
Arka baru selesai membuang hajatnya, Ia segera menghampiri Nimas yang saat ini duduk dibangku taman resort.
Ada yang aneh, Arka melihat ada yang aneh dari Suci.
Gadis itu terlihat melamun, menatap ke depan dengan tatapan mata kosong.
"Ada apa?" tanya Arka yang langsung duduk disamping Nimas.
Nimas tak menjawab, mungkin masih belum sadar jika Arka ada disampingnya.
"Sayang..." suara Arka terdengar bersamaan dengan tangan Arka yang terulur mengenggam tangan Nimas dan barulah Nimas sadar jika Arka sudah kembali.
Arka menatap Nimas heran, "Ada apa? Kok kamu melamun sampai nggak sadar aku datang."
Nimas tak menjawab, Ia menatap Arka dengan tatapan tak biasa membuat Arka semakin bingung dengan apa yang terjadi pada Nimas.
Satu menit dua menit tiga menit hingga tangan Nimas terulur memberikan ponsel dan dompet Arka, "Migrain ku kambuh, bisa nggak kita pulang sekarang?"
Raut wajah Arka berubah kecewa, Ia masih sangat merindukan Nimas.
"Kita periksa di klinik trus minta obat ya?" tawar Arka yang langsung di gelengi oleh Nimas.
"Aku cuma butuh tidur biar bisa sembuh."
"Kalau gitu aku sewain kamar buat kamu istirahat ya?"
Nimas menatap Arka dengan tatapan tajam.
"Aku nggak bakal apa apain kamu, cuma biar kamu bisa istirahat." jelas Arka tak ingin Nimas salah paham.
Nimas tetap menggelengkan kepalanya, "Enggak, aku mau pulang aja."
Arka menghembuskan nafas panjang, "Aku masih kangen sama kamu."
Nimas hanya diam saja, tak menjawab ucapan Arka.
"Kamu marah sama aku? Aku minta maaf kalau ada salah."
Nimas menggelengkan kepalanya, saat ini Ia menahan tangisnya yang sedari tadi ingin keluar. Nimas hanya ingin sendiri dan tidak mau mendengar penjelasan apapun dari Arka.
"Ya sudah kalau mau pulang sekarang, minggu depan aku usahakan kesini lagi." ucap Arka akhirnya karena Nimas tak kunjung menjawab dan Arka juga tak ingin memaksa Nimas.
Nimas beranjak dari duduknya, berjalan lebih dulu meninggalkan Arka membuat Arka yakin jika Nimas sedang marah saat ini hanya saja Ia tak tahu apa yang membuat Nimas marah padanya.
Keduanya memasuki mobil, Arka segera melajukan mobilnya meninggalkan resort menuju rumah Nimas.
"Berhenti di gang saja." pinta Nimas.
"Aku ingin mengantarmu kerumah."
Nimas menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu, sampai gang saja."
"Kamu kenapa? Marah?"
Nimas menggelengkan kepalanya, "Aku sudah bilang aku lagi migrain."
"Kalau ada yang mengganjal lebih baik bilang jangan di simpan sendiri." kata Arka.
Nimas mengangguk, "Tapi sekarang aku baik baik saja."
Arka menghela nafas panjang, tidak memaksa Nimas untuk bercerita.
Mobil mereka sudah sampai di gang masuk rumah Nimas.
Nimas bersiap untuk turun namun Arka menahan tangan Nimas agar gadis itu tidak buru buru keluar.
"Aku akan kembali minggu depan."
Nimas mengangguk, "Jika sibuk tidak usah datang."
Kali ini Arka benar benar marah dengan sikap Nimas, "Apa maksudmu? Katakan apa maksudmu?"
Nimas sempat tersentak dengan ucapan Arka yang sedikit membentak.
"Aku hanya mengatakan itu kenapa harus marah dan membentak ku?"
Arka tak mengubris ucapan Nimas, Ia kembali melajukan mobilnya membuat Nimas langsung panik.
"Kemana kita? Bukankah aku bilang ingin pulang?"
"Sebelum kau mengatakan apa yang terjadi, aku tidak akan membawamu pulang!"
"Aku migrain, aku-"
"Bohong!" potong Arka sambil menatap Nimas dengan tajam.
Nimas menghela nafas panjang, tadinya Ia tak ingin cerita dengan Arka namun melihat Arka ikut tatrum, Nimas akhirnya mengatakan jika baru saja menjawab panggilan dari ponsel Arka.
