
Sebelum masuk ke dalam ruangan kerjanya, Naina memilih lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya yang sembab karena cukup lama menangis. Ia tidak ingin melihat kondisi wajahnya yang memprihatinkan membuat teman-temannya bertanya-tanya.
Setelah merasa cukup walau pun sembab di wajahnya belum sepenuhnya menghilang, Naina pun keluar dari dalam kamar mandi. Saat masuk ke dalam ruangan kerjanya, untung saja Aga dan yang lainnya masih sibuk pada pekerjaannya masing-masing sehingga tidak memperhatikan kehadirannya.
Tak berselang lama, waktu istirahat siang pun tiba. Sasa yang seperti biasanya selalu menghampiri meja kerja Naina dibuat terkejut saat melihat wajah Naina yang sembab.
"Naina... ada apa dengan wajahmu?" Tanya Sasa lalu memegang kedua pipi Naina.
"Memangnya wajahku kenapa?" Tanya Naina yang belum menyadari maksud ucapan Sasa.
"Wajahmu sembab dan kau seperti habis menangis." Suara Sasa yang terdengar cukup keras itu pun berhasil menarik perhatian Aga, Dimas dan Thoriq yang masih duduk di kursi kerja mereka masing-masing.
"Aku tidak kenapa-kenapa Sasa. Dan aku tidak habis menangis." Balas Naina berbohong. Wajahnya pun kini dibuat panik sebab Aga sudah berjalan ke arah mejanya.
"Ada apa denganmu, Naina?" Tanya Aga sambil memperhatikan wajah kekasihnya. "Benar kau baru saja menangis?" Tanya Aga yang dapat melihat dengan jelas wajah sembab Naina.
Naina dengan cepat menggeleng. "Tidak... aku tidak habis menangis." Balas Naina.
"Kalau tidak habis menangis, lalu kenapa wajahmu bisa sembab?" Cecar Sasa tak percaya.
"Aku juga tidak tahu. Mungkin saja karena aku mengantuk membuat wajahku menjadi sembab." Balas Naina tak masuk akal.
"Naina kau jangan berbo—" ucapan Sasa melayang begitu saja di udara sebab Aga sudah kembali berbicara.
"Sudahlah. Jika Naina berkata dia baik-baik saja tidak perlu lagi mempertanyakannya." Titah Aga. Walau pun turut tak mempercayai perkataan Naina, namun Aga tak ingin membuat Naina merasa tersudutkan dengan pertanyaan mereka.
"Kau benar tidak apa-apa Naina?" Tanya Dimas yang turut merasa tak percaya.
Naina mengangguk. "Aku baik-baik saja."
"Kalau begitu ayo kita ke kantin. Mungkin saja karena Naina merasa sudah sangat lapar membuat wajahnya menjadi sembab. Bukanlah begitu Naina?" Seloroh Thoriq yang sebenarnya juga tidak percaya namun ingin memecahkan ketegangan di antara mereka.
"Kau ini...!!" Dengus Sasa merasa kesal lalu mencubit kecil pinggang Thoriq.
"Ayo Naina." Ucap Aga lalu mengulurkan tangannya pada Naina.
Naina menerimanya lalu bangkit dari duduknya. Aga dan Naina pun lebih dulu berjalan meninggalkan Sasa, Dimas dan Thoriq di belakangnya.
"Aku tidak percaya jika Naina sedang baik-baik saja. Wajahnya itu sangat sembab seperti orang habis menangis." Bisik Sasa di telinga Thoriq.
"Tapi kapan dia menangis? Jelas-jelas dari tadi dia bersama kita di ruangan ini dan aku tidak mendengarkan suara tangisannya." Balas Thoriq cukup bingung.
Sasa nampak berpikir. "Apa kau tidak ingat jika Naina baru saja kembali dari ruangan Presdir tadi? Apa jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi pada Naina di ruangan Presdir sehingga membuat Naina menangis?" Ucap Sasa menebak-nebak.
"Kau jangan berpikir yang macam-macam! Lebih baik kita segera pergi ke kantin!" Timpal Dimas lalu menarik tangan Sasa.
***