TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
35


Semalaman Vanes tidak bisa tidur nyenyak karena masih memikirkan tentang Faris. Memikirkan tentang dirinya yang tak bisa merawat luka luka Faris juga tentang Faris yang mungkin akan pergi meninggalkan dirinya.


Vanes sempat keluar untuk mencari keberadaan Faris namun sepertinya pria itu tidak ingin diganggu karena pintu kamar Faris dikunci dari dalam.


Vanes menghela nafas panjang, rasanya malas sekali untuk keluar apalagi melihat wajah Rizal, geram sekali Vanes dengan pria plin plan yang suka mempermainkan perasaan orang.


Pintu kamar Vanes dibuka dari luar karena memang Ia tak mengunci pintu kamarnya. Tampak Rizal yang sudah rapi memakai setelan kantor berjalan menghampirinya.


"Ayo sarapan bersama." ajak Rizal namun Vanes acuh pura pura sibuk memainkan ponselnya.


Rizal terlihat geram dan langsung mengambil ponsel Vanes.


"Ku bilang ayo sarapan bersama." ajak Rizal lagi.


Vanes akhirnya beranjak dari ranjang. Bukan karena ajakan Rizal namun karena Vanes ingin melihat keadaan Faris karena Vanes yakin Faris sudah berada dimeja makan saat ini.


Setelah membersihkan diri, Vanes keluar dan melihat Rizal masih berada dikamarnya, duduk dipinggir ranjang.


Vanes mendengus sebal karena Ia ingin berganti pakaian dan terpaksa harus kembali masuk ke kamar mandi.


Setelah siap, Vanes dan Rizal turun bersama. Vanes mengerutkan keningnya saat melihat meja makan kosong tidak ada Faris disana.


"Apa Mas Faris belum bangun?" tanya Vanes pada Bik Sri yang baru saja mengantar segelas susu untuk Vanes dan Rizal.


Bik Sri tampak menunduk seolah tak mau menjawab pertanyaan Vanes.


"Aku akan membangunkan Mas Faris." kata Vanes beranjak dari duduknya namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Rizal.


"Faris sudah tidak disini, aku sudah mengusirnya."


Brakkk... Vanes langsung mengebrak meja makan dan menatap tajam Rizal.


"Bagaimana bisa kau melakukan itu tanpa persetujuan dariku!"


Rizal tertawa hambar, Ia tak menyangka Vanes berani protes padanya seperti ini.


"Aku ini kepala rumah tangga jadi untuk apa aku meminta persetujuan darimu."


"Bullshit, sejak kapan kau menganggap dirimu seperti itu. Bukankah selama ini kau selalu sibuk dengan wanita simpananmu itu!" ucap Vanes dengan emosi.


"Semua sudah berlalu, aku tidak akan berhubungan dengannya lagi dan aku ingin memperbaiki pernikahan kita."


Vanes tertawa sinis, "Kau pikir semudah itu? semua tidak akan kembali dengan mudah. Aku sudah tidak sudi bersama mu lagi." kata Vanes lalu pergi dari meja makan.


Rizal mengepalkan tangannya, dadanya terasa sesak mendengar ucapan Vanes.


Kini Ia benar benar sudah kehilangan sosok Vanes yang selalu lemah lembut padanya.


Rizal beranjak dari duduknya, Ia tak akan menyerah untuk mendapatkan hati Vanes lagi. Rizal kembali menaiki tangga, ingin masuk ke kamar Vanes namun tidak bisa karena pintu kamar dikunci.


Rizal berdecak, Ia berbalik dan akan pergi ke kantor saja namun suara pintu terbuka menghentikan langkahnya.


"Mau kemana?" tanya Rizal saat melihat Vanes mengenakan baju rapi seperti ingin pergi keluar.


"Bukan urusanmu!" sentak Vanes dengan berani.


Sudah habis kesabaran Rizal, Ia menahan lengan Vanes lalu mengenggamnya erat, sangat erat hingga Vanes meringgis kesakitan.


"Ku tanya sekali lagi mau kemana?"


Vanes tak menjawab, Ia masih meringgis kesakitan membuat Rizal melepaskan tangan Vanes.


"Kau mau mencari Faris?" tebak Rizal.


"Jangan pernah berfikir kau bisa menemui Faris lagi!"


