
Pesanan nasi goreng Arga datang bersamaan dengan Ken yang keluar dari tenda lalu berjalan mendekati Arga dan Sara.
Ken bahkan kini ikut duduk didepan Sara dan Arga.
Sara menatap ke arah Arga dimana jelas sekali terlihat jika pria itu sangat kesal saat ini melihat kedatangan Ken.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Ken.
Sara hanya diam saja, mencoba tak mengubris ucapan Ken.
"Kau tampak lebih kurus, apa yang kau pikirkan?" tanya Ken lagi namun Sara masih tak mengubris ucapan Ken.
"Apa kau menyesal sudah menceraikan aku hingga membuatmu kurus seperti ini?" ejek Ken membuat Sara tak tahan akhirnya membalas ucapan Ken.
"Kau sangat percaya diri sekali," balas Sara dengan senyuman sinis.
"Apa aku salah? Katakan jika aku salah? Bukankah kau dulu sangat mencintaiku?"
Arga mengepalkan tangannya, rasanya Ia ingin memukul Ken saat ini juga namun masih Ia tahan karena disini banyak orang dan Arga tidak ingin membuat Sara malu.
"Apa kau belum bisa melupakan calon istriku?" tanya Arga pada Ken.
"Calon istri?" Ken tersenyum mengejek seolah tak percaya dengan ucapan Arga.
"Ya calon istri, kami akan menikah sebentar lagi."
Ken tertawa, "Kau di jodohkan? Kau tidak mungkin bisa melupakanku secepat itu." ucap Ken sangat percaya diri.
"Mungkin kau yang belum bisa melupakan calon istriku, apa kau tidak merasakan jika sejak awal kedatangan kami, Sara sama sekali tidak melirikmu? Jika kau sadar, kau pasti tidak akan sepercaya diri itu." ucap Arga sambil tersenyum sinis.
"Calon suamiku benar, sebaiknya kau pulang. Jangan mengangguku lagi. Aku benar benar sudah mengikhlaskan mu." tambah Sara membuat dada Ken terasa sesak.
"Bagaimana bisa kau melupakanku secepat itu sementara aku masih selalu mengingatmu?" tanya Ken akhirnya.
"Kenapa kau harus merasa sedih?" heran Sara, "Semua yang terjadi karena kesalahanmu, berhenti playing victim dan sadarlah!"
Arga beranjak dari duduknya, masih menatap ke arah Sara penuh amarah, "Jika aku tidak bisa memilikimu, orang lain juga tidak akan bisa memilikimu." ucap Ken lalu pergi meninggalkan Sara dan Arga.
"Benar benae sialan, rasanya aku ingin memukul mulutnya agar dia berhenti bicara!" omel Arga.
Sara menahan lengan Arga, "Sudahlah, percuma saja meladeni orang seperti itu. Sebaiknya kita makan saja." ajak Sara yang juga tak menyangka jika Ken akan sangat percaya diri seperti itu.
Sementara itu Ken melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Ia sangat marah saat ini dan harus melampiaskan pada seseorang.
Ken menghentikan motornya diparkiran rumah sakit. Ia masuk ke dalam ruangan dimana Alea masih terlelap disana.
Tak peduli melihat Alea terlelap, Ken mencengkeram bawah dagu Alea hingga membuat gadis itu terkejut dan terbangun.
"Semua karena mu! Semua gara gara kamu, dasar brengsek!" Arga melepaskan dagu Alea dengan kasar.
"Ke kenapa Tuan tiba tiba marah?" Alea menatap takut ke arah Arga. Ia tak tahu apa salahnya hingga membuat Arga marah dan kasar padanya.
"Aku bertemu dengan Sara, kau tahu? Dia sebentar lagi akan menikah lagi. Sialan! Jika saja kau tidak mengadu pada Sara waktu itu, mungkin saat ini aku masih bersama Sara." ungkap Arga kali ini mencekik leher Alea lalu melepaskan saat melihat wajah gadis itu merah seperti kehabisan nafas.
Alea terbatuk batuk setelah Ken melepaskan cekikannya.
"Kenapa Tuan hanya menyalahkan saya? Ini juga salah Tuan karena mengkhianati istri Tuan sendiri." Alea memberanikan diri untuk membela diri.
