
Naina semakin tertunduk. Tidak ada gunanya lagi ia menyembunyikan identitas ayah kandung dari putrinya. Sudah saatnya ia memberitahukannya kepada keluarga yang sangat menyayanginya.
"Ibu benar. Pria itu adalah ayah kandung Zeline." Balas Naina menatap sendu pada ibu.
Helaan nafas Ibu terdengar kasar. Walau pun sudah menebak jika Daniel adalah ayah kandung Zeline, namun tetap saja Ibu merasa cukup terkejut saat mengetahui kenyataannya.
"Naina... Bagaimana pun kesalahan pria itu di masa lalu, namun kau tidak bisa menolak kenyataan jika dia adalah ayah kandung dari anakmu. Kau juga tidak berhak menjauhkan Zeline dari ayah kandungnya. Pria itu mempunyai hak dekat dengan putrinya." Ibu mencoba memberi pengertian pada putrinya.
"Tidak, Bu. Nai tidak akan membiarkan Daniel berusaha mendekati Zeline. Nai tidak ingin dia berniat buruk pada anak Nai, Bu." Naina menggeleng. Tidak setuju dengan pendapat ibunya.
"Dengarkan Ibu, Nai." Ibu memegang kedua bahu Naina. "Walau pun Ibu baru pertama kali bertemu dengannya, namun Ibu dapat merasakan jika Daniel tulus menyayangi Zeline. Ibu tidak melihat sedikit pun niat jahat dari wajahnya, Naina. Lagi pula Zeline adalah anak kandungnya, tidak mungkin pria berpendidikan seperti Daniel tega menyakiti anaknya sendiri." Ibu kembali mencoba meyakini Naina.
Naina dibuat terdiam. Perasaan Ibunya tidak pernah salah selama ini. Dan Naina pun tak bisa lagi membantah ucapan ibunya saat mengingat ucapan Daniel yang mengatakan jika ia benar-benar menyayangi putrinya.
"Berdamailah dengan masa lalumu, Naina. Walau pun Ibu tidak tahu hal apa yang mendasari kau dan Daniel melakukan perbuatan dosa hingga membuatmu hamil di luar nikah, namun dari kejadian itu tetap saja kau turut bersalah. Daniel tidak dapat disalahkan sepenuhnya jika kau sebagai seorang wanita dapat menolak keinginannya." Ibu berkata lembut namun sedikit menekan setiap kata-katanya.
Ini semua juga salahku. Salahku yang dengan bodohnya terbuai dengan kata cinta. Jika saja aku menolak keinginan Daniel waktu itu, mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Naina pun turut mengakui kesalahannya. Sebagai seorang wanita yang tidak bisa menjaga kehormatannya dengan mengatasnamakan cinta.
Naina menangis kembali dalam diam. Dirinya benar-benar lemah jika mengingat kejadian masa lalunya yang kelam. Namun Naina pun turut mensyukurinya karena kini ada makhluk kecil yang membuat hidupnya lebih berarti. Semangat hidupnya. Malaikat kecilnya. Jantung hatinya. Zeline putrinya.
Tok
Tok
Tok
"Zeline... Kenapa kau mengetuk pintu kamar Ibu?" tanya Amara menatap Zeline yang kini terus memukul pintu kamar Ibunya. Amara pun mengecilkan suara televisi yang sedang ia tonton.
"Ibu dan Tak Nai lama sekali di dalam Tak. Zel mau susu ini." Rungutnya lalu kembali memukul pintu kamar Ibu.
Ceklek
Pintu kamar Ibu pun terbuka dan menampilkan wajah Naina dan Ibu.
"Lamana Tak bicala... Nanti Tak Aga kebulu datang itu loh." Ucap Zeline menunjuk pada pintu keluar. "Zel mau susu ini." Ucapnya mengucapkan keingingannya.
"Astaga... Maaf Kakak lupa belum membuatkan susu untuk Zel." Balas Naina.
"Sama Ibu ja minum susu Tak. Tak Nai kan mau pelgi itu." Ucap Zeline.
Dan tak lama suara klakson mobil Aga pun sudah terdengar.
"Tu Tak Aga datang. Pelgi ja Tak. Zel sama Ibu ja tidulna." Ucap Zeline lalu merentangkan kedua tangan mungilnya pada Ibu.
***