TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
59


Saat ini jantung Vanes berdegup sangat kencang, tidak hanya dirinya, Ia juga merasakan jantung Faris juga berdetak.


Keduanya berpelukan cukup lama hingga akhirnya Faris melepaskan pelukannya itu.


Faris mengangkat tangannya, mengelus pipi lembut milik Vanes. Sudah lama Ia ingin melakukan ini, sudah sangat lama Ia merindukan wanita ini dan sekarang Ia bisa melakukan itu pada Vanes.


"Ada banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu dan aku tak tahu harus memulai dari mana." ucap Faris.


Rencananya Faris ingin menceritakan tentang dirinya yang dijodohkan dengan Ani pada Vanes. Faris tahu jika Ia bercerita mungkin akan membuat Vanes sakit hati namun lebih baik seperti itu dari pada Vanes harus mendengar masalah ini dari orang lain mungkin rasa sakitnya akan berlipat.


"Katakan semuanya, aku pasti akan mendengarkan." ucap Vanes.


"Tapi tidak sekarang, setelah kelasku berakhir aku akan mengajakmu jalan jalan sore disekitar sini."


Vanes mengangguk setuju, kini Ia tak lagi ragu dan merasa kalut karena Faris sudah kembali. Faris kembali seperti dulu.


Tepat pukul 4 sore, jam kelas Faris sudah habis dan waktunya Ia pulang.


Faris keluar dari ruangannya dan melihat Vanes sudah duduk dikursi panjang yang ada didepan ruangannya.


"Kenapa menunggu disini? Kenapa tidak masuk saja tadi?" tanya Faris mengambil tangan Vanes lalu mengenggamnya.


"Aku takut menganggu." balas Vanes lalu menatap ke arah tangannya yang digenggam oleh Faris, "Apa tidak apa apa?"


"Kenapa? Kau malu?"


Vanes menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Tidak, justru aku yang takut kau akan malu jika ada mahasiswa yang melihat kita."


"Tidak masalah." kata Faris santai lalu mengajak Vanes berjalan menuju tempat parkir sepeda motor milik Faris.


"Hanya motor buntut ini yang ku miliki, aku tidak memiliki mobil."


Mendengar ucapan Faris, Vanes memanyunkan bibirnya, "Apa aku terlihat seperti wanita matre?"


Faris tertawa lalu mengelus kepala Vanes, "Tidak, aku hanya takut kau akan masuk angin karena tak terbiasa naik motor." ucap Faris.


Vanes berdecak, "Kau terlalu mengejek ku!"


Faris naik ke motornya diikuti oleh Vanes yang langsung memeluk Faris dari belakang. Perlakuan Vanes tentu saja membuat Faris tak nyaman dan takut.


"Bisakah mundur sedikit." pinta Faris namun Vanes malah menggelengkan kepalanya, "Tidak mau, aku takut jatuh jika tidak memelukmu seperti ini."


Faris akhirnya tertawa dan membiarkan Vanes memeluknya.


Faris melajukan motornya, masih ada beberapa mahasiswa yang tertinggal dikampus, mereka tampak melihat ke arah Faris dan Vanes.


"Aku pikir besok kita akan menjadi bahan gosip." ucap Vanes.


"Aku tidak peduli." balas Faris yang memang tidak pernah memikirkan ucapan orang lain.


"Dikampus ini banyak mahasiswi yang menyukaimu." ucap Vanes lagi.


"Lalu?"


"Aku hanya berkata saja." Mendadak Vanes gugup.


Faris tertawa, "Aku pikir kau akan cemburu."


"Aku memang cemburu!" batin Vanes merasa kesal mengingat siang tadi Ia sempat melihat banyak gadis yang bersikap genit pada Faris.


"Tidak cemburu ya?" tanya Faris karena tak kunjung mendengar jawaban dari Vanes.


"Sudahlah jangan bahas tentang itu!" Vanes mulai kesal dan membuat Faris semakin terbahak.


Keduanya sampai disebuah taman yang tak jauh dari kampus.


"Kau ingin jajan apa?" tanya Faris memperlihatkan ada banyak pedagang kaki lima yang berjejeran dipintu masuk taman.


Vanes menggelengkan kepalanya, "Aku masih kenyang."


Faris berdecak, "Makan lah yang banyak, kau terlihat kurus." celetuk Faris.


"Apa kau tidak suka wanita kurus?"


Faris tertawa, "Tidak juga, aku menyukai apapun yang ada pada dirimu."


