TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
143


Wira menatap kecewa ke arah Bik Sri. Ia pikir Bik Sri akan menerima lamarannya namun ternyata Wira salah.


Bik Sri menolak lamaran Wira meskipun Wira memiliki banyak aset dan harta warisan yang mungkin akan dimiliki Bik Sri jika menikah dengan Wira namun ternyata hal itu tidak membuat Bik Sri tergoda sama sekali.


"Sekali lagi maafkan saya Tuan, rasanya saya masih takut untuk memulai pernikahan kembali." ucap Bik Sri menunduk tak berani menatap ke arah Wira.


Vanes tersenyum lalu mengelus punggung Bik Sri, "Nggak apa apa Bibik, nggak perlu takut atau sungkan." ucap Vanes sedikit membuat Bik Sri merasa tenang.


"Nanti kalau udah merasa ada getaran getaran cinta sama Papa boleh kok diungkapin nggak harus sekarang, ya nggak Pa?" Vanes mengedipkan mata ke arah Wira seolah memberi kode pada Wira.


"Iya, nggak apa apa sekarang ditolak tapi besok harus diterima." kata Wira membuat semua orang terkekeh.


"Dih, Papa maksa." omel Vanes.


"Saya tidak dipecat kan?" tanya Bik Sri memastikan dengan raut wajah takut.


"Dipecat." balas Wira tegas membuat semua orang menatap ke arahnya.


"Dipecat dari hatiku karena lamaran ku ditolak." tambah Wira yang kembali membuat semua orang terkekeh.


Wira kembali ke kamarnya dengan diantar oleh Vanes.


"Kau lihat, dia bahkan menolak menjadi nyonya besar dirumah ini." ucap Wira.


Vanes tersenyum, "Apa itu yang membuat Papa jatuh cinta padanya?"


Wira mengangguk, "Dia berbeda dari wanita lainnya."


Vanes merasa setuju dengan ucapan Wira, "Jika wanita lain pasti tidak akan menolak Papa karena menikah dengan Papa sama saja menikahi aset berjalan."


Wira tertawa, "Masalahnya dia tidak mencari hartaku."


"Jadi apa Papa akan menunggunya?"


Wira mengangguk, "Tentu saja, aku akan menunggunya untuk ku nikahi dan jika dia tetap tidak mau, aku tidak akan menikah dengan siapapun."


"Uuu papa sangat romantis dan setia." goda Vanes.


"Jika Papa tidak romantis mungkin Papa tidak akan mendapatkan Mama mu yang sudah melahirkan putri secantik ini." puji Wira.


Setelah cukup lama mengobrol dengan Wira, Vanes keluar dari kamar Wira dan pergi ke kamarnya.


Vanes membuka pintu kamarnya, melihat Faris tengah sibuk menatap layar laptop.


"Pasti sedang mengecek cctvnya." celetuk Vanes mendekati Faris dan melihat memang benar Faris tengah mengecek rekaman cctv.


"Apa pemikiranku salah?" gumam Faris saat menonton rekaman cctv dan tidak ada yang mencurigakan diantara Ken dan Alea.


"Mungkin saja mas, jika sampai batas waktu yang kita tentukan tidak ada apapun, sepertinya kau harus minta maaf pada mereka." kata Vanes mengingatkan.


Faris mengangguk, "Ya aku akan melakukannya, tak peduli jika harus melukai harga diriku."


Vanes tertawa lalu menggelengkan kepalanya, "Mungkin karena Mas dan Ken belum saling mengenal jadi merasa Ken itu pria yang brengsek."


Faris kembali mengangguk, "Semoga saja apa yang aku tuduhkan pada Ken selama ini salah, aku benar benar kasihan dengan Sara. Dia sedang berduka saat ini."


Vanes mengangguk setuju lalu menepuk bahu suaminya.


Sementara itu dirumah sakit, Ken masih setia menunggu Sara diruangannya. Ia bahkan belum makan seharian ini mengingat Ia sedang berduka saat ini.


"Pergilah untuk makan." kata Sara dengan suara lemah.


Sara berdecak, "Aku sudah baik baik saja, kau juga harus memikirkan kesehatanmu." ucap Sara lagi masih dengan suara lemah.


