
Wang menatap Yesi kecewa, Ia tak menyangka jika Yesi akan mengkhianati dirinya seperti ini padahal selama ini Wang sudah menuruti apapun yang di inginkan oleh Yesi. Wang hanya meminta kesetiaan Yesi untuknya namun ternyata Yesi tak bisa memberikan itu pada Wang.
Yesi menyukai pria lain yang lebih muda dari Wang, kenyataan yang memang menyakitkan untuk kembali dirasakan oleh Wang.
"Mereka menjebak ku." ucap Yesi lagi masih membela diri saat Wang berjalan menjauh.
"Aku tidak peduli, hanya saja kini aku sadar jika kau mungkin menginginkan pria yang lebih muda." ucap Wang dengan raut wajah sedih, "Aku mungkin bisa memberikan segalanya untukmu tapi kenyataannya itu tak cukup untukmu."
Yesi menghela nafas panjang, "Terserah jika kau ingin marah yang penting aku sudah mengatakan yang sejujurnya padamu." kata Yesi lalu pergi meninggalkan Wang.
Yesi berjalan menjauh dari Wang, Ia pikir Wang akan mengejarnya lalu meminta maaf seperti biasa namun Yesi salah karena Wang masih diam ditempatnya seolah tak peduli dengan amarahnya lagi.
"Apa dia benar benar kecewa?" gumam Yesi melihat ke belakang dan masih tak terlihat Wang mengejarnya.
"Sial, jika aku kehilangan pria tua itu bisa bisa aku kembali miskin!" ucap Yesi lalu kembali ke arah Wang namun sayang Wang sudah tidak ada ditempatnya.
Yesi mencari Wang hingga Ia melihat Wang sedang berbicara dengan Wira. Yesi menunggu hingga Wang selesai bicara dan menghampirinya.
"Kita pulang sekarang." ucap Wang pada Yesi.
"Kenapa pulang sekarang? Bukankah acara pernikahannya tinggal besok pagi?"
"Aku tidak peduli, sebaiknya kau berkemas sekarang." kata Wang dingin lalu pergi meninggalkan Yesi.
Yesi mengepalkan tangannya, Ia merasa geram dengan perubahan sikap Wang. Ia tak ingin diperlakukan seperti ini oleh siapapun termasuk Wang.
Yesi akhirnya pergi ke kamar untuk membereskan barangnya. Ia sempat berpapasan dengan Dylan dan Rani yang tersenyum mengejek ke arahnya seolah tahu jika Ia sedang bertengkar dengan Wang.
Hal ini tentu saja membuat Yesi semakin kesal. Niatnya ingin menghancurkan hubungan Dylan dan Rani namun malah hubungannya dengan Wang yang hancur.
"Benar benar sial!" omel Yesi.
Saat Yesi keluar membawa barangnya, Sara yang duduk disamping Rani mulai mencibir dirinya, "Niatnya ingin menghancurkan hubungan orang ee malah hubungan sendiri yang hancur!"
Yesi menatap Sara kesal lalu menghentak hentakan kakinya. rasanya Ia ingin merobek mulut saat ini juga karena telah berani menghinanya apalagi didepan banyak orang.
Yesi tak mengatakan apapun lagi, Ia keluar dari rumah kontrakan dan langsung masuk ke dalam mobil dimana Wang sudah menunggunya disana.
Yesi diam, mengacuhkan Wang begitu juga dengan Wang yang ikut bersikap acuh tak mengubris Yesi.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Arga pada Sara mendengar Sara mencibir Yesi.
"Dia berusaha menggoda Dylan dan saat Pak Wang tahu ee malah mau menfitnah Dylan dan Rani." kata Sara yang baru saja mendengar ceritanya dari Rani.
"Dia memang cewek gatal, seharusnya abaikan saja dia." kata Arga.
"Sudah, tapi masih nekat pakai segala cara mas, gila baru kali ini ngeliat ada cewek brutal kayak gitu." ungkap Dylan pada Arga.
"Ya memang sekarang banyak cewek yang nggak bener." kata Arga.
"Ooo gitu? Jadi aku juga nggak bener nih?" protes Sara.
"Istri gue pengecualian lah." kata Arga langsung merangkul istrinya dan memberikan kiss di pipi Sara.
"Kalau aku berarti juga gitu mas?" protes Rani.
"Lan, urus tuh Lan, masa iya harus gue yang ngerayu, ngerangkul sama nyium." canda Arga yang langsung disambut tawa ngakak semua orang.
