
Arga asyik bermain bola bersama anak laki laki panti sementara Sara saat ini diajak berkeliling panti oleh Bu Narsih. Setelah puas berkeliling, Bu Narsih mengajak Sara pergi ke dapur untuk memasak dimana sudah ada 2 orang yang membantu Bu Kinarsih memasak dan mengurus panti.
"Ini Bu Wida sama Bu Heni, pengurus panti juga." Bu Narsih memperkenalkan pada kedua rekannya, "Calonnya Mas Arga." ucap Bu Narsih pada Wida dan Heni.
Wida dan Heni tampak tersenyum senang melihat Arga sudah memiliki calon istri.
"Sebentar lagi jadi nyonya donatur dong?" Goda Wida.
Sara hanya tersenyum menanggapi godaan Wida.
Sara mulai membantu memasak namun Ia hanya bagian memotong motong sayuran karena Sara tidak bisa memasak dan selama ini Ia tak pernah sekalipun ke dapur.
"Maaf ya Bu, saya tidak bisa masak. Hanya bisa bantuin potong potong sayur." kata Sara merasa tak enak.
"Nggak apa ap Nduk Ayu, dibantuin gini saja sudah seneng." kata Heni.
Lagi lagi Sara hanya tersenyum menanggapi ucapan Heni.
Selesai memotong sayuran, Bu Narsih mengajak Sara duduk sambil mengelapi setumpuk piring. Disanalah Bu Narsih mulai menceritakan tentang Arga, "Dulu Mas Arga katanya baru pindah kesini setelah bertahun tahun tinggal diluar negeri. Mas Arga lagi touring sama temen temennya tapi tersesat dan ponselnya mati. Ibu dan beberapa anak panti ketemu mas Arga dijalan depan. Dia tampak bingung karena mungkin tak tahu arah." cerita Bu Narsih sambil tersenyum mengenang tentang awal pertama Arga datang ke panti.
"Ibu dan Anak anak ngajak Mas Arga masuk ke sini buat istirahat sambil ngecas ponselnya yang mati dan mungkin Mas Arga merasa kasihan melihat nasib anak anak panti jadi dia memutuskan untuk menjadi donatur." tambah Bu Narsih.
Bibir Sara menyunggingkan senyum mendengar cerita bu Narsih. Sara tak menyangka dan tak percaya namun semua itu memang fakta. Arga sebaik itu dan Arga tidak sedang mencari muka didepannya, Ia memang donatur dipanti ini. Mendadak Sara merasa bersalah karena sudah menuduh Arga dengan ucapan kejamnya.
Bu Narsih melanjutkan ceritanya, "Biaya sekolah, biaya makan sehari hari ditanggung oleh Mas Arga karena memang minimnya donatur dipanti ini dan semenjak Ada Mas Arga, kami pengurus panti dan anak anak merasa tenang, tidak khawatir lagi tentang bagaimana untuk makan besok."
Sara masih tersenyum, kali ini Ia mengenggam tangan Narsih, "Mas Arga akan terus menjadi donatur dipanti meskipun nanti sudah menikah." ucap Sara yang mengerti akan ketakutan Bu Narsih. Sara merasa Bu Narsih khawatir jika setelah menikah Arga akan berhenti menjadi donatur namun jika Arga menikah dengannya, Sara tidak akan membiarkan Arga berhenti jadi Donatur, Sara malah sudah memiliki rencana untuk ikut menjadi donatur.
"Terima kasih nak Sara, kamu memiliki hati yang baik." puji Bu Narsih, "Kapan kalian akan menikah?" tanya Bu Narsih.
Sara tampak bingung harus menjawab apa, saat ini saja Ia belum menerima lamaran Arga bagaimana mungkin sudah memikirkan untuk menikah?
"Baru lamaran toh?" tanya Bu Narsih lagi.
Sara mengangguk saja, karena Ia benar benar bingung harus menjawab apa.
"Jangan lama lama nak, langsung nikah biar nggak jadi fitnah." kata Bu Narsih.
Sara tersenyum lalu mengangguk, "Ya bu..."
Setelah cukup lama mengobrol dengan Bu Narsih, Sara keluar untuk melihat Arga bermain bola dengan anak anak panti.
