TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
61


Jam kampus sudah usai, waktunya untuk Faris dan Vanes pulang. Faris mengantar Vanes pulang ke kosan.


Sore ini mereka tidak ada agenda kemanapun, bukan tanpa sebab karena Faris ada urusan setelah pulang dari mengajar.


"Hati hati dijalan." ucap Vanes lalu melambaikan tangannya pada Faris.


Faris yang tadinya sudah ingin melajukan motornya, mendadak berhenti dan menatap Vanes, "Apa kau percaya padaku?"


Vanes mengangguk.


"Aku tidak akan pernah membuatmu kecewa."


Vanes tersenyum, "Aku percaya padamu. Aku akan menunggu sampai urusanmu selesai." ucap Vanes yang akhirnya membuat Faris ikut tersenyum lega.


Faris akhirnya melajukan motornya meninggalkan Vanes.


Vanes masih belum masuk ke dalam, Ia memandangi punggung Faris yang kini sudah semakin jauh dan tak terlihat lain.


Dalam lubuk hatinya ada perasaan khawatir jika sampai pernikahan itu terjadi namun Vanes mencoba optimis dan percaya pada Faris sepenuhnya.


Faris tidak akan menyakitinya seperti Rizal. Tidak karena Faris orang baik, itulah keyakinan Vanes lagipula Faris selalu jujur padanya, seperti yang terjadi saat ini, meskipun tahu akan menyakitinya Faris tetap jujur, salah satu sifat yang disukai oleh Vanes.


Jika ini terjadi pada pria lain, belum tentu mereka mau jujur seperti Faris dan sikap Faris itulah yang membuat Vanes semakin jatuh cinta pada pria itu.


Vanes akhirnya masuk ke dalam setelah cukup lama berdiri diluar.


Sementara itu Faris baru saja sampai dirumah. Ia langsung mandi dan bersiap untuk pergi. Rencananya Faris ingin menemui Ani setelah ini. Mungkin dengan mereka bertemu bisa membuat Faris menjadi tahu apa yang terjadi pada Ani.


"Mau pergi lagi Le? Nggak makan dulu?" tanya Asih merasa heran dengan Faris yang mengenakan pakaian rapi dan juga sangat wangi.


Faris menggelengkan kepalanya, "Enggak Bu, buru buru mumpung belum adzan magrib." ucap Faris yang akhirnya diangguki oleh Asih.


Setelah mencium punggung tangan Asih, Faris segera melajukan motornya menuju rumah pak Kades. Sampai dirumah Pak Kades, Faris lupa jika Ia tidak membawa buah tangan.


"Ck, sudahlah tidak perlu membawa apa apa." gumam Faris akhirnya.


Faris mengetuk pintu rumah Pak Kades, tak berapa lama pintu terbuka, melihat Ani berdiri didepannya dengan pakaian yang seksi dan wajahnya terlihat pucat.


Kini Faris yakin jika telah terjadi sesuatu pada Ani.


"Mas Faris..." Ani tampak terkejut dengan kedatangan Faris.


"Sibuk nggak?" tanya Faris mencoba bersikap biasa.


Ani menggelengkan kepalanya, "Nggak sibuk, kenapa mas?"


"Mau ngajakin kamu jalan, mau nggak?" tawar Faris.


Wajah Ani terlihat bingung, "Eum, aku lagi nggak enak badan mas, nggak bisa kayaknya."


Fix ada sesuatu yang disembunyikan oleh Ani pikir Faris semakin yakin.


Faris pura pura menampakan raut wajah kecewanya, "Sayang banget padahal aku belain pulang kerja awal biar bisa jalan sama kamu."


Ani terlihat semakin bingung.


"Eh ada Mas Faris." suara Bu Kades terdengar dari dalam rumah, "Kok nggak masuk?" tanya Bu Kades.


Ani akhirnya memberi jalan agar Faris mau masuk kerumahnya.


Kini Faris sudah duduk diruang tamu rumah Ani.


"Kok nggak bawa apa apa? Besok besok kalau kesini minimal bawain buah atau martabak." celetuk Bu Kades membuat wajah Faris memerah seketika, antara malu dan marah.


