
Bik Sri menatap ke arah Vanes yang berdiri didepan pintu kamarnya.
Ia tersenyum lalu kembali melanjutkan memasukan baju ke dalam koper.
"Bik Sri mau pergi? Mau resign? Kenapa nggak bilang sama aku?" tanya Vanes dengan raut wajah cemas.
Bik Sri menggelengkan kepalanya, "Nggak resign Non, Bibik cuma mau pulang kampung sebentar."
Vanes berjalan mendekat lalu duduk di pinggir ranjang Bik Sri, "Kalau cuma sebentar kenapa bajunya dibawa semua Bik?" tanya Vanes melihat Bik Sri memasukan baju ke dalam 2 koper.
"Baju baju bibik banyak yang nggak kepake disini jadi rencananya mau di kasih ke adiknya Bibik yang ada dikampung."
Vanes menatap Bik Sri tak percaya, "Bener gitu Bik?"
Bik Sri mengangguk, "Bener Neng, masa nggak percaya sama Bibik. Lagian Bibik juga masih butuh uang buat biaya sekolah anak jadi nggak mungkin kalau Bik Sri berhenti kerja sekarang." ungkap Bik Sri yang akhirnya membuat Vanes percaya.
"Vanes pikir Bik Sri nggak enak nolak cintanya Papa makanya Bik Sri mau cabut aja dari sini."
Bik Sri tertawa, "Nggak dong Non, justru Bibik pulang ini mau usaha, ngomong sama anak Bibik supaya merestui Bibik menikah lagi."
Seketika bibir Vanes menyunggingkan senyum, "Semoga anak Bik Sri merestui keinginan Bik Sri dan dia mau tinggal disini bareng kita." kata Vanes mendoakan Bik Sri.
"Aamiiin... Semoga saja ya Non."
"Tapi Papa sudah tahu kan kalau Bik Sri mau pulang kampung?" tanya Vanes memastikan.
"Sudah kok Non, semalam Bibik sudah bilang sama Tuan."
"Wah, diam diam Bik Sri dan Papa semakin dekat." goda Vanes yang hanya membuat Bik Sri tersenyum malu.
Setelah selesai mengemasi baju baju miliknya, Bik Sri pergi ke dapur untuk memberikan list daftar menu makanan harian yang harus dibuat oleh Bik Tri.
"Nanti kalau belanja, ambil uangnya di atm ini. Ambil secukupnya aja." ucap Bik Sri pada Bik Tri.
"Ya ya, aku juga sudah tahu. Sebelum kau datang kesini aku lah yang mengurus urusan dapur tapi setelah kau datang, aku di usir dari dapur dan dibuang ke laundry." ucap Bik Tri dengan nada tak suka.
Sejak awal kedatangan Bik Sri, Bik Tri memang tak suka dengan Bik Sri karena rasa masakan Bik Sri yang enak membuat Tuan Wira memilih Bik Sri untuk mengurus dapur.
"Maaf jika ada kata yang mungkin menyinggungmu." ucap Bik Sri merasa tak enak dengan Bik Tri.
Bik Tri melenggos meninggalkan Bik Sri yang masih berdiri didapur.
"Sudah siap siap?" suara Wira terdengar datang dari belakang rumah.
"Sudah Tuan, tinggal berangkat."
"Keretanya masih pukul 5 sore kan?"
Bik Sri mengangguk, "Ya Tuan, saya mungkin berangkat dari sini nanti pukul 4 sore."
Wira mengangguk, "Nanti ku antar."
Bik Sri langsung menggelengkan kepalanya, "Tidak Tuan, tidak perlu. Saya sudah pesan ojek langganan ke pasar untuk mengantar sampai stasiun."
"Aku akan tetap mengantarmu." ucap Wira lagi, "Jika kau merasa tidak enak, aku akan mengajak Vanes, bagaimana?" tawar Wira yang akhirnya diangguki oleh Bik Sri.
"Ya sudah Tuan jika memang seperti itu."
Wira tersenyum lega karena Bik Sri tak lagi menolak tawarannya, "Istirahatlah dulu agar kau tak kelelahan saat di kereta."
