menangis lagi. Ini sungguh tidak sakit." Daniel menempelkan sebelah tangannya di tangan mungil Zeline.
Zeline menggeleng tak percaya. "Sakit tu." Ucapnya lagi bersikeras.
"Zeline..." Ibu yang melihat cucunya mulai menunjukkan sisi keras kepalanya seperti Naina pun mendekat pada Zeline. "Kembali ke kamar sama Kak Mara, ya. Setelah Kak Niel meminta maaf pada Ayah, Ibu akan memanggil Zel untuk keluar kembali menemui Kak Daniel." Ucap Ibu memberi pengertian cucunya.
"Nanti Ayah pukul itu." Ucap Zeline sambil menatap takut pada Ayah.
Ibu menggeleng. "Ibu akan menjaga Kak Daniel. Ayah juga tidak akan lagi memukul Kak Daniel." Ucap Ibu meyakinkan.
Zeline terdiam namun bibirnya masih mengeluarkan suara isakan.
"Ayo kembali ke kamar." Amara kembali mengulurkan kedua tangannya pada Zeline.
Zeline menatap pada wajah Daniel dengan wajah sendunya.
"Kembali ke kamar dulu, ya." Ucap Daniel lalu mencium kening putrinya. Kedua mata Daniel nampak berkaca-kaca saat melakukannya.
"Inda pukul Ayah, Bu?" Tanya Zeline memastikan kembali saat sudah berada digendongan Amara.
Ibu menggeleng seraya tersenyum. "Tidak akan..."
Setelah membujuk Zeline dengan susah payah, akhirnya gadis kecil itu pun mau menurut untuk ikut kembali masuk ke dalam kamar Amara. Suasana di dalam ruang tamu itu pun kembali tegang saat Ayah kembali menatap Daniel dengan nyalang.
"Paman boleh memukul saya kembali jika Paman menginginkannya. Namun saya mohon untuk tidak di sini." Ucap Daniel.
"Jika saya ingin, saya akan menghajarmu sampai kau tak lagi melihat bumi ini. Namun saya bukanlah seorang Kakek yang tega membuat cucu saya kehilangan sosok Ayahnya."
Daniel menatap Ayah dengan tatapan semakin bersalah. "Sekali lagi maafkan saya." Ucapnya lalu tertunduk.
"Kata maaf itu seharusnya kau berikan pada Naina putriku dan Zeline cucuku. Kau telah membuat anakku tersiksa batinnya selama ini dan cucuku tidak pernah merasakan kasih sayang dari ayahnya sejak dia lahir ke dunia ini." Ucap Ayah dengan tegas.
Daniel semakin tertunduk. Rasa bersalahnya pada Naina semakin besar saat mengetahui betapa tersiksanya wanita itu selama ini.
"Walau pun saya sangat marah saat mengetahui kau lah yang menghamili putri saya dan membuatnya batinnya sakit selama ini, namun saya tidak bisa menyalahkanmu sepenuhnya. Karena bagaimana pun juga, Naina juga bersalah dalam hal ini. Jika saja putri saya tidak termakan rayuan cinta dari pria seperti dirimu, dia tidak akan mengalami hal menyakitkan ini." Ibu yang sejak tadi diam pun angkat bicara.
"Saya bisa melihat jika saat ini kau benar-benar merasa bersalah pada putri kami dan juga cucu kami. Walau pun sudah sangat terlambat untuk kau melakukannya, saya cukup menghargai usahamu untuk meminta maaf."
***
Jangan lupa berikan dukungan dengan cara like, komen, gift dan votenya ya untuk lanjut ke bab berikutnya.
Sambil menunggu cerita Naina dan Daniel update, silahkan mampir ke karya aku yang baru yang berjudul Bukan Sekedar Menikahi. Terimakasih teman-teman🌹