TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
167


Seharian ini tidak ada jadwal pertemuan dengan Arga dan siang tadi Arga juga tidak datang untuk mengajaknya makan siang. Namun malam ini saat Sara akan pulang, Arga tampak datang untuk menjemputnya padahal Sara masih membawa mobil hari ini.


"Tinggal saja mobilmu dikantor, aman tidak akan ada apapun." ucap Arga saat Sara beralasan jika Ia membawa mobil dan tak bisa pulang bersama Arga.


"Tidak mau!"


Arga berdecak, "Aku memaksamu!"


Sara ikut berdecak, "Ku bilang aku tidak mau." ucap Sara berjalan meninggalkan Arga.


Arga tak menyerah, masih mengejar Sara hingga Ia melihat Sara berdiri didepan seorang pria asing, Arga tak mengenalnya.


"Siapa kau?" tanya Arga pada pria itu yang membuat Sara diam seribu bahasa bahkan sampai tak berkutik.


"Harusnya aku yang tanya kau ini siapa? Kenapa bisa berada dikantor bersama Sara hingga selarut ini. Apa kau karyawan baru?" tanya Pria itu yang tak lain adalah Ken. Mantan suami Sara.


"Dia kekasihku, dia datang untuk menjemputku." ucap Sara membuat Ken terkejut, tak hanya Ken namun Arga pun ikut terkejut.


Arga tersenyum penuh kemenangan mendengar ucapan Sara. Ia mengulurkan tangannya pada Ken, "Gue Arga, calon suaminya Sara. Lo siapa?"


Ken kembali shock, Ia menatap Arga bergantian menatap Sara tak percaya lalu pergi begitu saja meninggalkan Arga dan Sara.


Sara menghela nafas panjang, mau tak mau Ia masuk ke mobil Arga agar Ken tak curiga.


"Siapa dia?" tanya Arga masih dengan senyuman lebar menatap ke arah Sara yang kini duduk disampingnya.


"Bukan urusanmu, jika kau ingin mengantarku pulang, kita bisa mulai sekarang." kata Sara meminta Arga agar segera melajukan mobilnya.


"Aku hanya bertanya karena penasaran, sepertinya dia sangat berpengaruh untukmu." ucap Arga.


"Jangan sok tahu!"


"Aku tahu, apa mungkin dia mantan suami mu?"


Sara menghela nafas panjang, "Akhirnya dia tahu." batin Sara.


"Karena kau tidak menjawab artinya benar, dia mantan suamimu." kata Arga lagi.


"Jika sudah tahu sebaiknya kau diam, jangan banyak tanya!" omel Sara.


Arga tertawa, mengangguk setuju dan segera melajukan mobilnya, "Karena kau mengakui diriku sebagai kekasihmu artinya mulai hari ini kita sepasang kekasih." kata Arga yang membuat Sara melotot tak terima.


"Apa kau gila?"


"Ya anggap saja aku gila, kau yang memulainya dan kau tidak bisa mengakhiri begitu saja." kata Arga.


"Tidak, aku hanya bercanda. Jangan gila!"


"Kalau begitu, aku akan mengatakan pada Mantan suamimu jika kau berbohong." kata Arga santai.


Mata Sara kembali melotot, tak menyangka jika Arga akan menganggapnya serius.


"Gila, kau benar benar gila."


"Bagaimana?" tanya Arga.


"Terserah kau saja asal jangan berani kau menyentuhku."


Arga kembali tersenyum penuh kemenangan, "Baiklah sayang, aku tidak akan menyentuhmu sebelum kita menikah."


Sara berdecak, "Kau terlalu jauh! Kau pikir siapa yang mau menikah denganmu!"


Arga tersenyum lalu mengelus kepala Sara, "Kau benar benar mengemaskan."


"Bukankah aku sudah mengatakan untuk tidak menyentuhku!" sentak Sara.


"Ups, aku lupa." kata Arga tanpa rasa bersalah lalu kembali tertawa.


Keduanya diam sejenak sebelum Arga kembali berbicara, "Seharusnya kita makan malam dulu sayang sekaligus merayakan hari jadi kita." ajak Arga.


"Tidak, aku hanya ingin segera sampai dirumah."


"Baiklah baiklah, apapun yang kau inginkan akan ku turuti sayangku cintaku."