Faris merasa keluarga Pak Kades selalu menuntut banyak hal padanya padahal yang menginginkan pernikahan itu mereka bukan Faris.


"Ya Bu maaf, saya buru buru soalnya." kata Faris akhirnya.


"Memang mau ngapain buru buru?" tanya Bu Kades yang duduk disamping Ani.


"Rencananya mau ngajakin Dik Ani jalan jalan keluar buat cari angin Bu, kalau boleh." pinta Faris dengan sopan.


"Aduh jangan deh, Ani nggak biasa keluar malem apalagi naik motor buntut."


Seketika tangan Faris mengepal mendengar ucapan Bu Kades, Ia benar benar marah dengan kearoganan Bu Kades.


Bu Kades mengangguk, mengiyakan Faris yang akhirnya keluar dari rumahnya.


"Kenapa ditolak Bu? Harusnya nggak apa apa aku keluar sama Mas Faris." ucap Ani saat Faris sudah keluar.


"Apa kamu bodoh! Jika kamu pergi bersama Faris bisa bisa dia curiga dan jika dia tahu pasti tidak mau menikahimu. Sudah, nurut saja sama Ibu!" Omel Bu Kades yang langsung diangguki oleh Ani.


Diluar rumah, Faris melajukan motornya meninggalkan halaman rumah Bu Kades. Ia tampak kesal dan marah karena rencananya gagal.


Jika saja Ia bisa pergi keluar bersama Ani mungkin Ia bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Ani hingga memaksa harus menikah dengannya.


Faris sampai dirumah dan langsung disambut tatapan heran Asih, "Kok cepet, apa ada yang ketinggalan?" tanya Asih.


Faris menggelengkan kepalanya, "Nggak ada Bu, Faris nggak jadi pergi."


Faris masuk ke dalam, melihat Slamet duduk dikursi tengah menonton televisi, Ia pun ikut bergabung disana.


"Dari mana?" tanya Slamet melihat putranya memakai pakaian rapi.


"Dari luar."


Slamet tertawa, "Tahu jika dari luar tapi dari rumah siapa?"


"Temen pak."


"Ohh..." Slamet tak bertanya lagi karena Ia cukup paham jika jawaban Faris singkat seperti ini bisa dipastikan Faris sedang tidak ingin diberikan banyak pertanyaan.


"Makan dulu Ris." pinta Asih.


"Nanti saja Bu."


Slamet berdecak, tak biasanya Faris menolak makanan seperti ini.


"Dari pada kesel mendingan pergi ke pasar malam siapa tahu ada yang nyangkut." ucap Slamet.


Faris mengerutkan keningnya, "Pasar malam? Emangnya ada Pak?"


Slamet mengangguk, "Ada di kampung sebelah, rame orang, baru buka kemarin."


Seketika Faris tersenyum lebar dan langsung beranjak dari duduknya.


"Mau kemana lagi?" tanya Slamet.


"Lah katanya suruh ke pasar malam pak."


Slamet berdecak, "Ini udah Mau magrib kalau mau pergi nanti habis magrib sekalian."


Faris mengaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal lalu mengangguki ucapan Slamet. Menurut mitos yang ada dikampungnya, Pamali jika pergi saat Ba'da magrib.


Tepat pukul 7 malam, Faris kembali keluar, melajukan motornya menuju kosan Vanes. Karena gagal membawa Ani pergi, Faris beralih ingin mengajak Vanes jalan jalan ke pasar malam agar perasaan kesalnya hilang.


Faris menghentikan motornya didepan gerbang kos Vanes.


Ia mencoba membuka pintu gerbang namun tidak bisa terkunci dari dalam.


Mau tak mau Faris menekan tombol bel yang ada disamping gerbang.


"Cari siapa?" tanya seorang wanita dengan nada galak saat membuka pintu gerbang.


"Vanes, apakah ada?"


"Ini kosan putri, dilarang masuk."


"Kalau begitu panggilkan saja." pinta Faris.


Dengan wajah manyun, wanita muda bertubuh gemuk itu kembali masuk dan tak berapa lama Vanes keluar dengan mengenakan piyama.


"Mas Faris, ada apa?" Vanes tampak terkejut dan senang melihat kedatangan Faris.


"Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat." ucap Faris sambil tersenyum lebar.


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komenn yaaa