
Sara bangun setelah mendengar bunyi alarm yang dipasang oleh Arga. Ia merasa lega saat tahu jika Ia masih berada disofa saat ini. Arga tak memindahkannya artinya Arga tidak menyentuh dirinya saat Sara terlelap. Sara beranjak dari ranjang dan merasakan punggungnya sedikit sakit.
Sara melihat ke ranjang, masih ada Arga yang terlelap disana, "Ck, bagaimana bisa dia masih tak bangun padahal mendengar suara alarm sekeras itu!" ucap Sara sambil menggelengkan kepalanya tak percaya.
Sara pergi mandi lebih dulu sebelum Arga bangun dan saat Ia selesai mandi, Sara melihat Arga sudah bangun.
"Kenapa tidak membangunkanku?" protes Sara.
"Kau sudah bisa bangun sendiri kenapa aku harus membangunkanmu?" ucap Sara acuh sembari mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer.
"Setidaknya jika bisa bangun bersama kita akan bisa mandi bersama juga." celetuk Arga dengan senyuman tengilnya.
"Dasar mesum!"
Arga tertawa, "Jika kita sudah menikah apa kau masih mengataiku mesum?"
Sara tak menjawab, malah mengalihkan pembicaraan, "Pergilah mandi, kita bisa ketinggalan pesawat."
"Tidak masalah, kita bisa disini lebih lama."
Sara menggelengkan kepalanya tak setuju, "Minggu depan kita menikah, ada banyak persiapan dan kau malah mengajak bersantai disini?"
Arga tersenyum lalu beranjak dari ranjang, "Baiklah baiklah, istriku memang galak sekali." celetuk Arga langsung masuk ke kamar mandi.
"Apa aku benar benar harus hidup dengannya?" gumam Sara kembali menggelengkan kepalanya.
Sara sudah selesai bersiap, Ia duduk di sofa, menunggu Arga keluar dari kamar mandi.
"Apa kau tidak bisa memakai baju dikamar mandi?" omel Sara saat melihat Arga keluar dari kamar mandi dan hanya melilitkan handuk dipinggangnya.
"Kau akan terbiasa melihatnya nanti." balas Arga santai.
"Dasar tukang pamer." omel Sara.
"Pamer? Apa yang ku pamerkan padamu?" heran Arga.
"Kau ingin pamer badan sixpack mu kan?"
Arga tersenyum, ''Apa kau merasa kagum dan bangga memiliki calon suami macho seperti ini?"
Sara pura pura mual.
"Kau hanya tak mau mengakui." ucap Arga mulai memakai bajunya.
Selesai bersiap keduanya segera menuju bandara dimana sudah ada mobil yang akan mengantar mereka sampai ke bandara.
"Setelah menikah kau ingin bulan madu kemana?" tanya Arga.
Sara menatap Arga memberi kode pada Arga jika didepan ada sopir yang mungkin mendengar percakapan mereka.
"Dia tidak akan paham bahasa kita, apa kau lupa dimana kita berada saat ini?"
Sara menghela nafas panjang, mengingat apa yang dikatakan oleh Arga benar. Mereka berada diluar negeri, sopir didepan tidak akan mengerti obrolan mereka.
"Aku tidak tahu, kita pikirkan saja besok." balas Sara.
Arga berdecak, "Lebih baik kita pikirkan sekarang jadi Zil bisa segera mengurusnya."
"Kalau begitu terserah saja kau mau mengajak ke mana." ucap Sara.
"Mungkin kita bisa ke hawai, korea atau maldives." gumam Arga, "Atau mungkin ketiga tempat itu?"
Sara memutar bola matanya malas, "Apapun yang kau inginkan aku akan mengikutimu."
Arga tersenyum tengil, "Benarkah?"
"Apa yang kau rencanakan? Ini hanya tentang bulan madu setelah menikah, jangan berpikiran mesum!"
Arga berdecak, "Kau selalu menganggapku buruk, apa aku seburuk itu?"
"Ya kau memang sangat buruk!" ucap Sara lalu memalingkan wajahnya menatap ke jalanan yang masih gelap karena ini masih pukul 3 pagi.
"Jika aku seburuk itu apa artinya aku tak pantas untukmu?"
