TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
87


Vanes sudah berdiri didepan kosan, menunggu Nani mengeluarkan motornya. Pikirannya sedikit gelisah memikirkan Faris yang berbeda seharian ini. Biasanya Faris banyak bicara namun hari ini tidak, Faris banyak melamun membuat Vanes bertanya tanya, apa yang terjadi pada Faris?


"Ayo, aku sudah tak sabar ingin makan bakso bakar lagi." ucap Nani mengingat beberapa hari sebelumnya Vanes selalu pulang membawakan bakso bakar untuk Nani dan Nani sangat menyukainya.


Vanes membonceng dijok belakang, "Kau sudah ketagihan rasanya kan?"


"Ck, aku suka bakso bakarnya bukan orangnya!"


Vanes tertawa, entah mengapa Nani tidak menyukai Faris padahal Faris orangnya sangat baik.


Nani segera melajukan motornya menuju tempat jualan Faris namun sampai disana masih tutup dan tidak ada Faris disana.


Vanes melihat ke pergelangan tangannya, sudah pukul 4 sore, seharusnya sudah buka sejak tadi mengingat Faris pulang pukul 2 siang, sangat awal.


"Apa mungkin terjadi sesuatu?" gumam Vanes.


"Pria itu pasti ketiduran, dasar pria pemalas." omel Nani.


"Apa sebaiknya kita kerumahnya saja?" ajak Vanes.


"Aku tidak mau!"


"Ayolah, antar aku." pinta Vanes.


Nani menggelengkan kepalanya, "Tidak akan!"


Vanes berdecak, "Aku akan membelikanmu martabak manis dan telor kesukaanmu."


Mata Nani langsung saja berbinar, "Benarkah?"


Vanes mengangguk, "Asal antarkan aku sekarang."


Nani tersenyum senang, "Baiklah, demi martabak aku akan mengantarmu."


Vanes tersenyum lega. Jika dikota Ia tak perlu khawatir untuk pergi kemanapun karena ada sopir pribadinya dan lagi banyak kendaraan umum seperti ojek online. Berbeda saat dikampung, tidak ada ojek online dan jarang ada angkutan umum jadi Vanes harus membujuk rayu Nani jika ingin pergi kesuatu tempat.


Nani kembali melajukan kendaraannya menuju rumah Faris. Sesampainya dirumah Faris, banyak orang orang kampung disana dan lagi ada tenda yang terpasang juga kursi yang berjejer didepan rumah Faris.


"Maaf, ada apa ini ya pak?" tanya Vanes pada salah satu orang yang berdiri disana.


"Pak Slamet meninggal."


Seketika jantung Vanes berdegup kencang, tangannya gemetar dan air matanya langsung keluar mendengar berita duka ini.


Kini Vanes paham kenapa Faris seharian ini banyak diam dan melamun, mungkin Faris sudah bisa merasakan jika Ayahnya akan segera pergi meninggalkan dunia.


Vanes berjalan memasuki rumah, tak peduli dengan tatapan heran semua orang, Vanes berjalan mendekati Faris dan Asih yang tengah menangis didepan mayat Slamet yang siap untuk dikuburkan.


Ini kali pertama, Vanes melihat Faris menangis seperti ini. Rasanya Vanes ingin memeluk Faris, memberi kekuatan pada pria itu namun Ia menahannya karena ada banyak orang disini, Tak mungkin Vanes melakukan itu. Vanes akhirnya lebih memilih memeluk Asih, Ibu Faris yang juga menangis.


"Sabar Bu ... Yang sabar." ucap Vanes yang langsung diangguki oleh Asih.


"Bapak memang lagi sakit dari kemarin tapi Ibu nggak nyangka kalau bakal pergi secepat ini huhuhu." ucap Asih sambil menangis.


"Harus dimakamkan sekarang, nanti keburu adzan magrib." ucap salah satu warga.


Mayat Slamet pun mulai diangkat untuk segera dikebumikan. Isak tangis Faris dan Asih masih terdengar hingga liang lahat ditutup dan Slamet benar benar sudah dikubur.


"Jika saja Faris tahu Bapak akan pergi secepat ini mungkin Faris akan menuruti permintaan terakhir Bapak. Faris anak durhaka. Faris durhaka. Maafkan Faris pak." tangis Faris kembali pecah lalu menciumi batu nisan Slamet.


Asih mengelus punggung Faris, "Bukan salah kamu, memang sudah takdir hidup bapak sampai disini. Jangan menyalahkan diri seperti itu."