Spechless... Pipi Vanes langsung saja merona mendengar ucapan Faris.


Faris tersenyum, kembali mengenggam tangan Vanes dan mengajaknya masuk ke dalam taman.


"Apa kau ingin ke tempat yang sepi?" tanya Faris dengan tatapan nakal.


Vanes menggelengkan kepalanya lalu memukul lengan Faris, "Jangan mesum!"


Sontak Faris tertawa, "Aku tidak mesum, aku hanya bertanya."


Vanes berdecak lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Faris.


Tawa Faris semakin keras, Ia berlari mengejar Vanes.


Keduanya duduk disalah satu bangku taman.


"Dimana kau tinggal?" tanya Faris.


"Kost mawar."


Faris tampak tercengang, mendengar nama kost mawar. Kost putri yang bukan sembarang kos karena kos itu satu satunya hunian paling mewah dan mahal untuk anak anak kampusnya. Hanya anak orang kaya yang bisa tinggal di kos itu.


"Seharusnya aku tidak terkejut mengingat Papa mu lebih dari mampu."


Vanes menatap Faris tak suka, "Jangan berbicara seperti itu. Kadang orangtua hanya ingin yang terbaik untuk anaknya."


Faris mengangguk setuju, "Tapi jika dipikir lagi, kasta kita berbeda sangat jauh."


Vanes terdiam sejenak lalu Ia kembali berkata, "Apa ini yang ingin kau bicarakan padaku? Kau mengajak ku ke tempat seindah ini hanya untuk berbicara omong kosong itu?"


Faris menggelengkan kepalanya, "Tidak, terkadang aku memang merasa minder jika bersamamu, maafkan aku."


Vanes menghela nafas panjang, "Jika perbedaan ini membuatmu takut seharusnya kau juga tahu Rizal bukan dari kalangan berada. Mungkin jika Papa melihat oranglain dari status sosialnya, Aku dan Rizal tak akan menikah." jelas Vanes.


Faris kembali terdiam, memikirkan ucapan Vanes yang memang benar. mengingat dahulu kehidupan Rizal juga sama seperti keluarganya dari kasta orang biasa hingga kini Rizal sukses menjadi pengusaha mungkin karena bantuan Wira, Papa Vanes.


Rizal mencoba flashback, kali pertama Ia bertemu dengan Wira.


Wira memang terlihat tegas dan killer namun Faris yakin jika Wira sebenarnya adalah orang yang sangat baik.


"Kapan kapan datanglah kerumah agar kau bisa mengenal Papa ku." pinta Vanes.


"Kapan aku bisa kesana?" tanya Faris tampak ingin namun masih ada keraguan disana.


"Kapanpun kau mau."


Faris akhirnya mengangguk.


"Aku harap secepatnya." gumam Vanes.


Faris tertawa lalu mengelus kepala Vanes.


"Ngomong ngomong apa yang ingin kau katakan padaku?"


Mendadak senyum Faris memudar setelah ingat tujuannya membawa Vanes kesini.


Bersama Vanes membuatnya melupakan masalahnya dengan Pak Kades.


Vanes memang sudah seperti alkohol untuk Faris hingga Faris melupakan hal sepenting ini.


"Katakan, aku sudah sangat penasaran." ucap Vanes tak sabar.


Faris menatap raut wajah Vanes. Raut wajah yang sudah banyak berubah. Pertama kali melihat Vanes malam itu saat dirumah Rizal, Faris bisa menebak dari raut wajah Vanes jika Vanes tengah menyimpan banyak kesedihan namun sekarang Faris tidak lagi melihat raut sedih diwajah Vanes.


"Apa kau merasa bahagia sekarang?" tanya Faris.


Vanes langsung mengangguk, "Tentu saja, aku sudah lepas dari hubungan toxic bersama Rizal dan sekarang aku berharap bisa bahagia bersamamu."


Deg... rasanya jantung Faris berhenti berdetak saat ini juga mendengar ucapan Vanes.


Tak mungkin... Faris tak mungkin menceritakan tentang perjodohan itu pada Vanes.


Faris tak ingin Vanes kembali terluka, lebih baik sekarang Ia selesaikan urusannya dengan Ani secara diam diam tanpa diketahui Vanes.


"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Vanes lagi.


"Aku ... Sebenarnya aku dijodohkan." Faris akhirnya mengakui pada Vanes.


Bersambung...


Jan lupa like vote dan komen yaaa