
Asih memeluk Vanes sambil berulang ulang melantunkan rasa syukur kepada Tuhan atas kehamilan Vanes.
Usaha anak juga menantunya dan doa yang Ia lantunkan setiap harinya kini berbuah hasil dimana rumah tangga Faris dan Vanes akan semakin erat dan bahagia dengan kedatangan calon bayi mereka.
"Dokter bilang usia kandungannya 3 minggu." ucap Faris.
"Masih kecil, masih rentan. Harus hati hati dalam segala hal." kata Asih mengingatkan.
"Ibu tenang saja, Faris akan standby 24 jam untuk Vanes."
Asih tersenyum, "Nggak ada mual?"
Vanes menggelengkan kepalanya, "Enggak ada Bu, makanya Vanes sempet nggak percaya. Kemarin cuma masuk angin sehari."
Asih kembali tersenyum, "Adek bayinya pinter dong nggak rewel."
Vanes mengangguk, "Iya Bu, syukur Alhamdulilah."
"Kalau begitu Ibu mau masak sayur bening dulu, biar sehat harus banyak makan sayur sama buah." kata Asih beranjak dari duduknya.
"Nggak usah Bu, istirahat saja. Duduk sama kami. Nanti makan malam kita bisa beli." kata Faris namun digelengi oleh Asih.
"Ibu mau masak, lagipula sudah lama kalian nggak makan masakan ibu kan?"
Vanes ikut beranjak dari duduknya, "Ya sudah kalau gitu biar Vanes bantuin Ibu masak."
"Eee nggak perlu, kamu istirahat saja biar Ibu sendiri." ucap Asih lalu pergi ke dapur.
Vanes menatap ke arah Faris, "Udah nurut saja." kata Faris, "Kamu rebahan dikamar, aku mau ngobrol sama Ibu sekalian nemenin masak." kata Faris yang akhirnya diangguki oleh Vanes.
Faris berjalan menuju dapur, Ia melihat Asih tengah memotong sayuran untuk dimasak.
"Rejeki kalian, kemarin dapat ikan pakde, sekarang bisa digoreng buat lauk." kata Asih.
Faris tersenyum, duduk disamping ibunya, "Apa Ibu nggak merasa kesepian?"
Asih menggelengkan kepalanya, "Ibu banyakin acara diluar, ikut pengajian jadi nggak ngerasa sepi."
Faris menghela nafas panjang, "Bentar lagi Ibu mau punya cucu, kalau Ibu mau ikut kami ke kota setiap hari bisa main sama cucu Ibu." kata Faris mencoba merayu Asih agar mau ikut ke kota bersamanya.
Asih menggelengkan kepalanya, "Kalian masih bisa kesini bawa cucu ibu."
"Tapi Faris nggak tega lihat Ibu sendirian dirumah." kata Faris masih berusaha.
"Ibu nggak ngerasa sendiri karena dalam hati Ibu masih ada Bapak. Kalau Ibu pergi dari rumah ini, kasihan Bapak kamu dan juga rumah peninggalan ini... Ibu nggak tega buat ninggalin." ungkap Asih.
Faris menghela nafas panjang, Ibunya memang susah dirayu. Ia pun tak lagi memaksa, menurut apapun yang Ibunya inginkan selama itu yang terbaik.
"Ya sudah kalau Ibu nggak mau, Faris minta maaf karena nggak bisa tinggal disini untuk nemenin Ibu." kata Faris.
Asih tersenyum, "Ibu ngerti sayang, sudahlah jangan dipikirkan lagi. kita sedang bahagia, jangan bicara tentang hal seperti ini, hanya membuat kita sedih." kata Asih sambil menepuk bahu Faris.
Faris tersenyum lalu mulai membantu Ibunya memasak.
Sebelum magrib, semua masakan sudah siap dan ketiganya mulai makan.
"Seger Bu... Enak." ucap Vanes makan dengan lahapnya.
Asih tersenyum, melihat menantunya menyukai masakannya, Ia menambahkan nasi juga sayur di piring Vanes.
"Makan yang banyak," kata Asih yang langsung diangguki oleh Vanes.
Selesai makan, ketiganya sholat magrib berjamaah.
Rencananya Faris dan Vanes akan menginap malam ini karena tak tega jika harus meninggalkan Asih yang masih bahagia dengan kabar kehamilan Vanes.