Ken tak menjawab, sejujurnya Ia juga sangat lapar saat ini namun Ia masih enggan meninggalkan Sara diruangannya dalam keadaan sadar.


"Aku akan pergi mencari makan jika kau sudah tidur, aku tidak mau melihatmu melamun sendirian jika aku keluar sekarang."


Lagi lagi Sara dibuat tersenyum mendengar perhatian Ken. Ia merasa sangat dicintai oleh Ken dan membuat Sara semakin jatuh cinta pada Pria itu.


"Baiklah, aku akan tidur sekarang." gumam Sara lalu memejamkan mata.


Baru beberapa menit Ken sudah mendengar dengkuran halus milik Sara yang menandakan jika istrinya sudah terlelap.


"Apa kau pura pura tidur huh?" ucap Ken sambil mengelus halus pipi Sara.


Tidak ada respon dari Sara membuat Ken menjadi yakin jika Sara benar benar sudah terlelap.


Ken mengecup kening Sara lalu keluar dari kamar rawat Sara.


Baru beberapa langkah keluar dari pintu, Ken melihat Alea datang membawa tas jinjing dan rantang makanan.


"Untuk apa kemari?" tanya Ken sedikit ketus.


"Membawakan baju ganti Nona dan Tuan serta ada titipan makan malam untuk Tuan." balas Alea sedikit menunduk.


Alea sedikit terkejut dengan perubahan sikap Ken. Sebelumnya Ken bersikap biasa padanya namun setelah Ia membuat kesalahan tidak minum obat dari Ken, pria itu berubah sikap dan sangat acuh padanya.


Ken mengambil tas dan rantang yang dibawa oleh Alea. Ken membawa masuk tas berisi pakaian ganti dan rencananya Ia ingin makan bekal yang dibawakan Alea di kantin rumah sakit agar tak menganggu Sara.


Saat Ken keluar lagi, Alea masih berdiri didepan pintu ruangan.


"Kenapa masih disini?"


Dengan berani Alea bertanya, "Apa Tuan marah?"


Ken tersenyum sinis, "Untuk apa pula aku marah padamu?"


"Tuan sangat berbeda, tidak seperti biasanya." ungkap Alea.


"Memang biasanya aku seperti apa?" Ken masih sinis lalu kembali berbicara, "Ah jangan jangan kau merasa bangga karena aku menudurimu dan kau ingin hubungan kita lebih dari sekedar teman ranjang?" tebak Ken lalu menoyor dahi Alea, "Jangan berharap seperti itu karena kau akan kecewa, aku tidak mungkin menyukai gadis dekil sepertimu."


Deg... Jantung Alea seolah berhenti berdegup dan hatinya terasa sakit mendengar ucapan Ken. Memang benar jika Ken hanya menginginkan tubuhnya tapi bukankah terdengar kejam jika Ken harus mengatainya gadis dekil?


"Sudahlah, pulang saja sana. Aku sedang malam melihatmu."


Alea kembali mendongak, menatap Ken, "Apa Tuan tidak akan menginginkan saya lagi?"


Ken menghela nafas panjang, "Aku tidak tahu, saat ini aku sedang malas melakukannya denganmu."


Mendadak bibir Alea menyunggingkan senyum, Alea merasa Ken sedang malas saat ini bukan berarti tidak menginginkan dirinya lagi.


"Saat saya masuk, saya melihat ada rumah kosong dibelakang rumah sakit ini, jika Tuan mau... saya akan menunggu disana."


Ken menatap Alea malas, "Ku bilang aku tidak mau, terserah jika kau mau menunggu disana." ucap Ken lalu berjalan meninggalkan Alea.


Kini Ken sudah berada dikantin. Ia tidak bisa menikmati makan malamnya. Rasanya Ia ingin menuruti ucapan Alea namun disisi lain, Ia sedang berduka saat ini, tidak mungkin jika harus berhubungan dengan gadis lain sementara calon bayinya baru saja meninggal.


"Sial, bagaimana bisa aku tergoda oleh gadis dekil itu. Tidak Ken, kau harus bertahan. Ingatlah kau sudah kehilangan anakmu karena perselingkuhan ini, jangan sampai kau kehilangan Sara!"


Bersambung...