
Arga menahan senyumnya, setelah Ia dibuat kesal oleh Zil kini Sara membuatnya tersentuh apalagi Sara sampai membawakan bucket bunga untuknya.
Sara berjalan mendekati Arga lalu meletakan bucket bunga dimeja.
"Sebagai tanda permintaan maaf ku." ucap Sara dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Apa aku terlihat seperti seorang gadis? Kenapa memberiku bunga?" protes Arga.
Sara tersenyum geli, "Aku bingung harus membawa apa, biasanya seseorang tidak akan marah lagi setelah dibawakan bunga."
Arga menghela nafas panjang, "Meskipun kau datang untuk meminta maaf bahkan sampai membawakan bunga tapi aku belum bisa memaafkan mu."
Sara mengangguk, "Aku bisa mengerti, kesalahanku memang sulit untuk di maafkan,"
"Ku dengar pelakunya sudah ditangkap."
Sara tersenyum, "Pelakunya adalah kekasihnya sendiri."
"Apa alasan pelaku membunuh Ken?" tanya Arga penasaran.
"Aku juga belum tahu, Papa hanya mengatakan jika pelakunya sudah di tangkap."
Arga berohh ria, "Kalau saja pelakunya belum tertangkap, kau pasti masih menuduhku."
Sara terdiam sejenak sebelum akhirnya Ia kembali berbicara, "Bagaimana kalau kita pergi makan malam?"
"Tidak, aku akan makan malam dirumah bersama Ayah."
Sara mengangguk, "Baiklah, aku akan pulang sekarang kalau begitu." kata Sara lalu berbalik dan keluar dari ruangan Arga.
Arga berdecak kesal, "Kenapa dia sama sekali tidak berusaha untuk merayuku? Dasar menyebalkan!" omel Arga lalu memukul mukul mejanya.
Sementara Sara kini sudah memasuki mobilnya. Ia sedikit sedih melihat sikap acuh Arga namun Sara tidak bisa berbuat banyak untuk memenangkan hati Arga karena Sara tipekal wanita yang tak pandai mendekati lawan jenisnya, meski begitu, Sara bertekad akan terus berusaha sampai Sara mendapatkan maaf dari Arga.
Sara melajukan mobilnya meninggalkan kantor Arga. tadinya Ia pulang lebih awal agar bisa makan malam dengan Arga namun karena Arga menolak, Sara memilih untuk pulang kerumahnya.
"Kau pulang lebih awal hari ini? Apa kau masih merasa sedih?" tanya Wira saat melihat Sara sudah pulang padahal masih pukul 6 petang.
"Tadinya aku ingin mengajak Arga makan malam namun karena Arga menolak akhirnya aku pulang saja." jelas Sara dengan raut wajah sedih.
"Arga masih marah padamu?"
Sara mengangguk, "Aku memang sudah keterlaluan jadi wajar saja jika Arga marah."
"Jika dia menolak untuk makan malam, datang saja kerumahnya." pinta Wira.
Sara mengerutkan keningnya tak mengerti,
"Datanglah kerumahnya dan ikut makan malam bersama Ayahnya,"
"Apa harus seperti itu Pa?" Sara terlihat ragu.
"Coba saja, siapa tahu bisa meluluhkan hati Arga."
Setelah berpikir sejenak, Sara akhirnya mengangguk menyetujui saran dari Wira.
"Sara siap siap dulu deh Pa kalau begitu." ucap Sara segera naik ke atas kamarnya.
Selesai bersiap, Sara kerumah Arga diantar oleh Mang Ujang.
Kedatangan Sara tentu saja membuat Herman terkejut, pasalnya Sara belum pernah datang kerumahnya.
"Arga belum pulang." ucap Herman.
"Nggak apa apa Om, saya tunggu saja."
Herman tersenyum, "Nanti kita makan malam bersama kalau gitu."
Sara mengangguk lalu tersenyum, Ia memang berencana untuk makan malam bersama disini.
"Paling sebentar lagi Arga pulang." ucap Herman, "Ngomong ngomong tumben kamu kesini?"
Sara tersenyum malu lalu menceritakan jika Arga sedang marah padanya saat ini membuat Herman tertawa.
"Ternyata si bocah tengil itu bisa ngambek juga." Celetuk Herman. "Oh iya, aku turut berduka cita atas meninggalnya manta suamimu, ku dengar dia dibunuh ya?"