Sara menghela nafas panjang, "Bisakah kau diam dan tak banyak drama? Aku benar benar gemas melihatmu seperti ini!"
Lagi lagi Sara menggelengkan kepalanya tak percaya mendengar ucapan Arga. Sara merasa Arga sangat kekanakan.
Sara tak melakukan apapun, Ia hanya diam mencoba tak mengubris Arga namun pria itu masih saja mengoceh memainkan dramanya.
Setelah menempuh perjalan dimobil selama 15 menit, keduanya sampai di bandara.
"Masih 30 menit lagi, kita cari sarapan dulu." ajak Arga meskipun masih pukul 3 pagi tetap saja mereka harus sarapan.
"Tapi aku belum lapar. Jika kau lapar sarapan saja sendiri."
"Sudah ku tebak kau pasti menolak." ucap Arga lalu pergi meninggalkan Sara, masuk ke kedai kopi dan roti.
"Ada apa dengannya? Apa dia marah?" batin Sara menggelengkan kepalanya lalu duduk disalah satu bangku yang ada disana.
Tak berapa lama Arga datang membawa 1 cup kopi dan 1 buah toast.
Arga ikut duduk disamping Sara lalu makan dengan lahapnya tanpa menawari Sara.
Sesekali Sara melirik ke arah Arga, berharap pria itu peka dan menawarinya lagi namun sayang Arga sama sekali tak mengubris Sara.
"Enak sekali." gumam Arga setelah menghabiskan toast dan kopinya.
"Bisa bisanya kamu makan sendiri tanpa menawariku!" lagi lagi Sara mengomel.
Arga berdecak, "Tadi kau menolak sekarang protes."
"Seharusnya kau lebih peka sedikit jika aku tidak mau tetap belikan siapa tahu aku berubah pikiran." kata Sara.
Arga tertawa, "Aku takut membuang buang makanan, kau sudah bilang tidak lapar dan jika aku memaksa membelikan untukmu, jika kau tidak mau siapa yang akan makan?"
Sara berdecak, "Kau benar benar tidak peka."
Arga ikut berdecak, "Aku ini hanya manusia biasa bukan dukun yang bisa mengerti segalanya tentang wanita." celetuk Arga yang langsung membuat Sara tersenyum geli.
"Jika kau mau katakan saja akan aku belikan sekarang." ucap Arga.
"Baiklah baiklah aku mau."
"Nah, begitu kan lebih mudah. Jangan merumit keadaan." ucap Arga beranjak dari duduknya dan kembali ke kedai untuk membelikan Sara toast dan kopi.
Arga kembali membawa toast dan kopi lalu diberikan kepada Sara, "Makanlah sedikit cepat agar kita bisa segera masuk ke dalam pesawat."
Sara mengangguk dan mulai menikmati kopi dan toastnya hingga habis.
Selesai menikmati makanannya, Arga segera mengajak Sara memasuki pesawat yang sudah bersiap untuk terbang.
8 jam perjalanan, Sara dan Arga menghabiskan waktu mereka menonton film hingga tertidur.
Sara menghirup nafas lega setelah kini Ia sudah kembali ke indonesia dengan selamat.
Ia segera pulang kerumah takut Wira akan semakin khawatir padanya jika Ia tak segera pulang.
"Itu Zil." ucap Arga saat melihat Zil melambaikan tangan ke arahnya.
Arga dan Sara segera menghampiri Zil, "Hey Zil kenapa kau memesankan hotel horor untuk kami." protes Sara.
Zil tampak bingung tak mengerti maksud Sara karena Ia sama sekali tak memesan hotel. Ia hanya memesan tiket berangkat dan tiket pulang untuk keduanya dan masalah hotel, Arga lah yang memesan.
Zil menatap ke arah Arga yang langsung mendapatkan kedipan mata dari Arga.
"Ohh maafkan saya Nona, Saya tidak tahu jika hotelnya horor. Lain kali saya akan lebih teliti lagi." ucap Zil.
Sara tak menjawab ucapan Zil dan malah masuk ke mobil lebih dulu.
"Apa yang Tuan lakukan?" protes Zil.
"Aku hanya sedikit mengerjainya agar kita bisa sekamar." kata Arga lalu tertawa renyah.
Bersambung...
Jan lupa like vote dan komen yaa