
Setelah menghubungi Papanya, sore harinya Vanes dijemput oleh sopirnya untuk pulang. Kali ini Vanes tak pulang sendiri, Ia mengajak Nani ikut bersamanya.
Vanes ingin Nani ikut menyaksikan acara pernikahannya.
"Aku pasti akan alergi." ucap Nani sesampainya di istana Wira, "Jiwa miskin ku meronta ronta." ucapnya lagi penuh kekaguman melihat mewahnya istana milik Wira.
"Jangan berlebihan Nani." ucap Vanes mengajak Nani turun dari mobil lalu memasuki rumahnya dimana sudah ada Wira dan Bik Sri yang menyambut kedatangannya.
"Aku tidak menyangka putriku akan pulang secepat ini." ucap Wira lalu memeluk putri semata wayangnya.
"Aku meminta Mas Faris menikahiku besok, Ayah pasti bisa menyiapkan segalanya kan?" tanya Vanes membuat Wira geleng geleng kepala. Wira tak percaya putrinya ingin menikah lagi secepat itu, bahkan besok? Padahal Putrinya baru saja gagal dalam pernikahan, Ia pikir Vanes masih trauma dan ingin bertunangan dulu dengan Faris.
"Besok? Apa tidak terlalu cepat honey?"
Vanes menggelengkan kepalanya, "Lebih cepat lebih baik, bukankah Papa juga menginginkan itu?"
Wira akhirnya mengangguk, "Ya aku sangat menginginkan itu, aku tidak sabar melihatmu hamil dan aku pun akan segera mengendong cucu." ucap Wira membuat Vanes tertawa.
"Papa pasti bisa mengurus pernikahanku besok kan? bukankah Mas Faris juga sudah melamar kesini?"
Wira mengangguk, lalu Ia melirik ke arah arlojinya, "Sekarang pukul 5 sore, aku tak yakin."
"Papa memiliki Ken, dia pasti bisa mengurus segalanya."
Wira menggelengkan kepalanya, "Kau ini benar benar." Wira mengambil ponselnya untuk menghubungi Ken, "Keruanganku sekarang Ken." pinta Wira lalu mengakhiri panggilan.
Wira mengajak Vanes masuk dan Bik Sri membawa Nani ke kamar tamu.
"Apa tidak ada kamar lain Bik?" tanya Nani pada Bik Sri.
"Kau meminta kamar lain karena kamar ini terlalu bagus kan?" tebak Bik Sri yang langsung diangguki oleh Nani sambil tertawa.
"Semua tamu yang datang selalu minta kamar lebih jelek dari ini padahal kamar inilah yang paling jelek jika dibandingkan kamar milik Nona dan Tuan."
Nani melotot tak percaya, padahal jika dikosannya, kamar seperti inilah yang ditempati oleh Vanes dan itu sudah termasuk kamar vip dengan sewa yang mahal tapi ternyata kamar ini terlihat biasa disini.
"Aku hanya takut jika tubuh gemuk ku berbaring diranjang itu akan membuat ranjangnya rusak."
Bik Sri tertawa, "Mana mungkin seperti itu Nona, ranjang itu sangat kokoh pastilah aman."
Nani akhirnya mengangguk, "Baiklah, aku tidak akan protes lagi."
"Jika butuh sesuatu datang ke dapur dan katakan pada saya Nona."
"Baiklah baik."
Nani membawa dirinya berbaring ke ranjang, "Hari ini kau bisa terbebas dari pekerjaanmu dan kau bisa menikmati rasanya menjadi Tuan putri di istana ini." ucap Nani lalu mengulingkan badannya karena terlalu senang. "Aku akan sangat menikmati hariku ini.'"
Sementara itu Vanes masih membuntuti Papa hingga ke ruangan Papanya.
"Kau harus menyapa seseorang." pinta Wira.
Vanes mengerutkan keningnya, "Siapa?"
"Sepupumu Sara, kau ingat?"
Senyum Vanes langsung mengembang mendengar nama Sara, "Dia ada disini? Benarkah?"
Wira mengangguk, "Seharian murung dikamar, coba kau sapa dia.
Vanes langsung beranjak dari duduknya, berlari membuka pintu dan Brukkk...
Vanes dan Ken saling bertubrukan hingga keduanya jatuh bersamaan.
"Maafkan saya Nona, maafkan saya." ucap Ken segera bangun dan membantu Vanes bangun.
