TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
100


Vanes duduk didepan cermin, sedang mengeringkan rambutnya, dihampiri oleh Faris. Hairdryer yang tadi ada ditangan Vanes kini sudah berpindah ke tangan Faris.


Faris membantu Vanes mengeringkan rambutnya.


"Aku bisa melakukan sendiri." protes Vanes ingin meminta kembali hairdryernya namun tidak diberikan oleh Faris.


"Aku ingin melakukannya, jangan protes." ucap Faris yang akhirnya membuat Vanes menyerah tak lagi meminta hairdryernya.


"Sekarang tinggal menyisir rambut." ucap Faris mengambil sisir dan mulai menyisir rambut Vanes dengan pelan.


Vanes tersenyum geli, "Apa kau pernah bekerja disalon? Kenapa bisa lihai sekali?"


Faris berdecak, "Hanya menyisir rambut tidak perlu bekerja disalon."


Vanes menatap Faris curiga, "Atau jangan jangan kamu pernah melakukan ini dengan wanita lain."


Sontak tawa Faris mengema, "Cemburu huh?" Faris mendekatkan bibirnya lalu ******* bibir Vanes, tak lupa memberikan pijatan lembut pada salah satu gunung kembar Vanes.


"Apa ingin melakukannya lagi?" protes Vanes saat sudah melepaskan ciumannya.


"Ya, rasanya aku ingin melakukannya lagi lagi dan lagi."


"Tapi aku lapar." keluh Vanes.


Faris kembali tertawa, "Baiklah sayang, ayo.kita sarapan lebih dulu sebelum aku kembali memakanmu."


Vanes berdecak, "Mas belum menjawabku." protes Vanes.


"Apa?"


"Jadi pernah menyisir rambut wanita lain atau belum?"


Faris tertawa lagi, "Tentu saja belum, aku tidak pernah memiliki kekasih sebelumnya."


"Bohong!"


"Astaga sayang, aku serius." Faris mulai frustasi.


Vanes malah tertawa, "Baiklah, aku percaya."


"Apa kau sedang mengerjaiku sayang? Dasar nakal." Faris kembali mencium bibir Vanes dan kali ini Faris memasukan jarinya pada goa Vanes yang membuat Vanes merasa disetrum dan meminta Faris mengakhiri permaianannya.


"kita harus turun sekarang, pasti semua orang sudah menunggu." protes Vanes yang membuat Faris tersenyum tipis.


"Kita akan melakukannya lagi setelah sarapan." ucap Faris lalu mengecup kening Vanes.


Vanes hanya bisa menghela nafas panjang, sejujurnya goa miliknya masih terasa nyeri namun Ia tak ingin membuat Faris kecewa jadi mau tak mau Ia juga harus bisa menikmati permainan yang diberikan Faris.


Teman Vanes pernah mengatakan, awal melakukan memang sakit namun semakin lama rasa sakit itu berubah menjadi nikmat luar biasa. Vanes menantikan rasa nikmat itu.


Ia harus bersabar, ya harus bersabar sedikit lagi.


"Apa kalian baru bangun?" tanya Wira yang baru saja selesai sarapan dengan Asih.


"Tidak Pa... Sudah bangun dari tadi hanya saja..." Faris langsung mengulas senyum seolah memberikan kode pada mertua dan Ibunya tentang apa yang baru saja mereka lakukan.


"Astaga, aku hampir lupa kalian sedang senang melakukan permainan." ucap Wira kembali tertawa sementara Asih yang berada 1 meja dengan Wira hanya menggelengkan kepalanya.


"Mas ingin makan apa?" tanya Vanes.


"Apapun."


Vanes meminta Faris duduk dimeja samping dimana ada Sara yang duduk sendirian disana. Vanes mengambilkan sarapan, Faris sudah duduk disamping Sara.


"Tidak sarapan?" tanya Faris melihat hanya ada segelas air putih didepan Sara.


Sara menatap Faris sejenak lalu menggelengkan kepalanya, "Aku tidak terbiasa sarapan."


Faris berdecak, "Kau harus mulai membiasakan sarapan karena sarapan bagus untuk kesehatanmu, apa kau sedang diet?" tanya Faris.


Sara mengangguk.


Sara mengambil ponselnya dimeja lalu kembali memainkan ponselnya karena Vanes sudah datang membawa 2 piring sarapan.


