
Faris menghentikan laju mobilnya disebuah Villa dekat pantai. Karena ini sudah malam, rencananya mereka akan menginap di villa lebih dulu sebelum besok bermain seharian dipantai.
"Nginep disini nggak apa apa kan mbak?" tanya Faris.
Vanes mengangguk , "Aku boleh minta sesuatu nggak?"
"Minta apa mbak? Bilang saja."
"Jangan panggil aku Mbak kalau kita lagi berdua."
Faris menggelengkan kepalanya,
"Kenapa?" heran Vanes.
"Kalau mbak Vanes masih sama Mas Rizal aku tetap akan manggil Mbak." kata Faris.
Vanes berdecak namun Ia juga tidak memaksa Faris.
Keduanya akhirnya turun untuk memesan kamar dan apesnya hanya tersisa 1 kamar divilla itu.
"Gimana mbak? apa kita cari kamar lain aja?" tawar Faris.
Vanes menggelengkan kepalanya, "Disini aja nggak apa apa Ris, udah terlalu malam aku juga udah kerasa ngantuk."
"Ohh oke mbak."
Faris akhirnya menuruti Vanes meskipun sebenarnya Ia juga sedikit ragu.
"Aku tidur disofa aja nggak apa apa mbak." kata Faris saat memasuki kamar Villa dan ada sofa panjang disana.
"Tidur diranjang berdua nggak apa apa Ris, kan cuma tidur." kata Vanes dengan santainya.
Faris menggelengkan kepalanya, "Enggak mbak, aku tidur disofa saja." tolak Faris.
Lagi lagi Vanes tak memaksa, membiarkan Faris pada pilihannya.
Setelah mandi bergantian, Vanes dan Faris segera berbaring ditempat masing masing, karena kelelahan perjalanan panjang hari ini mereka akhirnya terlelap.
Keduanya bangun setelah mendengar suara burung berkicau yang menandakan waktu sudah pagi.
Faris tak segera beranjak, Ia masih duduk untuk mengumpulkan nyawanya bersamaan dengan Vanes yang bangun dan merentangkan kedua tangannya.
Faris tersenyum kecil saat melihat apa yang dilakukan Vanes.
"Kok ketawa? Muka ku emang jelek kalau lagi bangun tidur." kata Vanes padahal Faris tidak menertawakan masalah itu, Faris merasa Vanes tetap cantik dalam kondisi apapun.
"Enggak kok mbak, lucu aja liat mbak pas bangun tidur nguap trus ngrentangin tangan gitu." jelas Faris.
Vanes memanyunkan bibirnya, Ia beranjak dari ranjang dan segera memasuki kamar mandi.
Vanes selesai mandi, Ia keluar dengan memakai jubah mandi. Faris menahan diri untuk tidak melihat karena takut tergoda jadi Faris pun segera masuk ke kamar mandi.
Selesai mandi, keduanya keluar dari kamar untuk sarapan pagi setelah itu mereka akan bermain dipantai.
"Wah indah sekali, udaranya juga sejuk." puji Vanes, "Sudah lama sekali aku tidak pergi ke pantai." tambah Vanes.
Faris tersenyum, melihat raut wajah bahagia Vanes menikmati suasana pantai dipagi ini.
Vanes bahkan berlari kesana kemari hingga bermain air seperti anak kecil.
"Aku menyukai tempat ini, meskipun terpencil tapi disini sangat indah dan membuatku tenang." kata Vanes lagi.
"Nikmati saja mbak, aku akan menunggu disini." kata Faris memilih duduk dihamparan pasir sambil memandangi Vanes dari kejauhan.
"Ck, tidak seru sekali." celetuk Vanes memanyunkan bibirnya.
Faris tertawa dan akhirnya ikut bermain bersama Vanes. Mereka berlari kesana kemari, terlihat bahagia seperti sepasang kekasih tanpa beban.
"Rasanya lelah sekali." keluh Vanes yang kini berbaring dihamparan pasir.
Faris pun ikut berbaring disamping Vanes.
Keduanya masih mengatur nafas yang tersenggal karena berlarian.
Pantai masih sepi pengunjung jadi tidak aneh jika keduanya berbaring disana.
Tangan Faris tiba tiba mengenggam tangan Vanes dan Vanes pun tidak menolak. Vanes malah menyamping agar bisa memeluk Faris.