Sara mengangguk, "Dia dibunuh kekasihnya sendiri."
"Ya memang seperti itulah hidup, kita menyakiti orang lain pada akhirnya kita akan disakiti oleh orang lain juga." kata Herman mulai mengeluarkan kata kata mutiaranya.
"Papa juga sedih karena mau bagaimanapun Mas Ken mantan asisten Papa yang sangat loyal pada Papa."
Herman mengangguk, "Aku bisa mengerti."
Keduanya sama sama diam hingga terdengar ada mobil yang masuk ke garasi rumah Herman.
"Sepertinya Arga sudah pulang." ucap Herman.
Sara tersenyum ditempatnya, Ia tak sabar ingin melihat respon Arga saat melihatnya ada disini.
Diluar rumah, Arga menutup pintu mobilnya dengan kasar. Ia masih merasa kesal dengan Sara yang sama sekali tidak peka dan tidak berusaha merayunya.
Arga memasuki rumah, Ia melihat Ayahnya duduk diruang tamu, "Baru pulang? Lesu amat?" tanya Herman namun Arga acuh terus berjalan hingga Ia melihat ada seseorang yang juga duduk diruang tamu.
Dan betapa terkejutnya Arga saat melihat ternyata orang itu adalah Sara.
Sara tersenyum ke arah Arga.
"Buruan mandi, kami sudah lapar." pinta Herman.
Arga masih berdiri ditempatnya sambil menatap Sara tak percaya.
"Iya iya, beneran Sara bukan cuma bayangan." cibir Herman membuat Arga tersadar lalu tersenyum dan berlari ke atas kamarnya untuk mandi agar bisa segera makan malam bersama.
Bibir Arga tak berhenti mengulas senyum saat menuruni tangga dan bersiap untuk makan malam. Senyuman Arga semakin lebar melihat Sara sudah berada dimeja makan bersama Ayahnya. Arga merasa sudah ditunggu oleh Istri dan Ayahnya untuk makan malam.
"Malah cengegesan, buruan duduk, kita udah kelaparan!" omel Herman melihat Arga hanya berdiri dan tersenyum ke arahnya.
Melihat Arga tersenyum sontak membuat Sara merasa lega.
"Aku ambilkan." ucap Sara mulai mengisi piring Arga dengan nasi dan sayur.
"Ayah nggak nih?" goda Herman.
"Boleh deh kalau Ayah mau." balas Sara.
"Nggaklah, Ayah cuma bercanda." kata Herman lalu tertawa renyah.
"Inget umur Yah... Inget!" cibir Arga.
"Lihat tuh Sara, masa sama Ayahnya cemburu." kata Herman tak mau kalah.
Sara hanya tersenyum, Ia merasa Ayah dan anak sama saja, sama sama suka bercanda.
Ketiganya mulai makan malam bersama. Sesekali Sara melirik ke arah Arga yang beberapa kali ketahuan juga melirik ke arahnya.
"Tumben makan malamnya enak banget Yah." ucap Arga tiba tiba.
"Perasaan sama saja orang yang masak juga bibik. Kamu ngerasa enak karena mungkin ada Sara yang nemenin." balas Herman.
Arga tertawa, "Enggak yah, memang beneran enak kok."
Selesai makan malam, Arga mengajak Sara naik ke atas kamarnya. Arga membawa Sara ke balkon kamarnya dimana mereka berdua bisa melihat indahnya langit dimalam hari.
"Aku mau ngerokok." ucap Arga meminta izin.
Sara mengangguk, "Nggak apa apa, aku sudah biasa dengan asap rokok."
Arga mulai menghisap rokoknya lalu mengeluarkannya pelahan, terlihat sangat menikmati.
"Kamu udah nggak marah kan?"
Arga menggelengkan kepalanya, "Masih..."
Sara menghela nafas panjang.
"Jadi kamu kesini cuma buat modusin aku aja?" tanya Arga.
"Karena aku berharap kamu bisa maafin aku dan aku juga pengen deket sama Ayah kamu sebelum kita menikah."
Seketika senyum Arga mengembang mendengar Sara mengatakan tentang pernikahan.
Bersambung...
Jan lupa like vote dan komen yaaa