Sementara itu Faris dan Vanes baru saja sampai dirumah Asih. kedatangan keduanya langsung disambut hangat oleh Asih.
Faris mencium punggung tangan Asih bergantian dengan Vanes.
"Ibu sudah siap?" tanya Faris.
"Sudah, tinggal berangkat. Kalian mau makan dulu?" tanya Asih yang langsung digelengi oleh Faris dan Vanes.
"Ya sudah, Ibu ambil tasnya dulu."
Asih masuk ke dalam rumah di ikuti oleh Faris. Faris membawakan tas jinjing berisi baju ganti milik Asih.
"Ibu nggak bisa belikan kado yang mahal untuk pernikahan mertuamu tapi Ibu sudah buatkan kain tenun untuk mertuamu." kata Asih memperlihatkan hasil tenunan dari tangannya sendiri.
"Bagus sekali Bu, Papa pasti suka." puji Faris yang langsung membuat Asih tersenyum.
Faris segera mengajak Asih keluar rumah tak lupa mengunci pintu rumah karena akan ditinggal beberapa hari.
Faris menyetir didepan dan Asih duduk dibelakang bersama Vanes.
Asih mengelusi perut Vanes yang masih belum terlihat besar, "Rewel nggak calon cucu Ibu?" tanya Asih.
"Nggak kok Bu, anteng banget mau diajak kemana aja anteng nggak rewel. Mau makan apa aja juga mau dan nggak muntah." ungkap Vanes dengan raut wajah senang.
"Syukurlah kalau begitu, setiap malam Ibu selalu kepikiran takut kalau cucu Ibu rewel dan bikin Mamanya susah." kata Asih.
"Enggak bu, dedeknya pinter dan pengertian sama Ibunya kok."
Asih tersenyum lega, "Dulu waktu Ibu hamil Faris juga gitu, pinter enggak rewel."
"Udah gedenya tambah pinter ya bu." celetuk Faris menyombongkan diri lalu tertawa.
Asih hanya tersenyum. Saat bahagia bertemu anak dan menantunya seperti ini membuat Asih mengingat Slamet mendiang suaminya.
Jika saja Slamet masih ada dan disini bersama mereka pasti Slamet juga bisa merasakan kebahagiaan yang kini dirasakan oleh Asih.
"Ibu kapan mau tinggal bareng kita dikota?" tanya Vanes seolah tak ingin meninggalkan Asih sendirian dikampung.
"Nanti kalau Cucunya udah lahir, Ibu bakal nginep lama dikota."
"Padahal pengennya bisa terus nggak cuma nginep." tambah Vanes.
Asih hanya tersenyum. Rasanya Ia juga ingin tinggal dikota bersama anak dan menantunya namun alasannnya masih sama, Ia tidak ingin meninggalkan rumah mendiang suaminya apalagi banyak kenangan indah dirumah itu yang tak ingin dilupakan oleh Asih.
"Tapi kami nggak maksa Ibu kok cuma masih berharap Ibu mau tinggal dikota terus sama kita." tambah Vanes sembari mengenggam tangan Ibu mertuanya.
Asih tersenyum lalu mengangguk, "Nanti Ibu pikirkan."
Faris menghentikan mobilnya di resort untuk istirahat sholat magrib dan makan karena memang sudah waktunya untuk sholat magrib.
Selesai sholat berjamaah, ketiganya mencari tempat duduk untuk makan.
"Resepsi dikota kapan?" tanya Asih.
"2 minggu lagi Bu, habis itu 2 minggu lagi giliran resepsi Sara adiknya Vanes."
"Alhamdulilah jadi Sara sudah menikah lagi?"
Vanes mengangguk, "Kemarin sudah ijab karena lakinya nggak sabar kalau harus nunggu 1 bulan lagi." adu Vanes sambil tertawa geli.
"Ya nggak apa apa, lebih baik begitu. Niat baik jangan ditunda."
"Tapi Faris malah sedih mikirin Rani Bu, kayaknya masih belum dapat restu dari bulek." ucap Faris.
Asih mengangguk, "Ibu juga nggak bisa bantuin Rani, tahu sendiri kan Bulekmu itu kayak gimana."
Faris menghela nafas panjang mengingat Asih dan Siti hanyalah saudara ipar, mungkin itu alasan Asih tak mau ikut campur urusan Siti.
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen yaaa...