
Rani memasuki rumah Dylan, Ia merasa gugup saat ini karena akan bertemu dengan keluarga dari kekasihnya.
Dylan melihat kegugupan yang dirasakan oleh Rani, pria itu mengenggam erat tangan Rani seolah mengatakan jika semua akan baik baik saja.
Setelah kegugupan Rani berkurang, Dylan meminta Rani duduk disofa lusuh yang ada diruang tamu lalu Dylan pergi ke dalam untuk memanggil orangtuanya.
Tak berapa lama, Dylan keluar dengan seorang wanita paruh baya. Yang membuat Rani terkejut melihat wanita itu duduk dikursi roda dan Dylan yang mendorongnya.
"Ini Ibuku." ucap Dylan yang langsung disambut senyuman oleh Rani.
Rani berjalan mendekat dan mencium punggung tangan Ibu Dylan, "Cantik sekali kamu Nak... Siapa namamu?" tanya Wanita paruh baya itu.
"Nama saya Rani."
Wanita itu tersenyum, "Saya Mega, ibunya Dylan. Ya seperti inilah keadaan kami. Dylan harus merawat Ibunya yang lumpuh." ungkap Mega pada Rani.
Rani sempat menatap ke arah Dylan yang juga menatapnya sambil tersenyum.
"Ayahnya Dylan meninggal setelah kecelakaan bersamaku dan aku masih beruntung karena bisa selamat meskipun harus lumpuh seperti ini." cerita Mega.
"Aku akan membuatkan mu minuman." ucap Dylan kembali masuk ke dalam meninggalkan Rani dan Mega.
"Waktu itu Dylan masih kuliah, dia terpaksa bekerja sambil kuliah untuk menghidupi Ibunya yang cacat dan juga biaya sekolahnya."
Rani mengenggam tangan Dylan, "Jangan bicara seperti itu Bu... Sudah kewajiban seorang anak untuk bertanggung jawab atas orangtuanya dimasa tua."
Mega tersenyum, "Tidak hanya wajahmu yang cantik, aku merasa hatimu juga cantik."
Rani tersenyum, "Jangan memuji berlebihan Bu, saya hanya manusia biasa yang juga banyak kurangnya."
Dylan keluar membawa nampan berisi 3 cangkir teh hangat.
"Minumlah, sedikit meredakan perut kembungmu karena harus naik motor bersamaku." ucap Dylan seketika membuat Rani tertawa.
"Perutku tidak kembung dan aku sudah terbiasa naik motor, jangan mengejek ku!" protes Rani.
Setelah berbincang cukup lama, Rani membantu Dylan untuk memasak makan siang.
"Aku tidak menyangka jika kau pandai memasak." puji Rani melihat kelihaian Dylan menyentuh alat alat dapur.
"Aku harap rasanya tidak mengecewakanmu." balas Dylan kembali fokus memasak hingga akhirnya hidangan makan siang siap untuk dinikmati.
Dylan, Rani dan Mega sudah berada dimeja makan. Mereka siap untuk makan siang.
"Bagaimana rasanya?" tanya Mega saat melihat Rani mulai mencicipi masakan Dylan.
"Enak, sangat enak." puji Rani setelah mencicipi masakan Dylan.
"Aku tahu putraku memang pandai memasak." puji Mega dengan bangganya.
"Sudahlah Bu, berhentilah memujiku. Jika aku mendengar pujian Ibu sekali lagi bisa bisa kepalaku terbang." omel Dylan yang langsung disambut tawa renyah Mega dan Rani.
Kehangatan yang sama juga dirasakan dirumah Wira dimana semua orang berkumpul dimeja makan untuk menikmati makan siang bersama.
"Kenapa makan sedikit sekali?" tanya Wira melihat piring Sara tidak penuh.
"Aku sedang tidak nafsu makan Pa..." keluh Sara.
Wira menghela nafas panjang, "Aku tahu ini sulit untukmu Sara tapi kau harus tetap makan." pinta Wira.
Sara ikut menghela nafas panjang lalu menambahkan nasi di piringnya hingga membuat Wira tersenyum.
"Apa malam ini kau ada acara Sara?" tanya Vanes.
Sara menggelengkan kepalanya, "Tidak ada, kenapa kau bertanya?"
Vanes tersenyum, "Aku dan mas Faris mau mengajakmu nonton film, bagaimana menurutmu?"
