TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
105


Wira baru sampai dihotel tempat Ia akan menginap. Ia mencari keberadaan Sara, membuka kamar Sara namun tidak ada Sara disana.


"Dimana Sara? Dan Ken juga tidak terlihat sejak tadi." gumam Wira.


Wira menatap ke arah pintu kamar Ken yang berada disamping kamar Sara.


Wira menggelengkan kepalanya, mengatakan jika tidak mungkin Sara berada dikamar Ken namun karena sangat penasaran, Wira membuka kamar Ken yang tidak dikunci itu.


Seketika tangan Wira mengepal setelah melihat Sara dan Ken berbaring dalam 1 ranjang tanpa sehelai benangpun.


Wira kembali menutup pintu kamar Ken. Ia terlihat marah dan segera pergi dari sana.


Saat makan malam, Wira sudah berada dimejanya, menunggu Ken dan Sara yang juga belum tiba direstoran hotel tempat mereka akan makan malam bersama.


Wira merasa kesal dan ingin beranjak dari duduknya namun seketika Ia kembali duduk saat melihat Sara dan Ken berjalan ke arahnya.


"Maafkan saya terlambat Tuan." ucap Ken melihat wajah kesal Wira.


"Ada apa? Kenapa kalian terlambat? Darimana kalian?" tanya Wira pura pura tak tahu.


Sara tak mengubris ucapan Wira, Ia malah asyik menikmati makanan yang sudah disiapkan berbeda dengan Ken yang tampak berpikir keras karena bingung mau menjawab apa.


"Sudahlah, makan saja." pinta Wira yang langsung diangguki oleh Ken.


Selesai makan malam, Ken menunggu Wira beranjak dari duduknya namun Wira tak kunjung beranjak membuat Ken pun masih berada disana sementara Sara yang bosan memilih berajak lebih dulu meninggalkan Ken dan Wira.


"Apa ada yang ingin Tuan katakan?" tanya Ken pada Wira.


Wira masih diam hingga beberapa saat sebelum akhirnya Ia mulai bicara, "Apa kau ada keinginan menikahi Sara?"


Ken mengangguk, "Saya sudah mencoba berbicara dengan Nona Sara namun Nona Sara menolak saya."


Wira menghela nafas panjang, "Kalau begitu jauhi Sara, jangan lagi tidur dengannya."


Deg ... Seketika raut wajah Ken berubah memerah malu mendengar ucapan Wira.


"Aku hanya ingin menjaga keponakanku dengan baik, kau tahu itu." ungkap Wira.


"Baik Tuan, saya akan menjauhi Nona Sara." kata Ken tanpa protes.


"Untuk sementara pergilah ke pulau sampai aku memintamu untuk kembali." pinta Wira.


"Pulau Tuan?" tanya Ken seolah tak terima.


Wira memang memiliki pulau pribadi disatu tempat, biasanya Wira pergi ke sana untuk menenangkan diri.


"Ya, pergilah kesana untuk sementara waktu agar kau dan Sara bisa sama sama berpikir apa yang kalian inginkan." ucap Wira beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan Ken.


Hari hari berlalu, tak terasa waktu sudah berlalu satu bulan lamanya.


Vanes dan Faris semakin bahagia menikmati masa masa pernikahan mereka.


Vanes juga sudah terbiasa tinggal dirumah Faris. Ia bisa beradaptasi dengan cepat.


Setiap pagi Vanes bangun lebih awal untuk membantu Asih di dapur selesai dengan urusan dapur Ia menyiapkan segala keperluan yang akan dipakai suaminya.


Mereka berangkat ke kampus bersama dan sepulang dari kampus mereka masih berjualan bakso bakar untuk menambah penghasilan.


"Jika lelah tidak perlu ikut sayang." ucap Faris yang tengah mempersiapkan barang dagangan untuk segera dibawa ke warungnya.


"Tidak, aku tetap mau ikut!" protes Vanes.


"Baiklah jika mau ikut, kita berangkat sekarang." ajak Faris.


Setelah berpamitan dengan Asih, mereka pun segera berangkat. Baru saja sampai sudah ada beberapa penbeli yang menunggu mereka. Bakso bakar buatan Faris memang sudah terkenal enak jadi banyak orang yang berlangganan membeli bakso bakar Faris setiap harinya.


