
Pagi ini Vanes tersenyum lebar setelah membaca surat cerai yang baru saja diberikan oleh Papanya.
Kini Ia pun resmi menjadi janda.
"Kau terlihat senang sayang." kata Wira yang saat ini tengah berada dimeja makan sarapan bersama Vanes.
"Aku merasa senang juga merasa lega Pa."
"Papa ikut senang mendengarnya. Lalu setelah ini apa yang ingin kau lakukan?" tanya Wira.
"Aku ingin kuliah lagi, aku tidak mau hanya menjadi lulusan D3 jadi izinkan aku melajutkan S1 ya Pa." pinta Vanes dengan wajah memohon.
"Boleh saja, kau ingin kuliah dimana?"
"Umm, di kampus karya bangsa, tempatnya mungkin agak terpencil Pa tapi bagus kok kampusnya."
Wira terdiam cukup lama sebelum akhirnya Ia bertanya, "Apa kau ingin dekat dengan laki laki itu?"
Tentu saja Vanes terkejut mendengar Papanya sudah tahu apa rencananya.
Vanes tak bisa menyembunyikan senyum malunya.
"Apa tidak boleh Pa?"
Wira menghela nafas panjang, "Dia itu saudaranya Rizal, papa merasa akan sedikit berat."
"Tapi dia sangat baik Pa... Dan kami juga saling mencintai." ucap Vanes.
"Jika memang itu bisa membuatmu bahagia, Papa tidak punya pilihan lain."
Vanes tersenyum lebar, "Jadi Papa mengizinkan?"
Wira mengangguk membuat Vanes beranjak dari duduknya dan langsung memeluk Wira.
"Terima kasih Pa... Papa memang yang terbaik."
Wira berdecak, "Jika ada maunya saja kau bilang Papa ini baik." cibir Wira.
Vanes tertawa merasa malu karena ketahuan. Vanes melepaskan pelukannya lalu kembali duduk dikursinya.
"Bagaimana Papa bisa tahu tentang Mas Faris? Apa Papa melacaknya?"
Wira tersenyum, "Bukankah sangat mudah bagi Papa untuk tahu sesuatu?"
Vanes mengangguk setuju, "Ya memang benar. Papa bisa mengetahui segalanya dengan mudah."
Wira tertawa, "Ken mengatakan jika dia orang baik."
"Mas Faris memang sangat baik." tambah Vanes memuji Faris.
Wira tak lagi mengatakan apapun, Ia melihat raut wajah Vanes yang sangat senang membuat Wira paham jika Vanes begitu menyukai Pria itu.
"Jadi kapn kau akan berangkat?" tanya Wira.
"Secepatnya Pa..." balas Vanes lalu tersenyum.
Ditempat lain...
Rizal tampak marah hingga mengacak barang barang yang ada dikantornya.
Tanpa ada panggilan atau pemberitahuan tentang sidang perceraian, kini Ia malah sudah mendapatkan surat cerai dari pengadilan padahal rencananya Rizal ingin datang ke sidang perceraian dan membatalkan perceraian yang diajukan oleh Vanes namun sekarang Ia malah sudah mendapatkan surat resmi dari pengadilan yang dibawakan oleh Hendra.
"Aku pikir yang mengurus ini adalah Ken, tangan kanan Wira." kata Hendra.
"Aku tidak peduli siapa yang mengurusnya, yang aku tanyakan kenapa kau baru tahu surat ini sekarang!"
"Masalah itu aku juga tidak tahu, tiba tiba pihak pengadilan menghubungiku dan saat aku kesana mereka sudah memberikan ini, lalu aku harus apa?"
"Ck, sial, benar benar sial!" umpat Rizal.
"Bukankan harusnya kau senang karena sudah bercerai dengan Vanes dengan begitu kau bebas mendekati wanita manapun." kata Hendra lalu tertawa mengejek.
"Baiklah, aku juga sudah ingin pergi."
Setelah Hendra keluar, Rizal kembali mengacak barang barang yang ada diruangannya. Kini Ia sudah resmi menjadi duda dan ini yang Ia inginkan dulu namun entah mengapa Ia merasa tidak senang dengan statusnya saat ini.