Sara menatap Arga lalu menggelengkan kepalanya tak percaya mendengarkan ucapan Arga yang terdengar menjijikan.


"Kau benar benar pria gila!"


Arga tertawa hingga tanpa sadar keduanya sudah sampai dirumah Wira. Arga tersenyum tipis saat melihat mobil Ayahnya juga Ayahnya nampak datang kerumah Wira.


"Kenapa Ayahmu bisa disini?" tanya Sara.


Sara kembali menatap Arga, "Kau gila!" omel Sara lalu keluar dari mobil Arga.


"Aku mengatakan yang sebenarnya." ucap Arga tanpa didengar oleh Sara dan ikut keluar dari mobil.


"Selamat malam Pak Herman." sapa Sara lalu mencium punggung tangan Herman.


"Selamat malam, kenapa kalian bisa pulang bersama?" tanya Herman pura pura tidak tahu jika Arga modus menjemput Sara.


"Nggak usah pura pura deh Pa..." omel Arga yang ikut mencium punggung tangan Herman bergantian dengan tangan Wira.


"Kebetulan sekali kalian datang bersama, ada yang ingin kami bicarakan." ucap Wira pada Herman dan Sara.


"Jangan sekarang, tidak sekarang. Kau bicarakan dulu dengan Sara." kata Herman yang akhirnya diangguki oleh Wira.


"Bicara apa Pa?" tanya Sara pada Wira.


"Memang bicara apa yah?" Arga ikut bertanya pada Herman membuat Herman gemas dan memukul lengan Arga.


"Anak bandel, kemana Zil? Seharusnya biarkan Zil yang mengemudikan mobilnya!" omel Herman.


Arga tersenyum "Zil pulang naik taksi." ucap Arga lalu mengelus lengannya yang baru saja dipukul oleh Herman.


"Apa kau sudah makan malam?" tanya Wira pada Arga.


"Belum om... kalau saya disuruh mampir untuk makan malam, mau om." ucap Arga tanpa malu dan tak peduli dengan pelototan Sara.


Herman sampai menepuk jidatnya mendengar ucapan putranya pada Wira.


"Memalukan." omel Herman.


Wira malah tertawa, "Ya sudah, ayo masuk. Kami sudah makan malam jadi biar Sara menemanimu untuk makan malam." kata Wira.


Arga tampak senang dan bersemangat, Ia bahkan masuk lebih dulu kerumah Wira.


"Ya seperti itulah putraku, harap maklum." kata Herman yang langsung masuk ke mobil karena Ia harus pulang lebih dulu.


Sara sudah menyusul Arga masuk dan Wira berada dibelakang, "Sepertinya ini akan jadi menarik." gumam Wira lalu tersenyum senang.


Selesai mandi, Sara turun ke bawah untuk makan malam, Ia melihat Arga sudah duduk dimeja makan menunggunya.


Arga tersenyum nakal ke arahnya melihat Sara memakai piyama pendek.


"Kau terlihat seksi." puji Arga.


"Jaga matamu, jangan kurang ajar!" omel Sara.


"Jika kau tidak mau orang melihatmu dengan tatapan nakal, seharusnya kau menjaga diri, tidak memakai baju seksi seperti itu!" Arga membalas omelan Sara yang memang terdengar benar.


Sara berdecak, "Kenapa kau mengaturku!"


"Kau juga mengaturku!"


"Berhentilah mengomel dan segera makan." kata Sara akhirnya.


"Baiklah sayang, baik."


Sara ikut duduk disamping Arga. Ia mulai makan malam bersama.


"Sayang ambilkan aku tempe itu." pinta Arga.


Sara berdecak namun tetap mengambilkan apa yang Arga minta.


"Sayurku kurang." pinta Arga lagi.


"Astaga, apa kau tidak bisa ambil sendiri!"


Arga tersenyum, "Tidak, kau harus belajar."


"Apa maksudmu aku harus belajar?" Sara menatap Arga heran.


"Ya belajar menjadi istri yang baik, jadi saat kita menikah nanti kau sudah terbiasa melayani aku." kata Arga yang membuat Sara tertegun.


Sara meneguk minumannya lalu beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Arga begitu saja.


"Hey... Kenapa kau pergi? Kau belum selesai makan." teriak Arga namun tak digubris oleh Sara.


Bersambung....


Jangan lupa like vote dan komenn yaaa