
Sudah pukul 11 malam namun Faris masih belum bisa memejamkan matanya. Pikirannya melayang memikirkan tentang Vanes yang tak kunjung hamil.
Dokter sudah menyatakan jika Vanes sehat, giliran Faris yang harus memeriksakan diri untuk mengetahui penyebab Vanes tak kunjung hamil.
Ada rasa takut dalam hati Faris jika ternyata dirinya lah yang bermasalah.
Faris beranjak dari ranjang, turun ke bawah untuk mengambil air minum. saat sampai didapur, Faris berpapasan dengan Bik Sri yang ternyata juga tengah minum didapur.
"Aden belum tidur apa sudah bangun?" tanya Bik Sri.
"Belum tidur sama sekali Bik."
"Nggak bisa tidur? Lagi mikirin apa Den?" tanya Bik Sri penasaran.
Faris menghela nafas panjang lalu menceritakan tentang masalahnya dengan Vanes yang tak kunjung hamil.
Bik Sri tersenyum, "Mungkin belum rejekinya Den, dikasih waktu buat berdua dulu." kata Bik Sri.
"Aku cuma takut Bik kalau ternyata akulah penyebab Vanes tak kunjung hamil."
Bik Sri menepuk bahu Faris, "Jangan pesimis dulu Aden, periksa saja dulu siapa tahu karena masalah lain."
Faris akhirnya mengangguk, "Doakan saja ya Bik, semoga saya dan Vanes bisa segera punya momongan."
Bik Sri kembali tersenyum, "Bibik selalu mendoakan Aden."
Setelah meneguk segelas air hangat, Faris kembali naik ke atas. Ia masuk kamar dan melihat Vanes masih terlelap.
Faris mengecup kening Vanes sebelum akhirnya Ia ikut terlelap bersama Vanes.
...****************...
Setelah mendapatkan kabar baik dari Faris, Rani segera mempersiapkan diri untuk berangkat ke kota.
Rani berangkat pukul 1 dini hari dengan menaiki kereta agar sampai dikota pagi hari.
Setelah menempuh perjalanan hampir 5 jam didalam kereta dan bus, akhirnya Rani sampai dirumah Vanes pagi hari.
Rani disambut hangat oleh Bik Sri yang sudah menunggunya.
"Semua orang sedang sarapan, ikut sarapan saja Non." ajak Bik Sri.
"Aduh nggak enak saya Bik, saya tunggu diluar saja." ucap Rani namun langsung digelengi oleh Bik Sri.
"Jangan Atuh Non, nanti saya malah kena marah Neng Vanes."
Karena tak mau menyebabkan masalah, Rani akhirnya mengikuti langkah kaki Bik Sri masuk ke istana mewah milik Wira.
"Kau sudah sampai." Faris yang tadinya sedang duduk sarapan pun langsung beranjak untuk memeluk sepupunya itu.
"Aku berangkat Dini hari naik kereta." kata Rani melepaskan pelukan Faris lalu menyalami Vanes juga Ken dan Sara yang ada dimeja makan.
"Ikut sarapan sekalian saja." ajak Sara dan Vanes bersamaan.
"Haduh, nggak enak masa baru datang sudah sarapan." kata Rani menggaruk lehernya yang tak gatal.
"Tidak apa apa, berikan kopermu pada Bik Sri agar dibawa ke kamar yang sudah disiapkan." kata Vanes.
Dengan cekatan, Bik Sri meminta koper Rani lalu dibawa ke kamar yang sudah disiapkan.
Mau tak mau, Rani ikut duduk untuk sarapan bersama.
Sesekali Rani melirik ke arah Ken namun sayang Ken sama sekali belum melihat ke arahnya.
"Hari ini kau istirahat dulu karena pasti melelahkan menempuh perjalanan berjam jam dikereta. Kau bisa bekerja mulai besok." kata Sara merasa yakin dengan Rani.
"Langsung bekerja tanpa tes?" Rani menatap Sara tak percaya.
"Lagipula kau bekerja dengan Ken, dia bisa membantumu jika kau merasa kesulitan." tambah Faris.
"Dengan..." Rani bergumam merasa terkejut, "Aku tidak bekerja dikantor?" tanya Rani karena Ia pikir akan bekerja dikantor sama seperti Faris.
