TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
25


Pagi ini Faris tak henti hentinya mengulas senyum. Ia merasa senang setelah tahu jika Vanes marah padanya karena cemburu yang artinya sudah jelas tentang perasaan Vanes untuknya.


Faris menyeret kursi lalu duduk didepan Vanes untuk sarapan.


Faris menatap Vanes namun wanita itu sama sekali tidak melirik ke arahnya.


Vanes acuh dan asyik mengoles selai coklat ke roti.


"Aku mau mbak." pinta Faris.


Vanes tidak mengubris ucapan Faris, Ia malah menyodorkan roti tawar dan selai agar Faris bisa membuatnya sendiri.


Faris trrsenyum geli melihat tingkah Vanes, mereka sudah seperti pasangan kekasih.


Namun baru ingin mengoda Vanes, Rizal malah sudah turun kebawah dan ikut gabung sarapan bersama Vanes dan Faris.


"Cerah banget Ris." celetuk Rizal.


"Habis gajian mas, harus semangat dong." balas Faris kembali mengulas senyum lebar.


"Habis gajian apa karena kencan semalam?" goda Rizal yang langsung membuat Faris panik. Bagaimana tidak panik jika raut wajah Vanes langsung berubah malas dan kesal.


Rizal benar benar membuat gaduh antara Faris dan Vanes.


"Nggak kencan mas, aku sama Nisa nggak ada hubungan apa apa!" tegas Faris, "Cuma makan malam bareng karena selama dikantor Nisa udah selalu bantuin aku." tambah Faris seolah ingin menjelaskan juga pada Vanes jika Ia tidak memiliki hubungan apapun dengan Nisa.


"Kirain malah udah jadi sama Si Nisa." celetuk Rizal lagi, "Kok betah amat ngejomblo? Padahal cewek kantor banyak yang cantik, ada Risa, ada Fanny ada-"


Pranggggg.... Suara piring jatuh membuat Rizal menghentikan ucapannya. Faris dan Rizal menatap ke arah suara yang tak lain berasal dari Vanes yang memecahkan gelas.


"Maaf aku tidak sengaja." ucap Vanes.


Bik Sri pun segera datang untuk membersihkan pecahan gelas agar tidak mengenai kaki Vanes.


"Lanjutkan saja sarapan kalian, aku sudah kenyang." kata Vanes lagi lalu beranjak dari duduknya dan pergi ke taman belakang.


Faris memandangi punggung Vanes, rasanya Ia ingin memeluk tubuh gadis itu dan menjelaskan segalanya lebih detail agar tak lagi marah padanya namun tentu saja Faris tidak bisa melakukan itu karena masih ada Rizal disini.


"Dia pasti cemburu padaku karena aku menyebut dikantor ada banyak gadis cantik, dia takut aku tergoda dengan gadis lain lagi." kata Rizal penuh percaya diri.


Dalam hari Faris ingin menertawakan kepercayaan diri Rizal yang berlebihan itu.


"Bukankah seharusnya Mbak Vanes sudah biasa Mas karena mengetahui Mas dengan Mbak Mira."


Rizal berdecak, "Dia bersikap biasa karena menahan diri padahal dalam hatinya dia sangat cemburu. Aku ini cinta pertamanya sudah pasti Vanes akan susah melepaskan aku meskipun aku sempat ada pikiran ingin melepaskannya."


Tangan Faris terkepal, rasanya ingin memukul bibir Rizal saat ini juga. Ia benar benar tak menyangka jika memiliki saudara brengsek yang hanya memainkan perasaan wanita.


"Sudahlah mas sebaiknya kita berangkat sekarang." ajak Faris merasa sudah muak mendengar celotehan Rizal.


Rizal tampak mengangguk dan segera beranjak dari duduknya. Keduanya keluar rumah tanpa berpamitan dengan Vanes namun saat sudah berada didalam mobil, Faris mulai memainkan dramanya, "Ponselku tertinggal mas."


"Ya sudah ambil dulu sana."


Faris segera keluar dari mobil, kembali masuk namun tidak kekamarnya malah pergi ke taman belakang karena sejujurnya ponsel Faris tidak tertinggal, Ia hanya mencari kesempatan agar bisa berpamitan dengan Vanes.


"Mbak... Marah sama aku?" tanya Faris mengejutkan Vanes yang tengah menyirami bunga.


Vanes tak menjawab, malah celinggukan melihat ke belakang Faris.


