TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
136


Rani dan Dylan berhasil menyelesaikan pekerjaan pertamanya tepat pukul 7 malam. Dylan segera mengirimkan file pada Ken namun belum mendapatkan respon dari Ken.


"Kita menunggu jawaban Bos sambil makan malam." ajak Dylan karena sudah waktunya mereka untuk makan malam.


"Baiklah, aku juga sudah lapar."


Untuk makan malam mereka memilih warung dekat pantai, menikmati makan malam sambil merasakan semilir angin pantai di malam hari.


"Rasanya sudah lama sekali aku tidak berlibur." ucap Rani memulai obrolan.


"Anggap saja kita sedang liburan." celetuk Dylan yang langsung diangguki Rani dan keduanya pun tertawa bersama.


Selesai makan malam, Rani kembali mengecek emailnya namun masih belum mendapatkan balasan dari Ken.


"Apa masih belum dijawab?"


Rani mengangguk, "Mungkin sedang sibuk karena istrinya juga sedang sakit."


Dylan berdecak, "Hidupnya sangat beruntung."


Rani menatap ke arah Dylan, "Beruntung bagaimana?"


"Ya, dia mendapat kepercayaan penuh dari Tuan Wira dan lagi dia bisa menikahi keponakan Tuan Wira, bukankah itu beruntung?''


Rani mengangguk setuju, jika dipikir Ken memang sangat beruntung namun entah mengapa Rani merasa Ken kurang bersyukur.


"Jika dia bercerai dari istrinya, aku yakin dia akan menjadi gembel."


Rani berdecak, "Jangan berbicara seperti itu."


Dylan tertawa, "Aku mengatakan kebenaran. Dia sudah memiliki istri cantik dan kaya tapi masih gatal denganmu.''


Rani terkejut bukan main mendengar ucapan Dylan, "Apa kau merasa dia seperti itu?"


Dylan mengangguk, "Sepertinya Bos Ken menyukaimu karena dia tidak membiarkan aku mendekatimu."


"Aku pikir hanya aku yang merasa dia mendekatiku." gumam Rani merasa lega karena apa yang Ia rasakan tentang Ken bukan hanya haluan saja namun Ken memang berusaha mendekatinya.


"Jangan sampai kau tergoda." ucap Dylan dengan tatapan khawatir.


Rani tertawa, "Tentu saja tidak, aku benar benar menjaga diri agar tidak menyakiti Mbak Sara."


Dylan tersenyum lega lalu mengelus kepala Rani namun sedetik kemudian Ia sadar jika tidak seharusnya melakukan hal seperti itu.


"Maaf, maafkan aku." ucap Dylan menarik kembali tangannya.


Rani tersenyum, "Tidak apa apa, sebenarnya aku...." belum sempat menyelesaikan ucapannya, ponsel Rani berdering.


"Dari Pak Ken." ucap Rani saat melihat layar ponselnya.


"Biar aku yang menjawab." pinta Ken dan Rani segera mengulurkan ponselnya.


"Halo Bos Ken." suara Dylan terdengar cengegesan seperti biasa.


"Kenapa kamu yang angkat? Kemana Rani?"


Dylan mengedipkan mata pada Rani lalu menempelkan telunjuknya dibibir, memberi kode agar Rani diam, "Rani sedang mandi bos."


Seketika mata Rani membulat tak percaya mendengar jawaban dari Dylan


"Kenapa ponselnya ada ditanganmu? Apa kalian sekamar?"


"Iya bos, kami terpaksa sekamar karena tidak ada penginapan lain."


Klik... Ken mengakhiri panggilan sepihak membuat Dylan tertawa puas sementara Rani yang kesal memukuli lengan Dylan.


"Hey jangan marah, aku hanya membantumu. kau bilang tidak ingin didekati Bos Ken."


"Tapi bukan berarti kau mengatakan jika kita sekamar."


Dylan berdecak, "Padahal itu rencana Bos Ken jika berangkat kesini bersamamu."


Rani menatap Dylan tak mengerti, ''Apa maksudmu?"


Dylan mengambil ponselnya lalu memperlihatkan bukti pemesanan penginapan.


"Bos Ken memintaku memesan penginapan sebanyak mungkin agar penginapan disekitar sini penuh, Dia menyisakan 1 kamar saja yang rencananya akan menjadi kamar penginapan mu bersama Bos Ken."