Vanes menatap Rizal tak percaya, "Kenapa aku tidak bisa? Aku bisa melakukan apapun tanpa izin darimu!"


Seketika tangan Vanes mengayun ingin menampar Rizal namun Rizal menahan tangan Vanes hingga tamparan tak sampai dipipinya.


"Bukankah Papa memiliki penyakit lemah jantung? Apa yang terjadi jika Papa sampai tahu kalau putri kesayangannya ini menyukai iparnya sendiri?"


"Brengsek!" umpat Vanes tak menyangka jika Rizal benar benar sangat licik.


"Kau yang lebih dulu berselingkuh dan sekarang kau malah menjadikanku kambing hitam, benar benar brengsek!"


Rizal tertawa, "Aku benar benar akan berubah, percayalah padaku sayang. Kita akan menjadi pasangan suami istri yang cocok jadi jangan pernah berpikir akan menemui Faris lagi. Aku tidak akan diam saja jika kau berani melakukan itu." kata Rizal kembali memperlihatkan senyum liciknya lalu pergi meninggalkan Vanes.


Vanes masih berdiri ditempatnya, mengepalkan tangan sambil menatap Rizal penuh kebencian. Ia kini merasa terpenjara oleh ancaman Rizal. Pria itu benar benar sangat brengsek.


Sementara itu Rizal kini tersenyum puas karena berhasil mengusir Faris dan menguasai Vanes. Ia kini merasa sangat lega dan tak harus merasa takut jika Faris atau Vanes saling mendekat.


Sampai dikantor, Rizal langsung menuju ruangan Faris disana Ia meminta Nisa untuk membereskan barang barang milik Faris.


"Buang saja, kau kembali ke bagian asalmu." pinta Rizal yang tentu saja membuat Nisa terkejut.


"Pak Faris resign?"


"Aku memecatnya, jangan banyak tanya, lakukan apapun yang ku minta. Aku akan segera mencari pengganti Faris." kata Rizal lalu keluar dari ruangan Faris.


Nisa tertunduk lesu, "Padahal aku sangat menyukai Pak Faris." ucapnya lalu segera mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Rizal.


Rizal membuka pintu ruangannya namun Ia merasa aneh karena ruangannya masih kosong padahal biasanya sudah ada Mira disana.


Rizal mengambil ponselnya untuk menghubungi Mira namun nomor ponsel gadis itu tidak aktif.


"Kemana dia!" Decak Rizal lalu duduk dikursinya.


Pintu ruangan Rizal terbuka, tampak Mira berjalan lesu memasuki ruangan.


"Ada apa denganmu?" tanya Rizal merasa heran.


"Aku sedang tidak enak badan, rasanya lemas sekali."


Rizal menghela nafas panjang, "Kalau begitu istirahat saja diranjang, tidak usah memikirkan pekerjaan."


Mira mengangguk dan langsung masuk keruangan pribadi milik Rizal.


Rizal kembali menghela nafas panjang, padahal Ia sudah berencana ingin mengakhiri hubungannya dengan Mira hari ini juga namun wanita itu malah sakit, Rizal terpaksa mengundur niatnya karena tak mau membuat Mira semakin sakit.


...****************...


Faris baru saja turun dari ojek online ya Ia pesan. Setelah turun dari kereta, Faris memang memesan ojek online untuk sampai dirumahnya.


Faris menghela nafas panjang, melihat ke arah rumah sederhana yang Ia tanggali sejak kecil.


Dengan langkah berat, Faris berjalan memasuki pekarangan rumah.


Faris langsung membuka pintu yang tak terkunci. Ia masuk begitu saja ke kamarnya untuk meletakan tas ransel berisi pakaiannya. Faris menatap wajahnya dicermin, luka memar diwajahnya pasti akan membuat kedua orangtuanya shock namun Faris memang bersalah dan pantas mendapatkan ini semua.


Faris keluar dari kamar, berjalan menuju dapur dimana Ibunya tengah memasak makan siang untuk Bapaknya yang belum pulang dari ladang.


"Bu..." panggil Faris lirih.


Asih berbalik menatap ke arah Faris. Awalnya Asih terkejut namun sedetik kemudian Asih malah tersenyum dan menghampiri Faris.


Tanpa menanyakan banyak hal, Asih langsung memeluk Faris, menepuk punggung Faris seolah tahu apa yang Faris rasakan saat ini.


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen yaaa