Sara tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya Ia menjawab, "Tidak, aku sedang tidak ingin keluar."
"Ayolah Sara, kau harus bangkit dan mulai menyenangkan diri." ucap Faris ikut merayu agar Sara menerima tawaran mereka.
"Sepertinya tidak."
Lagi lagi Sara menghela nafas panjang, "Baiklah Baiklah, kalian sangat pemaksa!" omel Sara membuat semua orang tersenyum lega.
Selesai makan siang, Faris membantu Vanes memasukan baju bersih ke lemari mereka.
"Aku masih penasaran." gumam Faris.
"Penasaran kenapa mas?"
"Kemana Ken membawa Alea pergi."
Vanes menghela nafas panjang, "Itu bukan urusan kita mas, aku kesal jika mengingat mereka berdua." omel Vanes.
Faris tersenyum lalu memeluk Vanes dari belakang, "Jangan kesal, aku tidak mau membuatmu kesal jadi aku tidak akan bertanya lagi tentang mereka."
Vanes mengangguk setuju, "Mereka benar benar tak tahu malu, terutama Alea. Kita membantunya dan membawa kemari agar memiliki kehidupan yang layak tapi sekarang malah membuat masalah seperti itu. Aku benar benar kesal."
Faris mengelus kepala Vanes, "Sudah sudah jangan di ingat lagi."
"Aku tidak akan ingat jika Mas tidak menanyakan tentang mereka."
Faris tersenyum memperlihatkan giginya, "Maaf sayang, maafkan aku." ucapnya lalu mengecup kening Vanes.
Beberapa jam berlalu, tak terasa siang sudah berganti sore. Rani bersiap untuk pulang mengingat seharian ini berada dirumah Dylan dan mengenal lebih banyak tentang Dylan.
Pria yang biasanya cengegesan dan banyak bercanda saat dikantor ternyata memiliki beban yang sangat berat dipundaknya.
Tidak ada yang menyangka jika kehidupan Dylan sepahit itu namun meskipun begitu, Rani salut dengan tanggung jawab Dylan yang tidak meninggalkan Ibunya dan begitu sabar merawat Ibunya.
"Kenapa berhenti disini?" tanya Rani saat Dylan menghentikan laju motornya disebuah taman yang tak jauh dari rumah Wira.
"Aku masih ingin mengobrol denganmu."
Rani tersenyum, "Baiklah." setelah memarkirkan motornya, Dylan mengajak Rani duduk disalah satu bangku taman.
"Sekarang kau sudah tahu segalanya, aku tidak akan memaksa mu."
Rani mengerutkan keningnya tak mengerti, "Memaksa untuk apa?"
"Jika kau ingin meninggalkanku."
Rani terkejut, tak menyangka jika Dylan akan mengatakan hal seperti itu padanya, "Apa maksudmu? Kenapa aku harus meninggalkanmu?"
Dylan mengenggam tangan Rani, "Kau tahu kehidupan ku seperti apa Rani, jadi jika kau ingin pergi, aku tidak akan memaksamu untuk bertahan."
Rani berdecak, "Kita sama Dylan, aku juga bukan orang kaya. orangtua ku juga memiliki kehidupan yang sederhana jadi untuk apa aku harus meninggalkanmu."
Dylan tersenyum, menatap Rani tak percaya, "Jadi kau tidak akan meninggalkanku?"
"Tentu saja tidak, kenapa harus meninggalkanmu!" omel Rani.
"Kebanyakan dari gadis yang ku bawa kerumah pasti mereka akan meninggalkanku saat mengetahui kondisi hidupku."
Rani menatap Dylan kesal, "Jangan samakan aku dengan mereka, aku justru merasa bangga padamu karena kau merawat ibumu dengan tulus. Aku benar benar tidak ingin meninggalkanmu." ucap Rani.
Dylan terlihat lega sekaligus senang. Ia bahkan membawa Rani ke dalam pelukannya karena merasa sangat bahagia.
"Terima kasih sayang terima kasih." ucap Dylan.
"Woyy jangan mesum disini." teriak segerombol anak sekolah yang menongkrong ditaman itu.
Dylan tertawa dan melepaskan pelukannya sementara Rani merasa malu hingga memukul dada Dylan.
Bersambung....
Jangan lupa like vote dan komen yaaa...
Mampir juga di karya terbaru author judulnya Me And Mafia
thankyouu semuaaaa