"Kau tahu sendiri, jika sampai sekamar dengannya, habislah kau!" tambah Dylan membuat bulu kuduk Rani merinding. Rani kembali mengingat saat digudang waktu dulu, Ia dicium oleh Ken. waktu itu Rani senang senang saja karena memang menyukai Ken dan Ken belum menikah, namun sekarang... Tidak, tidak lagi untuk Ken meskipun masih ada sedikit perasaannya untuk Ken.


"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Sekarang kau aman." ucap Dylan mengenggam tangan Rani.


"Dylan aku..."


Dylan mengerutkan keningnya menatap Rani.


"Aku menerima perasaanmu."


Dylan menatap Rani tak percaya, Ia terkejut hingga mulutnya terbuka membuat Rani tersenyum geli.


"Ternyata kau hanya bercanda, sudah ku duga." ucap Dylan raut wajahnya berubah kecewa.


"Tidak, bukan begitu. Maafkan aku. Melihat ekspresi wajahmu membuatku tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa." ucap Rani, "Aku sungguh sungguh dengan jawabanku, aku menerima perasaanmu yang pernah kau nyatakan waktu itu." jelas Rani dan Dylan kembali tersenyum lebar.


"Kau tidak bercanda? Kau benar benar menerima ku?"


Rani mengangguk dan reflek Dylan memeluk Rani.


"Terima kasih Rani, terima kasih. Aku tahu jika kau belum sepenuhnya menerima ku tapi terima kasih sudah memberiku kesempatan." ucap Dylan yang akhirnya diangguki oleh Rani.


Keduanya kembali berpelukan, menikmati udara yang semakin dingin namun membuat keduanya semakin betah berada disana.


Sementara itu ditempat lain...


Ken meremas ponselnya, entah mengapa Ia merasa kesal mengetahui jika Rani sekamar dengan Dylan.


"Apa mereka gila? Mereka pikir sedang honeymoon disana sampai tidur sekamar berdua." umpat Ken lalu memasuki kamar.


"Apa ada masalah mas?" tanya Sara dengan suara lemah melihat raut kesal suaminya.


"Tidak ada, hanya saja aku khawatir mereka tidak bisa menghandle pekerjaan." ucap Ken lalu duduk dipinggir ranjang.


"Kalau begitu susul saja mereka mas."


Ken menggelengkan kepalanya, "Tidak mungkin karena kau sedang sakit."


Sara tersenyum, Ia merasa suaminya adalah pria yang paling baik yang pernah Ia temui karena mengesampingkan pekerjaan hanya demi menemaninya, "Terima kasih mas, aku benar benar bahagia menikah denganmu."


Ken tersenyum lalu mengecup kening Sara, "Sekarang tidurlah."


"Aku tidak bisa tidur jika kau tidak memeluk ku."


Ken tersenyum lalu berbaring disamping Sara, "Sekarang tidurlah."


Beberapa menit memeluk Sara, akhirnya istrinya itu terlelap. Setelah memeriksa Sara dan benar benar terlelap, Ken keluar dari kamarnya.


Ia sempat melihat ke arah jam, sudah pukul 9 malam.


Ken turun ke bawah dan tersenyum lega saat melihat dilantai bawah sudah sepi.


Ken segera keluar lewat pintu belakang, tak lupa Ia menutup kembali pintunya.


Dengan senter di ponselnya, Ken berjalan menuju gudang.


Ia kembali tersenyum lebar saat melihat Alea sudah berada disana.


"Kau benar benar pintar." ucap Ken tanpa basa basi lagi segera menghabisi Alea.


Ken menumpahkan kemarahannya pada gadis kecil itu hingga tanpa keduanya sadari, hampir 3 jam Ken dan Alea bercinta digudang.


"Besok aku akan membuatkan kartu debit untukmu dan mentransfer uang bonus setiap kau selesai melayaniku." ucap Ken.


"Baiklah Tuan, terima kasih banyak."


"Jangan lupa minumlah pil penunda kehamilan untuk berjaga jaga saja."


"Baik Tuan." ucap Alea lalu kembali mengenakan pakaiannya dan keluar dari gudang.


Alea berjalan pelan karena merasa miliknya perih akibat permainan Ken yang kasar meski begitu, Alea senang karena bisa melayani Tuannya dan Ia bisa mendapatkan banyak uang.


"Dari mana kau malam malam begini?" suara seorang pria mengejutkan Alea saat Alea memasuki pintu dapur.


Bersambung....