"Tidak apa Ken, santai saja." ucap Vanes melepaskan tangannya yang kini masih disentuh oleh Ken.
Menyentuh kulit lembut milik Vanes membuat jantung Ken berdegup kencang dan mendadak kaku tak ingin melepaskan tangan Vanes.
"Ken..." ucap Vanes dengan tatapan mengingatkan karena tangannya masih digenggam erat oleh Ken.
Ken yang sadar, buru buru melepaskan tangan Vanes, "Maafkan saya Nona, maafkan saya." ucap Ken sampai menunduk.
Ken masuk keruangan Wira dengan kepala menunduk melihat Wira melihat apa yang baru saja terjadi.
"Apakah membuat jantungmu berdegup Ken?" tanya Wira dengan nada menyindir membuat wajah Ken pucat seketika.
Tawa Wira terdengar, "Aku hanya bercanda Ken, tidak perlu dipikirkan. Sekarang duduklah."
Ken bernafas lega, menuruti Wira duduk didepan Wira.
"Apa ada yang bisa saya kerjakan Tuan?"
"Besok Vanes akan menikah."
Deg... Jantung Ken serasa berhenti berdetak mendengar ucapan Wira.
"Aku ingin kau mengurus segalanya malam ini." pinta Wira.
Ken hanya diam saja, tidak mengiyakan dan juga menolak, Ia diam seperti patung yang bahkan tak mampu untuk bergerak.
Terdengar helaan nafas dari Wira, "Jika ini sulit untukmu, kau bisa meminta pada anak buahmu untuk melakukannya."
Ken menatap Wira, Ia tak menyangka Wira bisa menebak karena memang ini sulit untuknya.
"Tidak masalah Ken, tidak perlu dipaksa." ucap Wira lagi, "Mintalah pada anak buahmu."
Sekali lagi Ken masih menatap ke arah Wira, "Apa Tuan tahu?"
Wira mengerutkan keningnya lalu tertawa, "Tahu apa maksudmu? Aku bahkan tidak bisa membaca pikiran orang lain."
Ken kembali menunduk.
"Kau harus mengikhlaskan Ken, tidak semua yang kita cintai bisa kita miliki."
Lagi lagi Ken terkejut dan menatap ke arah Wira.
"Aku tahu Ken jika kau sudah lama menyukai putriku. Aku hargai perasaanmu itu."
"Tuan tidak marah?" Ken menatap Wira tak percaya.
"Tentu saja tidak, untuk apa aku marah bahkan jika Vanes mau denganmu, aku juga tidak akan melarang tapi sekali lagi perasaan seseorang tidak bisa kita paksa Ken. Jika sudah seperti ini kau pasti akan kecewa dan melampiaskan kekecewaanmu pada Faris kan?"
Ken menunduk, Ia tak menyangka diam diam Wira tahu tentangnya, "Maafkan saya Tuan, maafkan saya." ucap Ken penuh penyesalan.
"Saya pantas dipecat."
Wira malah tertawa, "Aku tidak akan melakukan apapun padamu. sekarang aku hanya meminta mu untuk mengikhlaskan Vanes, ini perintah Ken dan kau harus menurutiku."
Ken akhirnya mengangguk, "Baiklah Tuan, saya akan melakukannya."
Ken akhirnya keluar dari ruangan Wira, meskipun hatinya sakit namun Ia akan tetap menguruskan segala keperluan untuk pernikahan Vanes.
Ken baru akan turun kebawah namun langkahnya terhenti saat melihat Vanes masih berdiri didepan kamar Sara.
Ken akhirnya menghampiri Vanes.
"Tangan Nona akan terluka jika mengetuk pintu terlalu lama." ucap Ken melihat Vanes mengetuk pintu sedari tadi.
Vanes menghela nafas panjang, "Aku sudah melakukanya sedari tadi, lihat tanganku baik baik saja." ucap Vanes memperlihatkan jari tangannya yang baik baik saja.
Ken akhirnya mengetuk pintu dengan keras, Ia tahu jika Sara sengaja tidak membuka pintu.
"Jika Nona tidak membuka pintu, saya akan mendobrak pintunya." teriak Ken yang langsung membuat mata Vanes melotot.
"Hey jangan seperti itu." pinta Vanes.
Beberapa detik kemudian pintu terbuka, tampak Sara berdiri dipintu dan hanya mengenakan bra dan ****** *****.
"Berbalik, berbalik!" sentak Vanes pada Ken.
Bersambung...