Bik Sri mengangguk, "Baik Tuan"
Bik Sri menatap punggung Wira yang berjalan meninggalkannya, Ia tersenyum, entah mengapa Wira selalu membuat dirinya merasa nyaman.
"Gila, baru kerja beberapa tahun aja udah bisa mengaet Tuan Wira." celetuk Bik Tri yang entah datang dari mana.
"Maksudnya apa?" Bik Sri pura pura tak paham meskipun sebenarnya Ia tahu apa maksud Bik Tri.
"Ya kamu itu, nggak nyadar umur, sudah tua kok masih berani menggaet Tuan Wira."
Bik Sri menggelengkan kepalanya, tak setuju dengan ucapan Bik Tri, "Kalau ngomong hati hati, aku sama sekali ngga ada niat buat dekati Tuan Wira."
Bik Tri tersenyum sinis, "Lalu maksud kamu, Tuan Wira yang dekati kamu? Heh sadar diri dong, kamu sama aku aja kalah muda dan cantik, kenapa juga Tuan mau dekati kamu. Jangan jangan kamu pake pelet ya!" tuduh Bik Tri.
Tepat pukul 4 sore, Bik Sri membawa 2 kopernya ke dalam mobil dibantu Mang Ujang.
"Makasih ya Mang."
Mang Ujang mengangguk, "Jangan lupa oleh olehnya Bik." pinta Mang Ujang.
"Siap Mang."
Bik Sri dan Mang Ujang segera masuk ke mobil dimana sudah ada Vanes dan Wira yang duduk dibangku belakang.
"Harusnya Bik Sri yang duduk disini sama Papa, biar Vanes yang duduk didepan sama Mang Ujang." goda Vanes.
"Jangan gitu, bikin malu saja kamu itu!" omel Wira.
Vanes tertawa renyah, "Yang malu Papa apa Bik Sri nih?"
"Dua duanya Non." tambah Mang Ujang ikut menggoda Bik Sri dan Wira.
Hanya 20 menit perjalanan, mereka akhirnya sampai di stasiun kereta.
Mang Ujang membantu Bik Sri membawa kopernya.
"Keretanya sudah ada, sudah dapat tempat duduk kan?" tanya Wira.
Bik Sri mengangguk, "Sudah Tuan."
"Langsung masuk saja kalau begitu." pinta Wira.
"Baik Tuan, saya pamit pulang dulu. Terima kasih sudah mengantar saya." ucap Bik Sri yang langsung diangguki oleh Wira.
"Semoga kamu kembali membawa kabar baik."
Bik Sri tersenyum.
"Papa jangan nangis dong." goda Vanes lagi.
Wira yang gemas mencubit pipi Vanes membuat semua orang tertawa.
Setelah Bik Sri masuk ke kereta, Wira masih menunggu disana hingga kereta berangkat barulah Wira kembali ke mobil.
"Semoga dia kembali membawa kabar baik." gumam Wira yang saat ini sudah duduk disamping Vanes.
"Jangan khawatir Pa... Kalau sudah jodoh nggak akan kemana, Ya nggak Mang?"
Mang Ujang mengangguk, "Benar Tuan, jujur saya pernah suka sama Bik Sri tapi Bik Sri nolak saya karena saya punya istri." canda Mang Ujang yang membuat Vanes tergelak.
"Itu mah yang gila kamu!" omel Wira.
Sampai dirumah, Vanes dan Wira dikejutkan oleh mobil Arga yang terparkir didepan istana Wira.
"Apa mereka sudah pulang?" gumam Wira.
"Mungkin sudah Pa."
Wira dan Vanes masuk, sudah ada Arga yang duduk diruang tamu.
"Sore Om..." sapa Arga sambil cengegesan seperti biasa, "Sore calon mbak ipar."
"Sara sudah pulang?" tanya Wira.
"Sudah dong Om... pulangnya lebih awal soalnya mau kencan."
Wira dan Vanes tersenyum, "Bagus, ada perkembangan nih?"
"Ada dong Om."
"Ayo berangkat sekarang." suara Sara mengejutkan semua orang dan membuat semua orang menatap ke arahnya.
Arga menatap Sara tanpa kedip, "Kamu bukan Sara kan? Pasti kamu bukan Sara!"
Bersambung...