"Aman kok Mbak, Mas Rizal sudah ada didalam mobil." kata Faris.


"Ngapain? sana kerja!" ucap Vanes ketus.


Faris malah tertawa, "Mbak Vanes tiba tiba marah sama aku, apa Mbak Vanes cemburu ya liat aku pergi sama Nisa?" goda Faris.


Mata Vanes langsung saja melotot, Ia semakin kesal dengan Faris, "Enggak, terserah mau pergi dengan siapapun. Bukan urusanku!"


"Bener nih? oke deh. Berangkat kerja dulu ya mbak." pamit Faris mengelus kepala Vanes lalu pergi begitu saja meninggalkan Vanes.


Vanes menatap punggung Faris lalu menghentakan kakinya, Ia semakin kesal karena Faris sama sekali tidak peka.


"Maaf mas, sekalian buang air kecil jadi lama."


Pak Seto segera melajukan mobilnya menuju kantor.


"Tumben nih nggak ditungguin Ayank." celetuk Rizal saat sampai dikantor dan Nisa tidak tampak padahal biasanya Nisa sudah standby disana.


"Udah dibilang aku nggak ada hubungan apa apa sama Nisa mas." jelas Faris lagi.


Rizal hanya mengangguk lalu segera keluar dan masuk kantor diikuti oleh Faris.


Faris membuka pintu ruanganya, melihat Nisa sudah ada disana.


Faris tak heran kenapa Nisa memjadi seperti ini karena semalam Nisa menyatakan jika menyukai Faris namun Faris menolak dan setelah itu Nisa berkata akan menjaga jarak dengan Faris agar tidak berharap lagi.


"Pagi Nis..." sapa Faris padahal biasanya Faris yang disapa kini Faris yang menyapa lebih dulu.


"Pagi pak." Nisa membalas dengan sedikit senyuman namun segera pudar dan kembali fokus menatap layar laptopnya.


"Nggak ada kopi nih Nis." celetuk Faris mengingat biasanya Nisa semangat menawarkan kopi untuknya.


"Sibuk pak, minta Mbak Sari OB aja pak buat bikinin." balas Nisa tanpa melihat ke arah Faris, benar benar membuat Faris tertawa geli.


Dirumah Vanes ngambek, sekarang dikantor pun Nisa bersikap acuh padanya. sikap wanita benar benar aneh menurut Faris.


Faris tak lagi bertanya, Ia pun ikut fokus menatap layar laptopnya. Namun hari ini, Faris benar benar tak bisa fokus mengingat Vanes masih marah padanya.


Saat ini Ia sedang memikirkan cara agar Vanes tak lagi marah padanya dan Faris langsung tersenyum setelah mendapatkan ide.


"Nis..."


Nisa langsung menatap Faris, "Ada apa Pak?"


"Klinik kantor sebelah mana? Kepala ku pusing sekali rasanya mau pingsan." ungkap Faris.


Raut wajah Nisa terlihat khawatir namun berusaha masih cuek.


"Sebelah ruangan kita baris 3, kliniknya disana."


"Ohh oke."


Faris mulai memainkan dramanya, berjalan sempoyongan hingga hampir jatuh dan membuat Nisa berteriak, "Hati hati pak."


Mau tak mau Nisa akhirnya membantu Faris menuntun hingga sampai ke klinik.


"Dokternya lagi cuti, Bapak istirahat saja nanti biar saya yang handle pekerjaan." kata Nisa langsung diangguki oleh Faris.


Tak berapa lama, Nisa kembali dan membawa berita yang diharapkan oleh Faris.


"Kata Pak Rizal, Bapak disuruh pulang, istirahat dirumah."


Dalam hati Faris ingin tertawa sekeras mungkin karena keberuntungan berpihak padanya namun dari luar, Faris masih berusaha agar wajahnya terlihat tetap pucat.


"Pak Seto sudah menunggu didepan, ayo pak saya antar lagi takutnya nanti pingsan."


"Nis, saya tidak mau diantar pak Seto. Mau naik taksi saja."


"Lah kenapa pak?"


"Saya tidak mau merepotkan."


"Ohh oke pak, saya pesankan taksi."


Dalam hati Faris tertawa puas, namun ada sedikit rasa bersalah.


"Maaf Mas Rizal, aku harus melakukan ini karena menjaga perasaan Mbak Vanes lebih penting saat ini dan untuk masalah pekerjaan, aku sudah menyelesaikan semuanya. sekali lagi maaf Mas Rizal."


Bersambung...