"Rasanya nyaman sekali seperti ini." gumam Vanes membuat Faris diam tertegun.
"Woyy banyak anak kecil!" teriakan seseorang dari jauh mengejutkan Faris dan Vanes.
Keduanya segera bangun dan tertawa geli.
Vanes melihat dari kejauhan tampak anak anak Sd berdatangan, mereka terlihat sedang rekreasi.
"Mohon maaf jika kami menganggu ketenangan anda berdua karena kami tidak ingin mata anak didik kami tercemar." kata Guru wanita itu sambil tersenyum geli.
"Kami yang seharusnya minta maaf karena-"
"Saya paham, pengantin baru memang suka seperti itu." kata Guru wanita itu lalu pergi meninggalkan Vanes dan Faris yang bingung dengan ucapan guru tadi.
Tiba tiba Faris tertawa, "Beruntung mereka mengira kita ini pasutri baru bukan orang mesum."
Vanes pun ikut tertawa,"Benar sekali, bisa bisa kita digrebek."
Vanes dan Faris kembali bermain air, kali ini mereka bermain bersama anak anak Sd.
Bibir Vanes tak henti hentinya mengulas senyum, Ia merasa sudah lama sekali tidak merasakan kebahagiaan seperti ini. Tepatnya setelah menikah, Vanes jarang tersenyum lebar mengingat perlakuan Rizal yang selalu menyakiti dirinya.
Menjelang siang hari, mereka baru berhenti bermain dan kembali ke villa untuk mandi dan makan siang.
"Seafoodnya enak." puji Vanes saat menikmati seafood saus padang, menu makan siang mereka.
"Mau nambah lagi mbak?"
Vanes menggelengkan kepalanya, "Nanti malah kekenyangan."
Faris tersenyum, "Seneng deh hari ini mbak Vanes banyak senyum."
"Ck, emang biasanya nggak pernah senyum?" protes Vanes.
"Jarang, malah nggak pernah kalau dirumah."
Vanes menghentikan kunyahannya, "Kalau dirumah emang nggak bisa senyum, mau senyum juga sama siapa, kalau senyum sendiri nanti malah bahaya."
Tawa Faris terdengar, dibalik sikap pendiam dan cueknya Vanes ternyata gadis itu bisa melucu juga.
Selesai makan siang, keduanya duduk santai dibalkon villa.
"Pulang nanti ya mbak?" ajak Faris.
"Yahh jangan nanti dong."
"Trus kapan?"
"Besok ya." pinta Vanes dengan raut wajah memohon.
Faris tampak berpikir, "Aku takut keduluan mas Rizal mbak."
Vanes menggelengkan kepalanya, "Nggak akan, biasanya Mas Rizal pergi seminggu."
Faris akhirnya mengangguk setuju karena dirinya juga masih ingin disini bersama Vanes.
Malam harinya, Vanes dan Faris kembali kepantai. Mereka duduk dihamparan pasir sambil memandangi bintang dilangit. Cuaca malam ini sangat cerah jadi banyak bintang terlihat.
"Rasanya aku ingin disini setiap hari." ungkap Vanes.
"Pindah sini aja mbak." celetuk Faris.
"Sama kamu ya?"
Faris terkejut dan menatap Vanes tak menyangka namun Vanes malah tertawa, "Bercanda jangan langsung melotot gitu."
Faris tersenyum, "Serius juga nggak apa apa."
"Nanti, nunggu aku cerai dulu."
Faris kembali diam, pembahasan menuju arah serius membuat Faris merasa sedikit tak nyaman.
"Sebentar lagi waktunya, sudah 1 tahun tidak ada perubahan apapun dan aku mungkin akan mengajukan cerai." kata Vanes.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Vanes melihat Faris hanya diam saja.
"Apapun yang terbaik buat mbak Vanes."
"Hanya itu? Kau tidak tanya apapun?" protes Vanes.
Faris tertawa, "Bagaimana jika setelah ini Mas Rizal berubah dan bisa menerima Mbak Vanes?"
"Aku akan tetap meminta cerai."
Faris menatap Vanes, entah apa yang Ia pikirkan namun Faris tersenyum lalu mendekatkan wajahnya dan...
Faris mencium bibir Vanes.
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen yaaa..