Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Tergila-gila padanya


"Tak Nai..." Zeline berlari dengan kencang keluar dari dalam rumah saat mendengar suara motor Naina masuk ke dalam garasi. "Tak Nai..." Serunya saat sudah berada di depan garasi.


Naina menolehkan kepalanya ke belakang. Senyuman terkembang di wajah Naina melihat kehadiran putrinya. Rasa lelahnya hilang begitu saja melihat senyuman putri kecilnya. "Zeline? Ada apa?" Tanya Naina.


"Dah pulang Tak Nai?" Wajah Zeline nampak begitu senang.


"Sudah." Balas Naina lalu turun dari motor. Mendekat ke arah putrinya lalu menggendongnya. "Kangen ya?" Tanya Naina mencium gemas pipi bulat putrinya.


Kepala Zeline mengangguk. "Kangen loh. Senang juga ini." Balas Zeline lalu mengecup kedua pipi Naina.


Naina tersenyum. Berjalan masuk ke dalam rumahnya sambil menggendong Zeline. Kondisi ruang tamu rumahnya sore itu sudah nampak lapang karena sofa sudah dipindahkan ke ruang tengah agar ruangan tamu lebih lapang untuk menampung keluarga Daniel yang akan datang nanti.


"Zel senang kenapa?" Tanya Naina.


"Senang kalna Tak Niel mau datang lumah nanti." Balasnya.


"Dari mana Zel tahu?" Tanya Naina bingung.


"Dengel tadi Ibu dan Tak Mala celita di dapul." Balasnya. Zeline pun kembali mengecup pipi Naina. "Seneng Zel tuh. Tak Niel main sini lagi. Ayah janji inda pukul lagi loh." Curhatnya.


Naina tertegun. Melihat wajah putrinya yang terlihat sangat senang hanya karena mengetahui Daniel akan datang ke rumah mereka membuat Naina semakin yakin untuk mengungkapkan jati diri Zeline yang sebenarnya.


"Naina, kau sudah pulang?" Tanya Ibu yang baru saja keluar dari dapur.


"Sudah, Bu." Balas Naina. Meraih tangan ibu lalu mengecupnya.


"Tulun, Tak." Pinta Zeline.


Naina mengangguk lalu menurunkan Zeline. "Ibu habis ngapain di dapur?" Tanya Naina.


"Habis memotong kue dan mempersiapkan apa saja yang belum selesai untuk acara nanti malam." Balas ibu.


Naina mengangguk paham. "Ibu pasti kerepotan. Maafkan Nai yang tidak membantu Ibu." Naina merasa sungkan.


Naina tersenyum. Perasaan haru mulai menyelimuti dadanya saat melihat betapa tulusnya tatapan ibunya kepadanya.


"Ibu..." Naina berkaca-kaca.


"Naina, ada apa?" Ibu nampak bingung melihat reaksi putrinya.


Naina tiba-tiba memeluk erat tubuh ibunya. "Terimakasih untuk kasih sayang Ibu selama ini. Ucap Naina yang sudah menangis.


"Naina... ada apa?" Ibu mengelus punggung putrinya.


"Napa nangis Tak?" Zeline yang sejak tadi memperhatikan wajah Naina pun bertanya.


Naina melerai pelukannya. "Tidak apa-apa. Kakak hanya bersyukur mendapatkan kasih sayang yang besar dari Ibu." Balas Naina.


"Naina..." ibu tersenyum. Wanita yang telah melahirkan Naina itu dapat merasakan apa yang dirasakan Naina saat ini.


Naina turut tersenyum. Menyalurkan rasa terimakasihnya pada ibunya melalui tatapan matanya.


"Sekarang masuklah ke kamar dan bersiap-siap untuk acara nanti malam." Ucap Ibu.


Naina mengangguk. "Baik, Bu." Balasnya. Pandangannya pun beralih pada Zeline yang masih menatapnya dengan bingung. "Ayo masuk ke kamar." Ajak Naina.


Zeline mengangguk. "Pakai baju pa ya Tak? Zel mau tantik ini jumpa Tak Niel." Ucapnya malu-malu.


Mendengar ucapan genit putrinya membuat Naina hanya bisa menghembuskan nafas kasar di udara. Entah mengapa makin hari Zeline semakin tergila-gila pada sosok Daniel. Dan apa yang dirasakan Zeline saat ini sama persis seperti apa yang dirasakannya beberapa tahun yang lalu pada Daniel.


***


Berikan vote dan giftnya dulu yuk untuk menyambut kedatangan Daniel di bab berikutnya🌹