Vanes yang berada disana tampak bingung dengan ucapan Faris dan Asih namun Ia tak berani untuk bertanya lebih lagi karena posisinya sedang berduka, tidak sopan jika menanyakan itu sekarang.


Faris dan Asih kembali menangis beberapa saat sebelum akhirnya mereka beranjak dari makam karena hari sudah semakin petang dan akan ada pengajian dirumah mereka.


Vanes masih berada dirumah Faris, Ia tampak ikut pengajian dirumah Faris. Beruntung Ia tadi mengenakan baju lengan panjang jadi Ia bisa meminjam jilbab pada Asih.


Seusai acara pengajian, para pelayat dan tetangga sudah pulang. keadaan rumah sepi, hanya ada Asih, Faris dan Vanes. Nani sudah pulang sejak sore tadi karena Nani penakut jika ada orang meninggal apalagi orang itu sudah memakai kain kafan.


"Ibu dan Mas Faris makan dulu." pinta Vanes menyiapkan makan malam untuk Asih dan Faris. Vanes bisa menebak jika Faris dan Asih belum makan sejak siang.


"Makan malam dulu mas." tawar Vanes sekali lagi.


"Aku benar benar tidak ingin makan."


Asih mengambil 2 piring lalu memberikan salah satu piring pada Faris, "Kita makan atau tidak juga tak akan membuat Bapak kembali, kita harus makan, kita harus sehat, kita harus bahagia agar Bapak disana juga ikut bahagia." ucap Asih yang akhirnya membuat Faris menerima piringnya.


Vanes tersenyum lega, Ia pun segera mengisi piring Asih dan Faris dengan nasi dan lauk.


"Mau ku suapi?" tawar Vanes.


Faris menggelengkan kepalanya, "Tidak."


Vanes menghela nafas panjang, saat ini Faris memang sedang down jadi Ia tidak mau bersikap manja atau memaksa yang mungkin akan membuat Faris marah padanya.


"Nak Vanes menginap disini saja." pinta Asih.


Vanes menggelengkan kepalanya, "Tidak Bu, saya pulang saja. Sebentar lagi Nani menjemput kesini." ucap Vanes merasa tak enak jika harus menginap apalagi mengingat tetangga Faris yang kebanyakan julid dan suka cari masalah.


"Biar aku antar!" ucap Faris.


"Nggak usah mas, kamu istirahat saja."


"Nggak usah ngeyel!"


Asih memberikan kode pada Vanes agar menurut saja karena suasana hati Faris sedang tidak baik baik saja.


"Ya sudah, aku telepon Nani biar nggak kesini."


Selesai menelepon Nani, Vanes segera berpamitan pada Asih lalu membonceng Faris yang sudah siap berada dimotornya.


Sepanjang perjalanan, Faris dan Vanes saling diam, tidak ada obrolan diantara mereka. Faris sepertinya tengah lelah begitupun dengan Vanes yang enggan bertanya apapun pada Faris hingga keduanya sampai didepan kosan Vanes.


"Makasih mas..." ucap Vanes sata turun dari motor.


Faris mengangguk dengan wajah lesunya.


"Jangan sedih lagi mas, masih ada Ibu yang harus kita bahagiakan." ucap Vanes.


"Kita?"


Vanes mengangguk, "Jika Ibu kebahagiaan Mas Faris, aku juga akan menganggap Ibu juga kebahagiaanku."


Faris tersenyum lalu membawa Vanes ke dalam pelukannya.


Entah mengapa memeluk Vanes sedikit membuatnya lebih tenang.


"Woy jangan mesum!" teriak Nani yang baru keluar dari gerbang kosan.


Faris berdecak menatap Nani kesal karena menganggu kesenangannya.


"Gue turut berduka cita atas meninggalkan Bapak Lo.


Sorry kalau gue tadi pulang duluan soalnya... Ehem, gue takut ngeliat kain kafan." ucap Nani terlihat malu.


Faris tertawa lalu mengangguk.


Vanes sedikit lega melihat Faris bisa tertawa memgingat seharian ini Ia belum melihat tawa Faris sama sekali.


Setelah Faris pulang, Vanes mengulurkan uang 50ribu pada Nani.


"Lah ini apa?"


"Buat jajan karena kamu sudah bikin Mas Faris ketawa." ucap Vanes lalu memasuki kosan.


Nani melonggo tak percaya namun sedetik kemudian Ia bersorak senang.


Bersambung....


Jangan lupa like vote dan komen yaaa.