TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
109


Faris menatap ke arah Sara, Ia merasa ucapan Sara menganggu dirinya namun Sara yang ditatap oleh Faris justru ikut menatap Faris hingga membuat Faris memutuskan tatapan mata mereka.


"Benar kata Non Sara, sepertinya Aden dan Non Vanes tinggal disini lebih dulu agar dekat dengan Tuan Wira." tambah Bik Sri.


Vanes menatap ke arah Faris, seolah setuju dengan pemikiran Sara dan bik Sri.


"Nanti kita bicarakan berdua." ucap Faris yang langsung diangguki oleh Vanes.


Sara, Bik Sri dan Ken pun memutuskan untuk pulang karena mereka sudah berada dirumah sakit seharian.


Kini tinggalah Faris dan Vanes yang duduk di pelataran mushola rumah sakit.


"Tidurlah, kamu pasti lelah." pinta Faris yang tadi sempat meminta Vanes ikut pulang namun Vanes menolak.


"Aku belum mengantuk."


Faris menghela nafas panjang, Ia tahu jika Vanes masih menunggu jawabannya tentang tinggal dikota.


"Aku tidak masalah jika kamu tinggal disini sementara." kata Faris menjawab keinginan Vanes, "Hanya saja mungkin aku tidak bisa ikut."


"Kenapa mas?" Wajah Vanes tampak kecewa.


"Jika kita pindah kesini, kita harus memulai semua dari awal lagi Vanes lagipula masih ada Ibu yang harus ku jaga." kata Faris yang membuat Vanes menghela nafas panjang.


"Jadi kau tidak akan ikut tinggal disini?"


"Maafkan aku sayang." Faris mengenggam tangan Vanes.


"kamu bisa memulai bekerja diperusahaan Papa jika mau."


"Tapi aku tidak mau, kau cukup tahu bagaimana aku." kata Faris yang akhirnya diangguki oleh Vanes.


Vanes yang kelelahan akhirnya tidur juga dengan berbantalkan paha Faris.


Vanes bangun setelah mendengar suara adzan dari ponsel Faris.


"Mas nggak tidur?" tanya Vanes langsung beranjak begitu saja karena Ia sadar tidur dikaki Faris sementara Faris duduk, tidak tidur semalaman.


"Nggak bisa tidur." balas Faris tersenyum memperlihatkan giginya.


"Gara gara aku jadi nggak bisa tidur ya mas?" Vanes merasa tak enak.


"Nggak sayang memang nggak bisa tidur kok."


Faris dan Vanes akhirnya beranjak untuk sholat subuh berjamaah. Selesai sholat, Vanes menyempatkan untuk melihat keadaan Papanya bergantian dengan Faris setelah itu keduanya keluar untuk mencari sarapan.


"Aku pikir bakal ikut mas Faris saja." kata Vanes membuat Faris menghentikan kunyahannya.


"Maksud kamu apa sayang?"


"Aku nggak akan nungguin Papa disini. Setelah menikah aku sudah jadi tanggung jawab Mas Faris, jadi kemanapun Mas Faris pergi, aku akan ikut." ucap Vanes.


Faris tersenyum, "Tapi aku izinkan kamu buat disini merawat Papa." kata Faris.


Vanes menggelengkan kepalanya, "Nggak apa apa mas, masih ada Bik Sri dan Sara yang akan merawat Papa disini."


Faris menghela nafas panjang, Ia tahu istrinya sedang berusaha menjebak dirinya agar mau tinggal disini bersamanya.


"Kalau memang itu keputusan kamu, aku nggak masalah. Setelah 3 hari nanti cuti kita habis dan kita bisa pulang." ucap Faris cukup membuat Vanes terkejut.


Vanes pikir setelah Ia mengatakan itu membuat Faris mengalah dan mau tinggal dikota namun ternyata Vanes salah. Faris benar benar teguh dengan pendiriannya.


"Dihabiskan sayang." pinta Faris melihat Vanes hanya mengaduk aduk makanannya.


"Tiba tiba nggak nafsu makan!" ketus Vanes.


"Ya sudah, kita bayar saja lalu kembali kerumah sakit." kata Faris berdiri lebih dulu membuat Vanes mau tak mau ikut berdiri.


"Dasar tidak peka!" omel Vanes dengan suara pelan lalu mengikuti langkah kaki Faris keluar dari tenda warung pinggir jalan.


