TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
225


Nimas berjalan menjauhi Arka yang mencoba mendekatinya. Wajah Arka berubah nakal membuat Nimas sedikit takut. Satu tarikan tangan Arka membuat Nimas mendekat dan cup... Satu kecupan jatuh dipipi Nimas.


Jantung Nimas berdetak sangat kencang, pipinya terasa panas saat ini. Ia sedikit takut jika Arka sampai berbuat sesuatu yang tak seharusnya mereka lakukan.


"Takut amat? Nggak akan di apa apain juga." ucap Arka lalu tersenyum tengil membuat Nimas menghela nafas lega.


"Usil!" omel Nimas dan Arka tertawa.


"Mau ditemenin sampai orangtua kamu pulang nggak?" tawar Arka.


Nimas menggelengkan kepalanya, "Nggak usah, kamu pulang sekarang. Aku udah biasa tinggal dirumah sendiri."


Arka tersenyum, Ia jelas tahu apa yang ditakutkan oleh Nimas.


Nimas memang gadis baik baik, mau berpacaran dengannya saja Arka sudah merasa beruntung. Arka juga tidak ada niat ingin merusak Nimas karena mau bagaimanapun Ia mencintai Nimas dan tak ingin membuat Nimas sedih.


"Kalau gitu aku pulang sekarang, jangan lupa kunci pintunya dan jangan sembarangan buka pintu untuk orang asing." kata Arka.


Nimas tersenyum, "Iya iya."


Setelah Arka pulang, Nimas segera mengunci pintu rumahnya.


Arka sampai dirumah pukul 6 petang. Ia masuk ke dalam dan melihat Ibunya tengah sibuk berkemas beberapa barang untuk dibawa ke kota.


"Jadinya mau pindah kapan Bu?" tanya Arka langsung duduk disamping Ibunya.


"Besok siang. Tadi sudah ada yang mengurus surat pindah sekolah kamu jadi besok kamu hanya perlu pamitan saja." kata Sri.


Arka menghela nafas panjang, Ia masih belum puas jalan jalan dengan Nimas namun malah besok hari terakhirnya berada disini.


"Kenapa? Masih belum siap ikut pindah?" tanya Sri melihat raut wajah Arka yang berubah lesu.


"Siap nggak siap Arka juga harus tetap pindah kan Bu?"


Sri tersenyum, "Ibu nggak maksa kamu kalau memang kamu mau tinggal."


Arka menggelengkan kepalanya, "Arka mau dekat sama Ibu."


Sri tersenyum, mengelus kepala putranya.


"Kalau setiap minggu Arka pulang kesini nggak apa apa kan Bu?"


Sri mengangguk, "Tentu saja tidak apa apa selama tidak menganggu sekolah kamu nanti."


Arka tersenyum, Ia sudah memutuskan untuk pulang ke kampung setiap minggu agar bisa bertemu dengan Nimas.


"Baru pulang?" suara Wira terdengar mendekat. Wira ikut duduk bersama Sri dan Arka.


"Masalah perpindahan sekolah sudah diurus." kata Wira.


Arka mengangguk, "Tadi Ibu sudah bilang."


Wira tersenyum, "Kita berangkat besok sore."


Arka mengangguk paham, "Arka mau tanya masalah kartu atm yang semalam, kenapa nominalnya banyak sekali?"


Wira kembali tersenyum, "Masih nominal awal, nanti setiap bulan ditambah lagi buat uang saku kamu."


Arka melonggo tak percaya,


"Uang apa?" tanya Sri tak paham dengan arah pembicaraan Arka dan Wira.


"Kemarin aku bilang sama kamu kalau aku sudah menyiapkan kartu atm untuk uang bulanan Arka kan?" tanya Wira yang langsung diangguki oleh Sri, "Semalam sudah ku berikan pada Arka." tambah Wira.


"Arka kaget isinya ada 50 juta." ungkap Arka yang langsung membuat Sri ikut terkejut.


"Kebanyakan mas... Jangan terlalu memanjakan Arka." Sri mengingatkan.


"Enggak memanjakan, itu buat tabungan jangka panjang Arka juga lagipula Arka mau pisah sama teman temannya jadi biar Arka bisa traktir temannya juga." kata Wira.


"Tapi itu terlalu banyak mas." protes Sri dan kali ini diangguki setuju oleh Arka.


