TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
244


Arga menatap Tika dengan tatapan kesal. Ia sudah berbaik hati memberikan surat undangan untuk Tika namun gadis itu malah berulah.


Arga bisa menebak jika Tika pasti mencari tahu tentang Sara hingga Tika bisa mendapatkan informasi status Sara.


"Kenapa tatapanmu seperti tidak terima? Apa aku salah?" sinis Tika sambil menatap Sara.


Sara tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, "Tidak ada yang salah, apa yang kau ucapkan memang benar. Aku hanya seorang janda."


Tika tersenyum puas, "Permainanmu pasti sangat bagus hingga membuat Arga menelan liurnya sendiri."


"Cukup!" Sentak Arga membuat Sara mengurungkan niatnya untuk membalas ucapan Tika.


"Apa masalahnya jika aku menikahi janda? Aku mencintainya." ucap Arga dengan lantang membuat Sara tersenyum.


"Kau mengataiku tidak perawan dan sekarang menikah dengan janda, kau benar benar lucu!" umpat Tika.


"Setidaknya dia tidak perawan karena memang sudah menikah sementara kamu bahkan belum menikah dan malah menggoda banyak pria, dasar menjijikan." ucap Arga.


Tika melayangkan tangannya, ingin menampar pipi Arga namun sayang Arga dengan cepat menahan tangan Tika lalu melepaskannya dengan kasar.


Arga mengambil undangan yang harusnya untuk Tika, "Jangan berani datang ke pernikahanku, kita sudah tidak ada hubungan teman lagi mulai sekarang." ucap Arga lalu mengajak Sara pergi dari sana.


"Arga... Kau tidak bisa seperti itu padaku!" teriak Tika namun tidak digubris oleh Arga.


"Kau benar benar gila, bagaimana bisa kau mengatakan itu pada wanita yang dicintai oleh Arga?" tanya Gala merasa heran dengan sikap menyebalkan Tika.


"Tidak usah bicara jika tidak ingin membelaku!" ucap Tika menatap Gala kesal.


Gala tertawa, "Kau saja berada dipihak yang salah jadi bagaimana aku akan membelamu?'


Tika masih menatap Gala kesal, "Dasar brengsek!" umpat Tika lalu pergi dari club Gala.


"Dia sendiri yang bersikap brengsek, kenapa harus marah padaku juga." gerutu Gala.


Sementara diluar, Arga mengajak Sara memasuki mobil. Arga segera melajukan mobilnya meninggalkan club Gala.


Sepanjang perjalanan menuju kantor, Sara hanya diam saja membuat Arga merasa bersalah atas ucapan Tika.


"Jangan dipikirkan." ucap Arga.


Sara mengangguk, "Apa yang temanmu ucapkan memang benar."


"Tidak seperti itu juga, dia memang keterlaluan. Bagaimana bisa dia mengatakan itu padamu." omel Arga.


Sara tersenyum, Ia memang sakit hati dengan ucapan Tika namun Ia juga merasa senang karena Arga membelanya didepan Tika. Arga bahkan memutus hubungan pertemanan dengan Tika si gadis penggoda yang selalu bersikap tak tahu malu itu.


"Sudahlah mas jangan diperpanjang lagi. Kamu memutus hubungan dengan Tika saja sudah cukup."


Arga tersenyum tengil, "Jadi apa kau merasa cemburu jika aku dan Tika masih berteman?"


Mendadak pipi Sara memerah malu, "Tidak, bukan begitu."


Arga bersorak gembira, "Akhirnya kau mengakui juga jika cemburu."


Sara menghela nafas panjang, tak lagi protes dengan ucapan suaminya karena jujur dirinya memang cemburu jika Arga masih berteman dengan Tika.


...****************...


Hari berganti...


Setelah menjalani perawatan dirumah sakit selama seminggu akhirnya Rani diperbolehkan untuk pulang.


Baik Rani maupun Dylan terlihat senang setelah mendengar izin dari Dokter jika Rani bisa rawat jalan dirumah.


"Mungkin untuk 1 bulan ke depan kau bisa bekerja dirumah saja, tidak perlu ke kantor." kata Dylan saat keduanya sudah berada didalam mobil perjalanan pulang kerumah Wira.