Plak... Ken menampar pipi Alea, "Katakan sekali lagi dan aku akan membunuhmu!" ancam Ken membuat Alea menangis.
Rasanya Alea sudah mati saat ini, Ia merasakan perutnya yang masih sakit pasca melakukan kuretase, ditambah ucapan Ken yang selalu menyakiti perasaannya dan sekarang sikap kasar Ken padanya yang seolah ingin membunuh Alea.
"Jika Aku tidak bisa mendapatkan Sara, orang lain juga tidak boleh memiliki Sara!" ucap Ken berkali kali sambil menjambak rambutnya sendiri.
"Diam atau ku bunuh kau!" ancam Ken lalu keluar dari ruangan Alea.
Setelah Ken pergi, Alea menangis sejadi jadinya, Ia tak menyangka jika Ken akan segila itu pada Sara dan akan menyiksanya seperti ini.
"Kau tukang selingkuh, pembunuh anak dan sekarang kau melimpahkan semua kesalahan kepadaku?" gumam Alea disela sela tangisnya, "Kau brengsek! benar benar brengsek! Sebaiknya kau mati saja!" ucap Alea lalu kembali menangis sejadi jadinya.
Diluar, Ken kembali mengendarai sepeda motornya, Ia ingin menghampiri Sara dan calon suami Sara. Ia ingin menghabisi calon suami Sara didepan mata Sara. Ya Ken akan melakukan itu, Ia harus melakukan itu.
Ken melajukan motornya dengan kecepatan tinggi hingga akhirnya Ia sampai didepan warung nasi goreng pinggir jalan tempat Ia bertemu dengan Sara.
Ken melihat ke arah tempat yang tadinya di duduki oleh Sara namun sudah tidak ada siapapun disana.
Ken kembali merasa gila dan marah karena tak berhasil menemukan Sara dan calon suaminya.
Ia kembali mengendarai motornya tanpa arah dan tujuan, berharap Ia bisa menemukan Sara hingga senyumnya mengembang saat matanya melihat mobil yang sangat Ia kenali.
Ya itu mobil calon suami Sara, Ken sangat mengenal mobil Arga bahkan Ia juga menghafal nomor plat mobil Arga.
Ken menambah kecepatannya hingga Ia berhasil menyalip mobil Arga dan menghentikan laju mobil Arga.
"Ken... Kenapa lagi dia!" omel Sara dari dalam mobil.
"Benar benar minta dihabisi!" Arga tak kalah kesal, melepaskan seatbeltnya dan membuka pintu mobilnya.
Saat akan turun, Sara memeganggi lengannya, "Hati hati, aku takut dia akan-"
"Tenang saja, aku tidak akan kalah dengan pria itu." ucap Arga mengelus pipi Sara dan keluar dari mobil.
"Apa yang kau laku-"
Bugh... Bugh... Belum sempat Arga menyelesaikan ucapannya, Ken sudah memukul pipi Arga 2 kali.
"Brengsek!" umpat Arga saat mulutnya keluar darah.
Arga baru ingin membalas pukulan Ken namun Ia kembali terkena pukulan hingga Ia tersungkur di tanah.
"Apa yang kau lakukan? Kau gila!" sentak Sara keluar dari mobil karena tak tega melihat Arga dihajar oleh Ken.
"Ya aku memang gila, semua karenamu! Aku akan membunuh pria ini dan kau tidak akan menikah dengan siapapun!"
Bugh... Bugh... Bugh... Ken terlalu fokus bicara dengan Sara hingga tak sadar jika Arga bangun dan membalas pukulan Ken bertubi tubi hingga kini Ken yang jatuh tersungkur.
"Sudah ... Sudah." pinta Sara memeluk Arga dari belakang saat Arga akan memukul Ken lagi.
Arga menahan emosinya, Ia mengajak Sara masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya meninggalkan Ken yang masih tersungkur di tanah.
Sara menangis sesenggukan didalam mobil.
"Apa yang kau tangisi?"
"Kau terluka, bagaimana bisa aku tidak menangis."
Arga tersenyum, "Luka ini sama sekali tidak sakit, hanya ada 1 luka yang mungkin akan terasa sakit dan membuatku ingin mati."
"Luka apa?"
"Luka jika aku kehilanganmu."
Bersambung....