
Faris berlari menyusul istrinya ke wastafel. Terlihat Bik Sri tengah menepuk nepuk punggung Vanes.
Faris berjalan mendekat, dengan raut wajah cemas, Ia menggantikan Bik Sri untuk menepuk punggung.
"Nggak apa apa Den, wajar orang hamil memang suka muntah dan nggak doyan makanan yang biasa dimakan." kata Bik Sri.
"Maaf sayang, mungkin gara gara aku maksa buat nyuapin kamu makan jadi gini ya." Faris merasa bersalah.
"Nggak kok Mas, mungkin memang lagi nggak cocok makan opor ayam."
"Ya sudah aku anterin kamu ke kamar ya, istirahat dan jangan kemanapun." ucap Faris yang langsung diangguki oleh Vanes.
Faris membantu Vanes naik ke atas kamar, sementara Wira yang ikut cemas berjalan mendekati Bik Sri yang masih berdiri ditempatnya.
"Vanes gimana?" tanya Wira pada Bik Sri.
"Nggak apa apa kok Tuan, hal wajar dialami oleh Ibu hamil."
Wira tersenyum, "Apa kau dulu juga begitu?"
Bik Sri menatap Wira, terkejut dengan ucapan Wira dan rasanya jantungnya ikut berdegup mendengar pertanyaan Wira.
"Tidak perlu dijawab, lagipula tidak penting juga untukmu." ucap Wira lalu berbalik ingin meninggalkan Bik Sri.
"Saya juga Tuan." balas Bik Sri lali menunduk malu.
Wira kembali tersenyum, mengangguk dan melangkahkan kakinya meninggalkan Bik Sri.
"Aneh, kenapa hatiku berdesir seperti ini." gumam Bik Sri lalu menggelengkan kepalanya.
Dikamar atas, Vanes baru saja berbaring dibantu oleh Faris.
"Jika ingin sesuatu cukup katakan saja tidak perlu bangun." kata Faris.
Vanes tersenyum, "Iya Ayah."
Faris menatap Vanes tak percaya, "Ayah... Kok Ayah."
"Kan Mas calon Ayah jadi manggilnya Ayah dari sekarang biar besok kalau dedek bayinya keluar sudah terbiasa." jelas Vanes mengembangkan senyum Faris.
"Kok seneng gini ya dipanggil Ayah sama Bunda."
Vanes malah tertawa, "Jangan Bunda dong mas."
Faris mengerutkan keningnya, "Ayah pasangan sama Bunda kan?"
"Iya tapi nggak mau dipanggil Bunda, maunya Ibu aja biar kayak artis nikita willy itu lo mas." ungkap Vanes yang malah membuat Faris tertawa.
"Artis kok di ikuti."
"Ya kan ngikutin yang baik baik mas nggak yang aneh."
Faris tersenyum lalu mengelus kepala Vanes, "Iya deh iya Ibu dari anak anakku."
Vanes tertawa lalu menggeser tubuhnya dan menepuk nepuk ranjang kosong disampingnya agar Faris ikut berbaring disana dan tentu saja Faris tak menolak, Ia ikut berbaring disamping Vanes.
"Nggak nyangka kita sebentar lagi mau punya anak." gumam Faris seolah masih belum percaya atas kehamilan Vanes yang sudah lama dinanti.
Vanes meletakan kepalanya dilengan Faris, "Tapi seneng kan Mas?"
"Seneng dong sayang. Kan udah ditungguin." balas Faris lalu mengecup kening Vanes.
"Aku malah sedikit takut mas."
"Takut kenapa?"
"Takut kalau nggak bisa jadi ibu yang baik buat anak kita." kata Vanes memperlihatkan gigi rapi nan putih.
Faris mengelus kepala Vanes, "Nggak ada manusia yang sempurna sayang, kita sama sama belajar jadi orang tua yang baik buat anak kita."
Vanes tersenyum, "Mas yang sabar ya ngadepin aku."
"Harus extra sabar nih, kata orang kalau istrinya hamil suka galak dan gampang sedih." ucap Faris membuat Vanes tersenyum geli lalu menepuk bahu Vanes.
"Aku nggak galak mas." protes Vanes.
"Mungkin belum sayang."
"Aku nggak akan galak kok sama Mas, janji." ucap Vanes sambil mengangkat 2 jarinya.