Cuaca sudah tidak terik karena ini sudah sore. Arga dan Anak anak begitu semangat bermain bola hingga mereka semua berkeringat begitu juga dengan anak anak perempuan yang bersorak gembira menonton permainan Arga.
Selesai bermain, semua anak anak istirahat sambil menghilangkan keringat. Arga berjalan menghampiri Sara yang duduk didepan panti dan duduk disamping Sara.
"Gila capek banget padahal cuma main bola sama anak anak." ucap Arga.
Sara tersenyum, "Haus nggak? Mau ambilin minum?" tawar Sara.
"Boleh deh."
Sara beranjak dari duduknya lalu masuk ke dalam untuk mengambil segelas air.
Setelah memberikan segelas air pada Arga, Sara kembali duduk ditempatnya.
"Tumben baik?" celetuk Arga setelah meneguk habis segelas air putih.
Sara berdecak, "Baik salah nggak baik salah!"
Arga tertawa, "Mode ngomel mulai."
Sara tak lagi menjawab ucapan Arga. Keduanya sama sama diam sejenak sambil memandang ke arah anak anak yang masih beristirahat.
"Mas Arga keringetnya sudah hilang, ayo mandi ke sungai." ajak anak anak.
"Mau minta apa?" Arga mendahulukan Sara.
Sara menggelengkan kepalanya, "Nanti saja, sana ajak anak anak mandi." kata Sara yang langsung diangguki oleh Arga.
"Mau ikut?" ajak Arga.
Penasaran dengan sungainya, Sara ikut Arga mandi dengan anak anak panti.
Tak jauh dari panti, Ada sungai yang airnya sangat jernih.
Sungainya lebar namun airnya tidak dalam.
Sara tersenyum melihat Arga asyik bermain air dengan anak anak.
"Sini ikutan." ajak Arga melambaikan tangan pada Sara.
"Nggak bawa baju ganti." kata Sara.
Arga tersenyum lalu mendekati Sara, "Nggak usah pakai baju aja kalau gitu."
Sara melotot lalu memukul lengan Arga, "Dasar gila!" omel Sara.
Arga tertawa lalu kembali bermain dengan anak anak.
Selesai mandi disungai, Sara membantu anak anak berganti pakaian. Sara sangat kagum, meskipun anak anak panti masih kecil tapi mereka sudah bisa mandiri, bisa mandi dan berganti pakaian sendiri.
"Kamu mau ganti baju apa?" tanya Sara melihat Arga hanya mengenakan jubah mandi sedari tadi, entah Arga mendapatkan jubah mandi dari mana.
Arga tak menjawab dan malah berjalan ke salah satu lemari baju yang ada dikamar anak anak. Arga membuka lemari bajunya dan ternyata ada banyak baju dewasa disana.
"Dulu kalau kabur dari Ayah ngumpet disini jadi aku bawa beberapa baju dan disimpen disini." ungkap Arga.
"Ohh gitu."
Arga sudah mengambil satu baju lengkap dengan celananya. Ia lalu menatap ke arah Sara.
"Masih mau disini?" tanya Arga.
Sara mengangguk dan Ia dikejutkan oleh Arga yang langsung membuka jubah mandinya.
Sara menutup matanya dan mulai mengomel, "Gila, bisa bisanya kamu ganti baju disini!"
Arga tertawa, "Kan aku sudah tanya dan kamu masih mau disini, Ya aku pikir kamu memang mau lihat aku telanjang."
Sara berbalik lalu keluar dari kamar anak anak. Ia salah sangka, Sara pikir Arga mengajaknya pulang bukan memintanya keluar. Pria itu benar benar gila.
Selesai berganti pakaian, Arga keluar dengan senyuman tengilnya.
"Gede kan punyaku?" bisik Arga.
"Aku nggak lihat!" sangkal Sara yang memang tak melihat milik Arga, Sara hanya melihat dada kotak kotak seksi milik Arga.
"Alah nggak mau ngaku, gede punya siapa? Punya ku apa mantan suami mu?"
Mata Sara kembali melotot dan kali ini Ia langsung memukuli lengan Arga berkali kali.
Bersambung....
Dr kemarin part arga sama Sara trus hehe... Lagi candu soalnya sama pasangan ini.