TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
210


Deg....


Deg...


Deg...


Jantung Arga berdegup dengan kencang. Saat ini Ia masih mematung ditempatnya sambil menatap ke arah Sara tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Sara.


Menikah hari ini? Kenapa bisa? Bagaimana bisa? Pertanyaan yang mengelilingi otak Arga saat ini.


"Ayolah Tuan, semua sudah siap dan menunggu." omel Zil.


"Tung tunggu, jadi aku harus menikah hari ini?" tanya Arga masih tak percaya.


"Tentu saja, jika tidak hari ini apa kau ingin menunggu bulan depan?" tanya Herman lalu tertawa bersama Wira dan Faris.


Arga menggelengkan kepalanya, "Jika bisa sekarang kenapa harus menunggu bulan depan." ucap Arga dengan penuh semangat berjalan lebih dulu masuk ke Kua.


"Hey jangan meninggalkan pengantin wanitanya." omel Vanes yang membuat Arga sadar dan menertawakan dirinya.


Arga kembali berbalik lalu mengenggam tangan Sara dan mengajak Sara masuk ke Kua.


"Apakah kedua pengantin sudah siap?" tanya penghulu yang akan menikahkan keduanya.


"Sudah, sangat siap." balas Arga dengan penuh semangat.


Penghulu itu segera mengucapkan ijab kabul yang langsung dijawab dengan lantang oleh Arga tanpa salah sedikitpun.


Sah...


Sah...


Sah...


Akhirnya Arga dan Sara sah menikah hari ini. Setelah penghulu selesai mengucapan doa, Arga segera memasangkan cincin ditangan Sara setelah itu Sara mencium punggung tangan Arga, tak ketinggalan Arga mencium kening Sara berlanjut ke pipi dan saat akan ke bibir semua orang menyoraki Arga hingga Arga mengurungkan niatnya, tak jadi mencium bibir Sara.


"Rasanya masih tak menyangka dan tak percaya." ucap Arga, "Akhirnya kita menikah hari ini."


Sara hanya tersenyum, tak begitu merespon ucapan Arga karena jujur selesai ijab kabul, jantungnya berdegup kencang hingga saat ini.


"Saya sudah memesan restoran untuk makan bersama sekaligus mengucapkan syukur karena acara hari ini berjalan lancar." ucap Zil pada semua orang.


Arga mendekat lalu menepuk bahu Zil, "Baru kali ini aku merasa bangga padamu Zil."


Zil memutar bola matanya malas, "Saya masih belum lupa tentang ucapan Tuan jika saya harus meminta gaji pada Non Sara." cibir Zil pura pura ngambek.


"Hey aku hanya bercanda tadi jangan dimasukkan ke hati." kata Arga lalu tertawa.


"Sudah sudah sebaiknya kita segera pergi ke restoran." ajak Wira.


Semua orang akhirnya memasuki mobil masing masing dan Zil masih satu mobil dengan Arga dan Sara.


"Kenapa melihatku seperti itu?" heran Sara saat Arga menatap ke arahnya tanpa kedip.


"Kau sangat cantik saat memakai hijab seperti ini." puji Arga.


Sara berdecak, "Aku belum siap jika harus memakai hijab setiap hari."


Arga tersenyum, "Aku tidak akan memaksa apapun yang mungkin tidak membuatmu nyaman." ucap Arga lalu mencium pipi Sara.


"Hey! Ada Zil!" protes Sara.


"Biarkan saja dia, abaikan." kata Arga acuh.


"Benar Nona, saya pura pura tidak melihat tapi jika Nona bukan baju saya tidak akan pura pura." celetuk Zil.


Plak... Arga memukul lengan Zil, "Jangan berani kamu Zil!"


"Tidak Tuan ampun." ucap Zil lalu tertawa karena berhasil mengerjai Arga lagi.


Sesampainya direstoran semua orang berkumpul di satu meja untuk makan bersama sekaligus bercanda agar hubungan kedua keluarga semakin erat.


"Apa kau masih marah padaku Ga?" tanya Wira pada Arga.


"Tidak Pa... Mana mungkin Arga berani marah sama Papa." ucap Arga.


"Arga nggak marah cuma kesel aja harus ngalah sama kamu." celetuk Herman lalu tertawa.


"Papa nggak tahu kalau pernikahan kalian harusnya minggu depan, kalau Papa tahu mungkin Papa bisa mundur minggu depannya lagi." ucap Wira merasa tak enak.