Faris mulai membakar satu persatu baksonya karena Ia memang berada dibagian membakar sementara Vanes bagian melayani pembeli.


"Mbak ini karyawannya ya?" tanya seorang gadis cantik pada Vanes.


"Bukan saya istrinya."


"Kenapa memang kalau sudah punya istri?" tanya Vanes mulai kesal.


"Ya nggak bisa deketin lah, udahlah nggak jadi beli aja." ucap Gadis itu lalu pergi meninggalkan warung.


Vanes melonggo tak percaya sekaligus juga kesal melihat sikap gadis itu.


"Jangan kesal, sikap orang memang beda beda, kita harus melatih sabar mulai sekarang." ucap Faris yang mendengar obrolan Vanes dengan gadis tadi.


"Apa mas merasa senang karena disukai gadis tadi?" tanya Vanes sinis.


"Tidak sayang, aku mengatakan ini karena tidak ingin melihatmu marah." jelas Faris tak ingin Vanes salah paham.


Namun Faris merasa percuma karena Vanes masih tetap kesal hingga saat mereka sudah pulang kerumah pun Vanes masih sensitif.


"Lelah? Mau kupijat?" tawar Faris yang baru saja masuk ke kamar setelah mandi.


Vanes menggelengkan kepalanya dan malah berbaring diranjang padahal Ia belum mandi.


"Sudah kusiapkan air hangat, tidak mandi?" tanya Faris.


"Tidak, aku hanya ingin segera tidur!" suara Vanes terdengar kesal.


Faris tersenyum, berbaring disamping istrinya lalu memeluk istrinya.


"Apa masih kesal dengan yang tadi?'' tanya Faris.


"Tidak, aku hanya sedang lelah saja."


Faris menghela nafas panjang, "Mulai besok tidak perlu ikut jualan, aku bisa melakukan sendiri." kata Faris sejujurnya tak ingin Vanes ikut merasakan lelahnya berjuang mencari nafkah.


"Kenapa begitu? Apa karena kau ingin bersama para gadis yang menyukaimu itu!" Vanes malah semakin kesal namun Faris tak menyerah, Ia malah mengecup kening Vanes.


"Ada apa denganmu sayang? Kenapa kau sensitif sekali hari ini?" tanya Faris.


Vanes tak menjawab dan malah memejamkan matanya.


"Tidurlah, jangan marah lagi. Aku sangat mencintaimu." bisik Faris lalu kembali mengecup kening Vanes membuat Vanes mau tak mau mengulas senyum.


Selama mereka menikah, beberapa kali hal seperti ini terjadi. banyak gadis yang mencoba mendekati Faris membuat Vanes cemburu namun Faris memiliki seribu cara untuk menenangkan hati Vanes, membuat Vanes luluh dan akhirnya tidak lagi marah pada Faris.


Tengah malam Vanes bangun karena merasa ingin pipis dan juga perutnya terasa sakit.


Vanes melihat suaminya masih terlelap disampingnya. Karena tak ingin menganggu lelap suaminya, Vanes bergerak pelan turun dari ranjang dan langsung ke kamar mandi yang ada didekat dapur.


"Kenapa malah begini." gumam Vanes dengan raut wajah sedih karena Ia malah kedatangan tamu.


Vanes kembali masuk dan terkejut saat melihat Faris bangun, menatap ke arahnya.


"Dari mana?"


"Kamar mandi." balas Vanes lalu kembali berbaring disamping Faris.


"Apa masih marah?" heran Faris mengingat Vanes tidak bisa berlama lama marah padanya.


"Tidak, bukan tentang itu. Aku hanya sedang kecewa." ucap Vanes.


"Apa yang membuatmu kecewa sayang?" tanya Faris sambil mengelus kepala Vanes penuh sayang.


"Aku malah datang bulan mas, aku belum hamil." ungkap Vanes dengan raut wajah kecewa.


Faris tersenyum, "Tidak masalah sayang, masih banyak waktu dan kita bisa berusaha lagi jadi jangan sedih lagi." ucap Faris lalu mengecup kening Vanes.


"Tapi bagaimana jika aku tidak bisa hamil?"


"Aku akan tetap mencintaimu dan berada disampingmu." kata Faris yang membuat Vanes meleleh.


Bersambung...


Jan lupa like vote dan komen yaaa