"Tidak, kau akan dilapangan bersama Ken tapi jika kau merasa tidak betah, aku akan mencarikan job didalam kantor." jelas Sara.
Rani menggelengkan kepalanya, "Aku akan mencoba apapun pekerjannya."
Sara tersenyum, "Aku suka semangatmu."
Selesai sarapan Ken merangkul Sara mengajak istrinya keluar. Rani sempat menatap aneh ke arah Ken.
"Dia Sara, adik sepupuku. Kalian pasti belum berkenalan dan Sara langsung mengajak membahas pekerjaan." kata Vanes membuyarkan tatapan Rani.
"Oh iya mbak, saya sudah pernah lihat beberapa kali." ungkap Rani.
"Kalau begitu kamu lanjutin sarapan trus istirahat, Mas mau berangkat sekarang dan mungkin nanti pulang malam." pamit Faris yang juga sudah selesai sarapan.
"Kalau butuh apa apa, minta saja sama Bik Sri ya Rani." tambah Vanes yang langsung diangguki Rani.
"Kalau Mbak Sara itu adiknya Mbak Vanes berarti sama saja majikannnya Mas Ken dong tapi kok tadi Mas Ken berani merangkul Mbak Sara ya? Apa mereka pacaran?" batin Rani lalu menggelengkan kepalanya merasa bingung.
"Sudahlah, yang penting sekarang aku kerja sama Mas Ken." gumam Rani lalu tersenyum senang.
Sementara itu didalam mobil, Ken menatap ke arah Sara yang sibuk memainkan ponselnya. Ken ingin mengatakan sesuatu namun rasanya sulit untuk di ucapkan.
"Ada apa mas?" tanya Sara yang seolah merasakan jika Ken tengah gelisah saat ini.
"Apa kamu yakin menjadikan Rani asisten ku?" tanya Ken akhirnya mengungkapkan isi hatinya karena jujur, Ken merasa aneh jika sedang bersama dengan Rani.
Beberapa kali Ken berada didekat Rani, Ia merasa ada getaran aneh saat bersama dengan gadis itu.
"Yakinlah mas, kenapa tidak? Aku lihat dia punya potensi yang bagus kok." puji Sara.
Ken berdecak, "Apa kamu nggak takut kalau misal aku selingkuh sama dia?"
Seketika tawa Sara membuncah, "Aku malah nggak kepikiran sampai sana, lagian aku percaya sama kamu kok mas dan lagi Rani itu saudaranya Faris, dia dari keluarga baik dan agamis jadi aku pikir nggak akan ada hal seperti itu."
Ken menghela nafas panjang, Ia masih ingat pernah mencium bibir Rani digudang kosong. Ken takut jika hal seperti itu akan terulang lagi. Ia benar benar tidak ingin memiliki masalah apapun saat ini.
"Mas bilang mau jadi suami yang baik, kita sama sama sedang belajar jadi aku percaya sama Mas kalau mas pasti bisa jadi suami terbaik buat aku." ucap Sara lalu menarik tangan Ken dan mencium punggung tangan Ken setelah itu Sara segera keluar dari mobil.
"Gila... Bener bener gila!" umpat Ken menjambak rambutnya sendiri.
Ken kembali melajukan mobilnya ke tempat kerjanya yang tak jauh dari kantor Sara.
Sampai ditempat kerjanya, Ken mengambil tas yang ada di bangku belakang namun sialnya, laptop Ken malah tertinggal dikamar.
Terpaksa Ken kembali kerumah untuk mengambil laptop miliknya.
Ken memasuki istana mewah Wira, terlihat sepi karena semua orang sibuk dengan pekerjaan masing masing.
Ken segera naik ke atas kamarnya dan Sara lalu mengambil laptop.
Setelah mendapatkan laptopnya, Ken keluar dan tak sengaja berpapasan dengan Rani ditangga.
Mereka saling berpandangan sebelum akhirnya Ken memutuskan kontak mata lebih dulu.
"Mas Ken aku..."
"Aku sudah menikah dengan Sara." Ken memperlihatkan cincin yang ada dijari manisnya. "Aku harap kamu melupakan kejadian waktu digudang itu." kata Ken lalu pergi meninggalkan Rani.
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen yaaa...