Sementara itu dirumah Wira, pukul 6 petang Wira kedatangan tamu yang tak lain adalah Herman.
"Aku terkejut kau datang di jam petang begini." kata Wira mengajak Herman duduk digazebo taman belakang.
"Aku sangat sibuk hari ini tapi menyempatkan datang karena ada sesuatu yang ingin ku bicarakan padamu." kata Herman.
Herman mengangguk, "Putraku, dia ingin menikahi Sara."
Wira tak terkejut bahkan Ia sudah menebak sejak awal jika kedatangan Herman pasti masih tentang Sara.
"Apa putramu sudah tahu status Sara?" tanya Wira memastikan karena bagi Wira jika ingin memulai suatu hubungan, harus ada kejujuran diantara mereka lebih dulu.
"Sudah dan dia tetap kekeh ingin menikahi Sara."
"Apa kau juga menceritakan tentang trauma yang dialami Sara?"
Herman mengangguk, "Aku sudah menceritakan semuanya dan dia tetap kekeh ingin menikahi Sara, membuatku pusing."
Wira tersenyum, "Bagaimana menurutmu?"
"Bagaimana apanya?" heran Herman.
"Sara itu janda, apa itu juga tidak masalah untukmu?"
Herman menghela nafas panjang, "Selama gadis itu baik dan bisa merubah Arga menjadi pria yang bertanggung jawab, aku tidak masalah apapun statusnya."
Wira kembali tersenyum, "Baiklah, aku akan bicara pada Sara. meskipun akan sedikit sulit tapi aku akan mencoba membujuknya."
Herman tersenyum lega, "Aku mohon usahakan agar Sara mau menerima Arga."
"Aku tidak janji tapi akan aku usahakan." ucap Wira yang langsung diangguki oleh Herman.
Keduanya berhenti berbincang, tampak Bik Sri datang dengan membawa 2 cangkir teh hangat lengkap dengan cemilannya.
"Aku tidak munafik, jika dilihat lebih dekat dan lebih lama, dia memang cantik." kata Herman saat Bik Sri kembali masuk ke dalam.
"Siapa? Bik Sri?"
Herman mengangguk lalu tertawa membuat Wira berdecak sebal, "Jangan macam macam, dia milik ku!"
"Selama janur kuning belum ada, dia masih wanita single yang bebas memilih."
"Sialan kau!" umpat Wira membuat Herman semakin terkekeh.
Cukup lama keduanya duduk digazebo hingga pukul 8 malam, keduanya masuk untuk makan malam.
"Kenapa sepi sekali." ucap Herman saat dimeja makan hanya ada Wira dan dirinya saja.
"Anak ku pulang ke kampung halaman suaminya, Sara selalu pulang larut, kau tahu dia sangat pekerja keras." kata Wira memuji Sara. "Mungkin putramu menyukai Sara karena dia pekerja keras." tambah Wira.
"Aku tidak yakin tapi sepertinya bukan karena itu, entah karena apa." gumam Herman.
Setelah makan malam, Herman pamit untuk pulang. Didepan Ia berpapasan dengan Rani, "Wah ada gadis muda lain juga disini." celetuk Herman.
"Dia Rani, sepupunya menantuku. Dia juga bekerja diperusahaan." kata Wira mengenalkan Rani pada Herman.
Rani menunduk sopan tak lupa mencium punggung tangan Herman sebelum akhirnya Ia pamit masuk ke dalam rumah.
"Lihat betapa beruntungnya kau, dikelilingi banyak wanita cantik dan lagi mereka juga mau bekerja diperusahaanmu." ucap Herman, "Aku merasa sangat iri."
Wira tertawa, "Dulu aku iri padamu karena kau memiliki seorang putra."
"Jika aku tahu betapa beruntungnya memiliki seorang putri, aku lebih memilih memiliki seorang putri." ucap Herman membuat Wira tertawa semakin keras.
Baru ingin memasuki mobil, Herman melihat ada mobil yang sangat Ia kenali masuk ke halaman rumah Wira.
Mobil itu yang biasa dipakai Zil untuk mengantar Arga namun Herman terkejut saat tahu yang mengendarai mobil itu adalah Arga dan ada Sara disampingnya.
"Wah wah... Lihatlah mereka."
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komenn