TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
97


Faris sudah terpesona dengan kecantikan Vanes saat acara seserahan dan kini Ia kembali terpesona saat melihat Vanes sudah mengenakan gaun pengantin lengkap dengan aksesorisnya.


Kecantikan Vanes saat ini bertambah berkali kali lipat hingga membuat Faris gugup saat akan mengucapkan ijab dan kabul.


Faris menjabat tangan Wira, memperlihatkan tangan yang gemetar juga bibirnya yang kaku.


"Mau sekarang atau mau tarik nafas dulu?" tanya penghulu yang berada disamping Wira seolah menyadari kegugupan Faris


"Sekarang saja pak, saya sudah siap." ucap Faris penuh keyakinan.


Saya terima nikahnya Vanessa putri wiranto binti Wiranto sudrajat dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang senilai 50 juta dibayar tunai.


Sah...


Sah...


Sah...


Dengan suara lantang dan lancar, akhirnya Faris berhasil mengucapkan ijab dan kabul. Kini Ia sudah sah menjadi seorang suami dan memiliki hak atas gadis cantik yang ada disampingnya itu.


Vanes segera mengambil tangan Faris untuk Ia cium setelah itu Faris membalas dengan mengecup kening Vanes.


Tanpa disadari, air mata keluar dari mata kedua insan yang sedang berbahagia itu.


Rasanya Faris masih tak percaya Ia bisa menikahi Vanes namun mendadak dadanya terasa sesak mengingat Bapaknya yang sudah meninggal dan tidak bisa melihat kebahagiaannya saat ini.


Faris dan Vanes bersiap untuk sungkem pada orangtua mereka, meminta maaf serta meminta restu agar keduanya bisa mengarungi biduk rumah tangga bersama.


"Bahagiakan Vanes, hanya itu yang Bapak harapkan dari kamu." ucap Wira saat Faris sungkem padanya.


Selesai acara sungkem, mereka menyambut tamu yang berdatangan. kebanyakan tamu yang datang adalah keluarga juga beberapa rekan bisnis Wira.


"Kau terlihat sangat cantik." bisik Faris memuji Vanes membuat Vanes tersipu malu.


"Dasar perayu,"


"Aku tidak merayu, aku mengatakan yang sejujurnya."


Vanes tersenyum tipis.


Sara terlihat menghampiri Vanes dan Faris.


"Kenalkan ini sepupuku, Sara." kata Vanes memperkenalkan Sara pada Faris.


"Ohh hay, aku Faris." Faris tersenyum mengulurkan tangannya yang langsung dibalas oleh Sara.


"Ku pikir kau pengusaha ternyata kau dosen?" tanya Sara.


Faris mengangguk, "Ya aku memang seorang dosen."


Sara melihat Faris dari atas sampai bawah dan jujur itu membuat Faris merasa risih namun Faris mencoba biasa saja tidak memperlihatkan kerisihannya.


Sara segera pergi setelah mengatakan itu pada Faris, Ia memilih keluar dari hotel dan duduk ditaman hotel.


Sara mengambil sebatang rokoknya lalu segera Ia nyalakan dan menghisapnya perlahan.


Uhuk... Uhuk... Sara terbatuk dan langsung membuang rokoknya.


Sara terkejut saat ada yang mengulurkan air mineral untuknya dan saat Ia melihat siapa itu ternyata adalah Ken.


"Jauhkan dirimu dari ku!" pinta Sara menatap Ken penuh kebencian.


Ken meletakan air mineral dibangku panjang yang diduduki oleh Sarah dan setelah itu Ia kembali ke dalam tanpa mengatakan apapun.


Baru saja masuk ke dalam, Ken tak sengaja menabrak seseorang hingga dia jatuh ke lantai.


"Aduhh... hey apa kau tidak punya mata?" umpat gadis itu yang kini dibantu berdiri oleh Ken.


"Maafkan Saya Nona saya tidak sengaja."


Gadis yang tadinya tak melihat Ken kini sudah melihat Ken, menatapnya dengan kagum.


"Kau tamu undangan?" tanya gadis itu pada Ken.


"Bukan Nona, saya anak buahnya Tuan Wira."


"Ohh baiklah Rani, sekali lagi saya minta maaf." ucap Ken yang langsung diangguki oleh Rani.


"Kalau begitu saya permisi." pamit Ken melewati Rani begitu saja.