Vanes dan Faris kembali masuk ke rumah sakit dimana sudah ada Sara disana membawa rantang berisi makanan.


"Terima kasih banyak Sara, maaf merepotkan mu." ucap Vanes yang langsung diangguki oleh Sara.


"Kalau begitu aku berangkat dulu, jangan lupa untuk selalu mengabari ku tentang perkembangan Paman." kata Sara.


"Baiklah."


Sara segera pergi meninggalkan Vanes dan Faris.


"Mau makan lagi? bukankah kau juga belum makan tadi?'' tanya Faris.


Vanes hanya diam saja, melihat orang disekitar ruang ICU lalu berjalan menghampiri seorang cleaning service.


"Untuk sarapan Bapak." ucap Vanes memberikan rantang pemberian Sara pada Pria paruh baya yang berprofesi cleaning service dirumah sakit itu.


"Makasih banyak Neng, kebetulan Bapak belum sarapan." ucap Pria itu yang langsung diangguki oleh Vanes.


Vanes kembali mendekati Faris, "Kalau nggak diterima, nggak enak sama Sara jadi dikasih sama bapak itu aja." jelas Vanes membuat Faris tersenyum lalu mengelus kepala Vanes.


Sementara itu Sara kembali memasuki mobilnya dimana Ken sudah menunggunya didalam mobil.


"Sudah kuberikan pada mereka." ucap Sara.


"Apa Nona Vanes menerimanya?" tanya Ken.


"Jelas saja diterima, mana mungkin mereka menolak lagipula suami Vanes kan miskin, pasti mereka berhemat selama disini." ungkap Sara yang langsung membuat Ken tersenyum sinis.


Apa yang dikatakan Sara hanya omong kosong karena Ken baru saja melihat Vanes dan Faris keluar dari tenda penjual makanan didepan rumah sakit.


Ken segera melajukan mobilnya menuju kantor, sepanjang perjalanan Ken mencuri pandang ke arah Sara yang sibuk memainkan ponselnya.


"Kau tidak perlu menungguku dikantor, lebih baik kau berjaga dirumah sakit." pinta Sara saat sudah sampai dikantor.


"Tidak Nona, Tuan meminta saya menjaga Nona jadi saya akan tetap disini."


"Dasar keras kepala!" omel Sara keluar dari mobil dan meninggalkan Ken yang masih berada dimobil.


Sara berada diruangannya ditemani oleh Ken, beberapa karyawan masuk untuk meminta tanda tangan Sara.


Sara melihat para karyawan wanita itu melirik ke arah Ken yang duduk disofa.


Entah mengapa Sara sedikit tak suka dengan tatapan bawahannya itu.


"Jika sudah selesai keluar sekarang!" sentak Sara sedikit emosi membuat para karyawannya langsung keluar.


Setelah para karyawannya keluar, Sara melihat Ken beranjak dari duduknya.


"Aku harus pergi."


"Kemana?"


"Ruang ICU dirumah sudah selesai dan Tuan Wira bisa dibawa pulang untuk rawat jalan."


"Gila, kenapa tidak dibiarkan dirumah sakit saja? Dan lagi dirumah tidak langsung dikontrol oleh dokternya!" Sara tampak tak terima.


"Ini demi keamanan Tuan Wira, banyak musuh yang mungkin senang mendengar kabar Tuan Wira dirumah sakit jika kita tetap membiarkan Tuan dirumah sakit, aku merasa takut akan ada yang menggunakan kesempatan ini untuk membunuh Tuan." ucap Ken yang membuat Sara lemas seketika karena mengingat Orangtuanya yang mati dibunuh oleh musuh mereka.


"Nona fokus saja mengurus perusahaan dan saya akan fokus menjaga Tuan Wira." kata Ken lalu menepuk bahu Sara dan pergi dari ruangan Sara.


Bersambung....


sekedar inpo gaes, sebelum part ini udah dibenerin ya sama author... Maaf ya gaes author hanya manusia biasa suka nggak konsen smpai kadang lupa sama poin2 pntng ... Sekali lagi maaf yaa.. Kalau mau bisa dibaca ulang.


Dan setelah baca part ini aku yakin kalian pasti akan ngehujat Faris gara gara nggak mau diajak tinggal dikota hihihi sabar sabarr ya gaes... Author bakal paksa si Faris biar mau tinggal dikota wesssssss...


Jan lupa like vote dan komennn yaaa...


Insha Allah 1 part lagi untuk hari ini .