"Kenapa begitu? Aku tidak mau!" tolak Rani.


Rani menatap Dylan, seolah yang baru saja berbicara padanya bukan Dylan. jika benar Dylan tidak mungkin berbicara sekeras itu padanya mengingat biasanya suara Dylan selalu terdengar lembut.


"Lagipula aku sudah bilang dengan mas Faris dan Mas Faris setuju kau bekerja dari rumah." tambah Dylan.


"Tapi aku tidak mau!"


"Apa alasanmu?" tanya Dylan terlihat frustasi dengan keras kepalanya Rani.


"Jika tidak ada aku bisa bisa kau-"


"Aku tidak akan tergoda dengan siapapun, jangan khawatirkan hal itu!" potong Dylan seolah mengerti apa yang ditakutkan oleh Rani.


Rani terdiam cukup lama sebelum akhirnya Ia mengangguk, "Baiklah jika memang harus begitu, aku akan bekerja dirumah."


Dylan terlihat lega lalu mengelus kepala Rani, "Jangan berpikir berlebihan, aku tidak akan melakukan sesuatu yang jahat padamu, aku tidak akan menyakitimu."


Rani tersenyum lega lalu mengangguk, "Baiklah, aku percaya padamu."


Kepulangan Rani disambut baik oleh keluarga Wira. Apalagi hari ini adalah weeekend, semua orang berada dirumah menunggu kepulangan Rani.


"Tadinya Budhe udah siap siap mau jagain kamu trus Dylan telepon katanya kamu sudah boleh pulang." ucap Asih sambil memeluk tubuh ringkih keponakannya.


"Maaf Rani, kami nggak bisa datang kerumah sakit karena sibuk mengurus persiapan pernikahan." ucap Wira dan Sri bersamaan.


"Tidak apa apa Pak, Saya juga sudah baik baik saja."


"Sebaiknya kamu segera ke kamar untuk istirahat Rani dan untuk urusan pekerjaan kamu nggak perlu khawatir, kamu bisa bekerja dari rumah selama sebulan." ucap Faris mengulang ucapan Dylan saat di mobil.


"Sebenarnya tidak perlu seperti itu mas, aku sudah baik baik saja. Bekerja dikantor pun sudah tidak masalah." kata Rani berharap Ia di izinkan pergi ke kantor.


"Tidak bisa Rani, tubuhmu masih ringkih jadi sebaiknya kau menurut saja." pinta Faris yang langsung diangguki oleh Rani.


Setelah mengantar Rani ke kamarnya, Dylan berniat pulang kerumahnya namun saat keluar dari kamar Rani, Ia berpapasan dengan Faris.


"Papa Wira mau ngomong sama kamu." kata Faris.


Dylan mengangguk, mengikuti langkah kaki Faris menuju taman belakang dimana sudah ada Wira dan juga Asih disana.


Mendadak jantung Dylan berdegup kencang karena Ia merasa Wira akan mengintrogasinya bersama Asih.


Mau bagaimanapun Wira adalah bosnya dikantor jadi Ia bisa merasa sangat gugup saat ini.


Dylan duduk didepan Wira, kepalanya menunduk tak berani menatap Wira.


"Santai saja, apa kau gugup?"


Dylan mengangguk, "Sedikit pak."


Terdengar tawa renyah Dylan, "Jadi bagaimana? Apa kau sudah menyesali perbuatanmu?"


Dylan mengangguk, "Saya sangat menyesal."


"Jangan lakukan hal seperti itu lagi, tahan nafsumu meskipun aku tahu semua itu memang sulit tapi kau tidak bisa merusak anak gadis orang." kata Wira yang langsung diangguki oleh Dylan.


"Nanti setelah acara Pak Wira selesai, aku dan Faris akan pulang ke kampung untuk berbicara dengan orangtua Rani, berdoa saja semoga hati mereka luluh dan kalian bisa segera menikah." ucap Asih.


Dylan menatap Asih penuh haru, "Terima kasih Bu, Terima kasih banyak."


Faris yang ada disamping Dylan langsung menepuk bahu Dylan, "Jaga Rani baik baik, jika sampai kau menyakiti Rani, kau akan berurusan denganku!"


Dylan tersenyum lalu mengangguki ucapan Faris.


Bersambung...