Faris tersenyum lalu membawa Vanes ke dalam pelukannya.
"Kenapa sayang?''
"Kalau habis melahirkan aku udah nggak cantik lagi gimana? Apa mas masih sayang sama aku?" tanya Vanes dengan raut wajah khawatir.
Faris gemas dengan pertanyaan Vanes, Ia pun mencubit pipi Vanes, "Ngomong apa sih? mau kayak gimanapun kamu, aku tetep sayang terus apalagi kamu itu ibu dari anak anak ku, mana bisa aku nyakitin kamu sayang."
Vanes meleleh mendengar ucapan Faris, entah mengapa suaminya itu bisa membuat hatinya lebih tenang dan tidak mengkhawatirkan tentang apapun lagi.
"Aku tahu mungkin kamu trauma, takut terjadi seperti Sara tapi kamu juga harus percaya kalau nggak semua laki laki itu pengkhianat."
Vanes tersenyum, "Iya deh iya, percaya kok sama Mas."
Faris tersenyum lalu membawa Vanes ke dalam pelukannya.
Malamnya....
Faris dan Vanes bersiap turun ke bawah untuk makan malam dimana sudah ada Rani dan juga Wira dimeja makan.
"Kirain belum pulang Ran." Ucap Faris sambil mengelus kepala Rani lalu duduk disamping Rani.
"Kerjaan udah kelar jadi langsung pulang mas," balas Rani mulai mengisi piringnya dengan nasi, "Mas pulang kampung kok nggak ajak ajak?"
Faris tersenyum, "Dadakan Ran, kemarin juga Mamak kau nanyain."
"Besok aku mau pulang mas." ungkap Rani mengingat besok adalah wekeend.
"Udah beli tiket kereta Ran?" tanya Vanes ikut menimpali.
"Nggak pake kereta mbak, dianterin kok." balas Rani sedikit malu malu.
"Dianterin Dylan?" tebak Faris yang langsung diangguki oleh Rani.
"Wah gercep amat si Dylan." ucap Faris lalu tertawa.
"Ya bagus gitu, lebih baik disegerakan nikah dari pada pacaran lama takut dibisikin setan malah nggak baik jadinya." nasihat dari Wira.
"Iya Om, mas Dylan pinginnya juga gitu." balas Rani.
Faris menghela nafas panjang, seolah tahu apa yang akan terjadi besok, "Ya semoga aja mamak mu bisa lebih pengertian sama kamu ya Ran."
Rani mengangguk, "Semoga aja mas."
"Selamat malam calon keluarga besarku." suara Arga terdengar membuat semua orang menatap ke arah Arga yang baru datang bersama Sara.
Faris, Sara, Wira dan juga Rani menatap penuh goda ke arah Sara.
"Gila nih orang." omel Sara menatap tak percaya ke arah Arga yang sangat percaya diri.
Seperti biasa Arga datang ke kantor untuk menjemput Sara. Arga memaksa Sara agar mobilnya kembali ditinggal dikantor dan Sara tidak mempunyai pilihan lain selain menuruti permintaan Arga.
"Aku sudah memintanya pulang tapi dia memaksa mampir." ucap Sara.
Wira berdecak, "Kenapa harus mengusirnya, dia sudah mengantarmu. Biarkan ikut makan malam bersama kami." ucap Wira.
"Kemarilah dik, kita makan malam bersama." ajak Faris dengan nada menggoda membuat Sara kesal.
Sara dan Arga akhirnya ikut bergabung dimeja makan. Sara mulai mengambil nasi dan lauk. Saat akan mulai makan, Arga menyodorkan piring kosongnya ke arah Sara agar Sara mengambilkan nasi dan lauk untuknya.
"Ambilin." ucap Arga dengan suara manja membuat Faris, Vanes dan Rani menahan tawa.
"Ambil sendiri!"
"Ambilin dong sayang." pinta Arga lagi.
"Adek, calon suaminya diambilin dong." goda Faris mengundang gelak tawa Vanes, Rani dan Wira.
Sara melotot tajam ke arah Arga namun akhirnya Ia mengisi piring Arga dengan nasi dan lauk.
Bersambung...
Jngan lupa like vote dan komen yaaa
1 bab dulu gaess... Lagi sibuk hehe