Arka tersenyum sumringah, ucapan Nimas terdengar cemburu membuatnya senang meskipun ada sedikit rasa khawatir karena Nimas mengetahui tentang Suci yang mengejarnya.
"Dia teman sekelasku, dia memang suka blak blakn jika bicara, memanggil orang seenaknya." jelas Arka.
"Apa dia menyukaimu?"
Arka menggelengkan kepalanya, "Aku juga tidak tahu."
Nimas hanya menghela nafas panjang.
Arka tersenyum, "Aku tahu kamu cemburu dan marah tapi setidaknya jelaskan apa yang terjadi padaku agar tidak ada kesalahpaham di antara kita."
Nimas menatap Arka, "Lalu bagaimana jika terbalik, kau yang menerima panggilan di ponselku?"
"Tentu saja aku akan mempertanyakan siapa itu dan kalau perlu aku harus bertemu dengannya!"
Nimas langsung tersenyum geli, apa yang dikatakan oleh Arka ada benarnya juga. Seharusnya cerita dengan Arka sejak awal pasti Ia tidak akan salah paham seperti tadi.
"Maaf, aku sangat kesal tadi karena dia memanggilmu seperti itu."
Arka mengangguk mengerti, "Aku bukannya ingin menyembunyikan apapun dari kamu, aku hanya tidak ingin kamu khawatir dan berakibat membuat curiga dan merusak hubungan kita. Aku ingin kita saling percaya."
Nimas mengangguk setuju, "Baiklah baiklah."
"Jadi apa kau masih migrain?" tanya Arka yang sontak membuat Nimas tertawa karena ketahuan berbohong.
Seharian Arka dan Nimas pergi ke beberapa tempat wisata hingga tak terasa hari sudah petang. Waktunya Arka mengantar Nimas pulang.
"Rasanya masih rindu." gumam Arka seolah tak rela jika harus berpisah dengan Nimas.
"Minggu depan janji datang lagi?" tanya Nimas yang langsung diangguki oleh Arka.
"Aku usahakan untuk datang lagi."
"Kalau begitu aku harus turun sekarang." ucap Nimas sambil melihat salah satu tangannya yang masih digenggam oleh Arka.
Dengan berat hati, Arka melepaskan tangan Nimas, "Baiklah baiklah."
"Aku akan keluar sekarang." ucap Nimas.
Baru ingin membuka pintu, Arka kembali menahan Nimas dan cup... Satu kecupan mendarat di pipi Nimas.
"Jangan tergoda dengan pria lain, aku selalu memikirkanmu."
Nimas tersenyum, "Baiklah baiklah."
Setelah Nimas keluar dan memasuki rumah, Arka melajukan mobilnya meninggalkan gang masuk rumah Nilam. Arka tak langsung pulang melainkan Ia pergi ke tempat tongkrongan dimana ada banyak teman temannya disana.
"Wihh Si Arka udah jadi Okb sekarang." teriak teman teman Arka yang baru saja melihat Arka turun dari mobil.
Arka berdecak, "Dari pada kalian ngeledek mendingan makan camilan ini!" Arka mengulurkan 2 kantong plastik camilan yang sengaja Ia beli untuk teman temannya.
"Nah gini dong, rokoknya ada nggak?" celetuk salah satu teman Arka.
"Ada didalam."
Teman teman Arka semakin bersorak saat tahu Arka membeli satu slop rokok untuk mereka.
"Gila hidup Lo enak ya sekarang?"
Arka hanya tersenyum.
Arka memandangi temannya satu persatu hingga Ia merasa ada yang kurang, "Nanang mana?"
"Semenjak Lo ke kota, Nanang jarang kumpul sama kita disini."
Arka mengerutkan keningnya, "Kok gitu?"
"Tau deh, eh Lo masih hubungan sama Nimas?"
Arka mengangguk,
"Hati hati aja, kayaknya Si Nanang ngicer Nimas."
Sontak Arka langsung tertawa, "Nggak mungkin!"
Bersambung.
.
Jan lupa like vote dan komen yaa...
judulnya tergoda ipar tapi karena author menikmati ceritanya jadi kayak cerita keluarga ya? Wkwkwk
maafkeun ya gaes... Semoga kalian suka kalau bosen skip aja ...