"Sara tidak makan? Mau ku ambilkan?" tawar Vanes dengan ramah.


"Dia sedang diet sayang jadi percuma menawarinya makan."


Sara menatap kesal ke arah Faris bergantian dengan Sara lalu Ia memilih beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Faris dan Vanes.


"Apa dia marah?" heran Faris melihat Sara langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun.


"Dia memang seperti itu, sudah abaikan saja dia." kata Vanes tak ingin memusingkan sikap cuek Sara.


Sara memasang headsetnya lalu duduk dibangku taman. Ia memilih menghirup udara segar ditaman ini dari pada harus melihat roman antara Vanes dan Faris yang membuatnya muak.


"Nona tidak sarapan?" suara Ken yang masih bisa didengar oleh Sara.


"Apa urusannya denganmu!" ketus Sara.


"Saya hanya bertanya karena saya tidak ingin melihat Nona sakit." ucap Ken mengeluarkan jurus mautnya untuk memikat Ken.


Bukannya tersipu malu, Sara malah menatap Ken sinis, "Kau benar benar membuatku muak." ucap Sara lalu pergi meninggalkan Ken.


Ken menatap punggung Sara, Ia benar benar tak percaya dengan sikap ketus Sara. Sangat berbeda tidak seperti saat mabuk, Sara yang selalu menggodanya lebih dulu.


"Dia benar benar menyebalkan!" umpat Ken lalu menyalakan sebatang rokok dan mulai menghisapnya.


Mata Ken tak sengaja menatap ke arah Faris dan Vanes yang berjalan menuju taman sambil bergandengan tangan.


"Benar benar sial!" umpat Ken merasa cemburu dan memilih pergi dari sana.


Ken berjalan menuju danau yang ada dibelakang hotel, Ia membuang rokoknya didanau itu.


"Jangan membuang putung rokok sembarangan." suara seseorang yang terdengar tak asing menghampiri Ken.


Ken menatap ke arah suara itu dan ternyata Rani, si gadis aneh yang kembali mendekatinya.


"Tidak masalah, tidak akan membuat danaunya terbakar."


Rani tertawa, "Mungkin jika danau ini berisi solar akan terbakar."


Ken tersenyum kecil, menatap Rani dari atas sampai bawah. Gadis aneh yang berpenampilan sederhana. Mengenakan dress dibawah lutut dengan rambut diikat setengah serta poni yang menutupi dahinya. Jika dilihat secara seksama, Rani sangatlah cantik, tidak berbeda jauh dengan Sara. Perbedaan mereka hanyalah dari segi perawatan. Jika Sara memakai perawatan mahal namun Rani tidak.


Melihat Ken memandanginya membuat Rani salah tingkah, "Apa ada yang salah dengan bajuku?" tanya Rani.


Ken langsung menggelengkan kepalanya dan melihat ke arah lain. Saat Ia mencuri pandang ke Rani, tak sengaja melihat kancing baju Rani yang tidak terpasang hingga memperlihatkan bra milik Rani yang berwarna merah muda.


Ken menelan ludahnya, Ia merasa kesal karena tak bisa mengontrol dirinya apalagi para gadis yang seolah sengaja merayu dirinya.


Ken mencoba tak mengubris apa yang dia lihat, Ia kembali memandang ke arah danau hingga Ia tak tahan dan berniat pergi dari sana namunn sialnya, Rani terus mengikutinya.


"Mas mau kemana? Apa ada tempat lain yang lebih bagus?" tanya Rani sambil terus mengejar Ken.


"Tidak ada, aku hanya harus pergi." ucap Ken terus berjalan cepat tidak peduli dengan Rani yang masih mengejarnya.


"Pergi kemana mas?"


Ken kesal, Ia berbalik dan kembali menatap Rani.


"Kau ini menjengkelkan sekali." ucap Ken lalu menarik tangan Rani membawanya ke gudang kosong yang ada didekat danau.


Tanpa mengatakan apapun, Ken ******* bibir Rani bahkan Ia juga meremas salah satu gunung kembar milik Rani yang terasa sangat besar hingga penuh ditangannya.


Bibir Rani yang terasa manis membuat Ken enggan melepaskan ciumannya.


Katakan Ken brengsek, Ken tidak peduli karena Rani yang mengodanya lebih dulu.


Bersambung...


Jan lupa like vote dan komen yaaa