"Sudah sudah jangan diperpanjang lagi. Apapun itu aku cuma ingin memenuhi kebutuhan Arka agar Arka bisa fokus belajar tanpa harus memikirkan uang sekolah lagi." kata Wira.


Kali ini Wira dan Sri yang dibuat terkejut karena untuk pertama kalinya Arka memanggil Wira Ayah.


Wira menepuk bahu Arka, dulu saat Ia menikah dengan mendiang istri pertamanya, Wira begitu menginginkan anak laki laki dan sekarang Wira merasa sudah mendapatkan anak laki laki meskipun bukan darah dagingnya sendiri namun Wira berjanji akan menyayanggi Arka seperti putra kandungnya sendiri.


"Arka mau mandi trus istirahat." ucap Arka merasa menghindari tatapan mata Wira karena Ia merasa gugup.


Arka masuk ke kamarnya, Ia melihat bingkai foto mendiang Ayah kandungnya dimeja belajarnya.


Arka mengambil bingkai foto lalu mengelusnya, "Maaf Ayah, bukan aku ingin menggantikan posisi Ayah, aku hanya merasa harus melakukan ini. Pak Wira sangat menyayanggi Ibu dan juga aku. Arka harap Ayah bisa mengerti." ucap Arka mencium bingkai foto Ayahnya lalu kembali meletakan dimeja.


...****************...


Hari ini Arka sangat sedih karena harus berpisah dengan teman temannya. Setelah berpamitan dengan semua temannya, Arka naik ke rooftop sekolahan. Ia menunggu Nimas menemuinya disana mengingat Ia dan Nimas tidak berada disatu kelas.


Pintu rooftop terbuka, tampak Nimas berjalan lesu ke arahnya, "Pindah hari ini?" tanya Nimas sambil memaksakan senyum.


Arka mengangguk, Ia meminta Nimas duduk lalu merengkuh tubuh kurus kekasihnya itu.


"Setiap minggu aku pasti pulang buat kamu." janji Arka.


Nimas tersenyum lalu melepaskan senyuman Arka, "Jangan banyak berjanji, jika tidak ditepati hanya akan mengecewakan."


Arka mengangguk, "Akan aku usahakan."


"Baiklah, sekarang kau bisa pergi. Aku baik baik saja." kata Nimas.


Arka mengeluarkan sebuah kalung dikantong celananya, Ia segera memakaikan kalung itu untuk Nimas.


Kalung dengan simbol hati dimana ada huruf A dan N.


"Jangan dilepas." pinta Arka yang langsung diangguki oleh Nimas.


Arka kembali memeluk Nimas sekali lagi.


"Aku harus kembali ke kelas." ucap Nimas.


Arka mengangguk, sebelum Nimas beranjak dari duduknya Arka sempat mengecup kening Nimas.


Sore harinya...


Mobil jemputan sudah datang. Wira, Sri dan Arka segera memasuki mobil itu. Banyak sekali tetangga juga saudara Sri yang mengantar kepergian Sri, mereka turut bahagia karena Sri memiliki suami kaya raya yang bisa memboyong serta putranya tinggal dikota.


"Jangan sedih, kamu bisa pulang setiap saat." kata Wira pada Arka yang terlihat lesu.


Arka hanya mengangguk, Ia sedang tak ingin bicara saat ini.


Setelah melewati 5 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di istana Wira pukul 8 malam.


Kedatangan mereka disambut hangat oleh anak dan menantu Wira.


Arka tampak terkagum kagum melihat megahnya rumah Wira.


"Ayo aku anterin kamu ke kamar." ucap Faris membantu Arka membawa kopernya.


"Bener ini kamar aku mas?" tanya Arka seolah tak percaya jika Ia akan memiliki kamar sebagus itu.


Faris mengangguk lalu tersenyum, "Aku sama Arga yang dekor kamar. gimana bagus nggak?"


Arka mengangguk, "Bagus sekali mas, terima kasih banyak mas."


Faris kembali tersenyum, "Syukur kalau kamu senang."


Dibawah, Arga dan Sara membantu membawa barang bawaan Wira.


Arga dan Sara memang sengaja pulang kerja datang kerumah untuk menyambut kedatangan pengantin baru.


"Loh siapa ini?" suara usil Wira terdengar saat masuk kerumah dan melihat ada Herman yang duduk diruang tamu bersama Asih.


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen yaaa