"Sudahlah Pa... Jangan di pikirkan lagi yang penting sekarang Arga sama Sara sudah nikah, Papa mikirin kesehatan Papa buat persiapan pernikahan Papa besok minggu." ucap Sara mengingatkan.


"Sara bener Pa... Arga kemarin cuma kesel aja tapi nggak marah kok sama Papa." jelas Arga tak ingin Wira salah paham.


Wira tersenyum lega melihat Arga sudah ceria lagi seperti biasa.


Hampir 2 jam mereka berada direstoran, pukul 12 siang mereka memutuskan untuk pulang kerumah masing masing.


Faris berada satu mobil dengan Vanes dan Rani.


Faris mulai melajukan mobilnya meninggalkan restoran.


"Jadinya kamu kapan Ran?" tanya Faris melihat ke arah spion dimana Rani duduk dibangku belakang.


Rani menghela nafas panjang, "Belum tahu mas, Ibu aja pengennya 1 tahun lagi."


"Kelamaan Ran, nggak baik pacaran lama lama." ucap Faris.


"Aku juga tahu mas, tapi ya mau gimana lagi."


"Yang penting selalu jaga diri Ran, jangan aneh aneh." Vanes ikut mengingatkan.


"Iya mbak, aku tahu."


"Ya sabar aja dan jangan lupa berdoa agar hati Bulik diluluhkan dan kamu bisa segera menyusul menikah." kata Faris.


"Iya mas." balas Rani kembali menghembuskan nafas panjang.


Rani meminta Faris mengantarnya ke kantor. Meskipun Ia sedang cuti hari ini, Rani tetap ingin menemui Dylan kekasih dan juga bosnya dikantor.


"Nanti pulang di anterin Dylan kan?" tanya Faris sebelum Rani keluar dari mobil.


"Iya mas,"


"Ya sudah hati hati." ucap Faris yang langsung diangguki oleh Rani.


Faris kembali melajukan mobilnya setelah Rani keluar dari mobil.


"Kasihan ya Mas si Rani." ucap Vanes.


Faris mengangguk, "Ya mau gimana lagi, Rani nggak mungkin ngelawan bulik karena mau gimanapun Bulik itu ibunya."


"Apa mas nggak bisa bantuin Rani buat ngomong sama Bulik?" tanya Vanes.


Faris menggelengkan kepalanya, "Meskipun aku ini keponakan bulik tapi aku nggak bisa ikut campur urusan mereka sayang."


Vanes mengangguk paham, "Ya sudah kita hanya bisa ikut berdoa agar hati Bulik segera luluh dan memberi restu untuk mereka."


"Ya sayang, jangan khawatir." ucap Faris lalu mengelus kepala Vanes penuh sayang.


Sementara itu Rani kini sudah berada diruangan Dylan namun tak menemukan pria itu ada disana.


Rani keluar dan melihat salah satu anak buah Dylan tengah bekerja, "Mas Dylan kemana?" tanya Rani.


"Lagi di gudang, kok kesini? Bukannya lagi cuti?"


"Acaranya sudah selesai, bingung dirumah mau ngapain jadi ke kantor saja." balas Rani.


"Bilang aja kangen sama Bos."


Rani tersenyum geli lalu pergi meninggalkan anak buah Dylan.


Rani berjalan ke arah gudang yang tak jauh dari ruangan Dylan.


Rani memasuki gudang dan seketika senyumnya memudar saat melihat Dylan bersama seorang gadis.


"Eh sayang." ucap Dylan saat melihat Rani lalu berjalan menghampiri Rani.


"Kok kesini? Apa sudah selesai acaranya?" tanya Dylan.


"Apa aku nggak boleh kesini?" protes Rani.


Dylan terdiam sejenak, dari tatapan mata Rani juga suara serak seperti ingin menangis memperlihatkan jika Rani tengah cemburu saat ini.


"Yesi kesini sebentar." panggil Dylan pada Gadis yang tadi berada digudang dengan Dylan.


"Ini Yesi anak buah dari pihak yellowmatt, dia kesini untuk mengecek ketersediaan barang barang kita." ucap Dylan memperkenalkan.


"Kamu kerja disini juga?" tanya Yesi pada Rani.


Dylan merangkul Rani, "Dia manager dikantor ini sekaligus calon istri saya."


Seketika raut wajah Yesi berubah.


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komenn