Meskipun perusahaan dan Saham pemberian Wira resmi menjadi miliknya namun Ia merasa tak senang sama sekali.
Rizal hanya ingin bersama Vanes, Ya Rizal ingin diberi kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan Vanes.
"Kau tidak bisa meninggalkanku seperti ini, tidak bisa!"
Beberapa hari berlalu...
Faris melakukan aktifitasnya seperti biasa. Jika pagi Ia pergi ke kampus setelah pulang Ia berkumpul dengan teman sebayanya kadang juga Ia membantu Slamet mengurus ladang.
Ia benar benar menikmati harinya meskipun saat malam Ia dilanda kesedihan yang dalam. Kesedihan karena menahan rindu pada Vanes, wanita pertama yang Ia cintai itu.
"Bagaimana kabarnya? Apa dia sudah resmi bercerai?" gumam Faris lalu menghela nafas panjang.
Sedih rasanya jika kita mencintai seseorang namun tidak bisa bersama dengan orang yang kita cintai.
Suara pintu yang diketuk pun terdengar membuyarkan lamunan Faris.
Faris beranjak dari ranjang, membuka pintu yang Ia kunci dari dalam dan melihat Ibunya berdiri didepan pintu dengan wajah pucat.
"Ada apa Bu?" heran Faris mengingat tadi mereka baik baik saja.
"Pak Kades kesini, katanya ini sudah seminggu, sudah waktunya kamu memberi jawaban."
Faris berdecak kesal, Ia tak menyangka jika Kadesnya itu masih berusaha mendapatkan dirinya untuk dijadikan menantu.
"Sebenarnya apa yang mereka rencanakan?" batin Faris mencoba menebak berkali kali namun tidak ada yang dia dapatkan.
"Kamu temui dulu, dia terlihat marah." kata Asih yang langsung diangguki oleh Faris.
Dengan raut wajah kesal, Faris keluar dari kamar dan pergi keruang tamu dimana sudah ada Pak Kades dan Slamet yang duduk disana tanpa ada pembicaraan apapun. Pak Kades dan Slamet hanya diam saja. Saat Faris keluar, Pak Kades langsung menatapnya tajam.
"Tidak sopan sekali!" ucap Pak Kades dengan nada tak suka menatap Faris, "Saya sudah menunggu kamu dirumah beberapa hari untuk mendapatkan jawaban tapi kamu tidak pernah datang!"
Faris tersenyum, mencoba bersikap tenang menghadapi Pak Kades yang tengah emosi, "Maafkan saya Pak, tapi saya tetap pada pilihan saya dari awal, saya menolak pernikahan ini."
"Faris!" ucap Asih dan Slamet bersamaan dengan suara gebrakan meja.
"Kamu pikir siapa berani menolak putri saya!" ucap Pak Kades dengan nada marah.
"Saya memang bukan siapa siapa tapi ini hak asasi saya untuk mau atau tidak, jika Bapak memaksa seperti ini saya jadi curiga pasti telah terjadi sesuatu pada Dik Ani."
Seketika raut wajah Pak Kades memerah malu membuat Faris semakin yakin jika ada yang Pak Kades sembunyikan.
"Karena kamu sekarang menjadi dosen jadi saya pikir pantas mendampingi putri saya." ucap Pak kades sedikit berbata.
"Saya tidak yakin itu alasannya!" Faris masih tak percaya.
"Faris..." panggil Asih dengan wajah pucat seolah memohon agar Faris menghentikan perdebatan ini.
"Ohh jadi kau masih menolak? Baiklah jika kau menolak tapi jangan salahkan aku jika aku meminta para juragan jagung untuk tidak mengambil hasil panen kalian."
"Anda tidak bisa melakukan itu!'' sentak Slamet dengan berani setelah diam sedari tadi.
"Saya tidak peduli, jika kau masih menolak pernikahan ini. Aku akan membuat kalian hancur sehancurnya." ancam Pak Kades lalu pergi dari rumah Slamet.
"Sialan, dia selalu saja mengancam seperti itu!" umpat Faris.
Tampak Asih mulai menangis sedih membuat Faris tidak tega.
"Apa aku terima aja ya Pak... Menikah sama Ani?"
Bersambung...
Jan lupa like vote dan komen