"Dia tidak hanya tampan tapi juga sopan." puji Rani yang masih menatap punggung Ken hingga Ia memukul jidatnya karena mengingat sesuatu, "Astaga aku belum menanyakan namanya."


Tanpa malu, Rani berlari menghampiri Ken yang kini sedang berkumpul diluar bersama para anak buah Tuan Wira yang lain.


"Maaf apa aku menganggumu?" tanya Rani yang kini sudah berada didepan Ken.


Ken menggelengkan kepalanya, "Ada yang bisa saya bantu?"


"Umm, aku hanya ingin tahu namamu."


"Nama saya Ken."


"Wah Ken... Nama yang keren." puji Rani "Bisakah kita berfoto bersama?" pinta Rani membuat Ken mengerutkan keningnya.


"Jika tidak bisa tidak apa apa, aku tidak pernah memaksa orang."


Ken tersenyum, "Baiklah, bagaimana kalau kita berfoto ditaman?"


Rani mengangguk setuju, Ia mengikuti langkah kaki Ken, pergi ke taman yang ada dihotel itu.


"Indah sekali disini." gumam Rani segera mengambil ponselnya lalu siap berpose ditempat yang viewnya indah.


Cekrek.... Cekrekk... Cekrekk... Ada 3 foto selfi yang diabadikan oleh Rani.


"Untuk apa foto itu?" tanya Ken penasaran.


"Aku ingin memamerkan pada teman temanku jika aku bertemu dengan pria tampan di kota, mereka pasti akan iri padaku." balas Rani lalu tersenyum lebar.


Ken tersenyum geli, gadis didepannya ini sangat manis namun juga terlihat kekanakan.


"Apa kau menyukaiku?" tanya Ken seketika membuat Rani gugup.


"Ti tidak."


Ken mendekatkan wajahnya, "Benarkah?"


Rani benar benar gugup, Ia bahkan merasa tubuhnya kaku tidak bisa digerakan.


"Ada sesuatu di pipimu," ucap Ken menyentuh pipi Rani dan jika orang lain melihat keduanya terlihat sedang berciuman seperti yang saat ini dilihat oleh Sara.


Saat Sara akan kembali ke dalam, Sara tak sengaja melihat Ken dengan seorang gadis rombongan keluarga Faris.


Sara mengepalkan tangannya, "Dia sudah menodai ku lalu sekarang merayu gadis lain, apa dia merasa tampan?" omel Sara kembali masuk ke dalam.


"Aku sudah mendaparkannya, ini semut." Ken memberikan semut yang masih hidup pada Rani, "Apa karena kau manis jadi banyak semut berkeliaran disini." Ken kembali menyentuh pipi Rani namun hanya sebentar lalu Ken pergi meninggalkan Rani.


"Apa itu tadi?" Rani terlihat masih bengong dengan perlakuan Ken. "Dia bahkan menyentuhku dan mengatakan aku manis? Aaa aku bisa gila." ucap Rani kini sudah sadar dan tersenyum lebar.


Rani kembali masuk ke dalam, Ia melihat Ken kembali ke tempatnya. Mereka sempat bertatapan, Ken bahkan mengedipkan mata pada Rani membuat hati Rani berbunga bunga.


Setelah tamu banyak yang pulang dan cukup sepi, Rani menghampiri Faris dan Vanes.


"Ternyata Kakak iparku sangat cantik pantas saja membuat Mas Faris tergila gila." puji Rani lalu menjabat tangan Vanes, "Aku Rani sepupu Faris." Rani memperkenalkan diri.


"Kau juga sangat cantik Rani." puji Vanes.


"Benarkah? Tapi Mas Faris tidak pernah memujiku cantik sekalipun." protes Rani.


"Karena kamu memang tidak cantik." ejek Faris.


Rani mendengus sebal, "Jika disini aku memang tidak cantik tapi jika dikampung aku lah yang paling cantik." ucap Rani menjulurkan lidahnya lalu pergi meninggalkan Faris dan Vanes yang kini tertawa.


Rani kembali melihat Ken namun Ken tampak buru buru keluar membuat Rani penasaran kemana Ken pergi.


Ken tampak memasuki mobil dan pergi meninggalkan hotel.


"Acaranya bahkan belum selesai, kenapa dia sudah pergi?"


Bersambung...