TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
228


Sepanjang perjalanan pulang kerumah, Herman terlihat lesu dan hanya diam saja membuat Arga dan Sara merasa heran mengingat saat berangkat kerumah Wira, Herman sangat bersemangat.


Arga melirik Sara yang ada disampingnya, memberi kode mata pada Sara seolah bertanya apa yang terjadi namun Sara sama saja tidak tahu dan hanya menggelengkan kepalanya.


"Ayah kenapa?" tanya Arga akhirnya tidak tahan untuk tak bertanya.


"Nggak apa apa." balas Herman lalu terdengar helaan nafas.


"Ditolak sama Bu Asih?" tanya Sara giliran bertanya.


Herman menggelengkan kepalanya, "Ayah belum ngomong sama Bu Asih."


"Trus kenapa Ayah manyun?"


"Dibilang nggak apa apa, pada bawel kenapa sih!" Herman mulai sewot.


"Dih udah kayak cewek pms aja nih." celetuk Arga yang langsung mendapatkan pukulan dilengannya.


"Jangan gitu mas!" omel Sara dengan suara pelan.


"Apa Ayah marah sama aku gara gara tadi aku ngerjain Ayah?" tebak Arga.


Herman kembali menggelengkan kepalanya.


Arga berdecak, "Ya maaf Yah, Arga kan cuma bercanda lagian harusnya Ayah seneng karena Arga bantuin Ayah ngasih kode ke Bu Asih kalau Ayah naksir sama Bu Asih." ungkap Arga.


"Di bilang bukan karena itu!"


Arga menghela nafas panjang lalu mengelus elus dadanya agar lebih sabar lagi, "Serah Ayah dah maunya gimana."


"Udahlah kalian diem aja, Ayah lagi nggak mood ngomong!" kata Herman.


"Dasar bucin!" ejek Arga.


"Mas!" Sara mengingatkan.


Arga tersenyum dan kembali fokus menyetir mobil.


Sesampainya dirumah, Herman masih tak mengatakan apapun. Herman langsung masuk ke rumah begitu saja meninggalkan Arga dan Sara yang masih keheranan.


"Ayah kenapa sih mas, aneh banget kalau cuek kayak gitu." kata Sara.


"Ya aku juga nggak tahu. Coba tanya sama Papa Wira kan tadi lagi ngobrol sama Papa Wira trus balik balik udah gitu aja." kata Arga.


Sara mengangguk, Ia mengambil ponselnya dan segera menghubungi Wira.


"Nggak dijawab." kata Sara.


"Mungkin Papa lagi inak inak." celetuk Arga.


"Inak inak apa mas?"


"Masa nggak tahu?" Arga menatap Sara nakal.


Sara langsung memukul lengan Arga segera tahu apa yang dimaksud oleh Arga.


"Udah yuk masuk kamar aja, aku juga udah nggak sabar buat inak inak." ajak Arga menarik tangan Sara dan membawa istrinya masuk ke kamar.


Tengah malam, Asih bangun untuk menunaikan sholat malam. Selesai sholat, tenggorokan Asih terasa kering. Ia pergi ke dapur untuk mengambil air minum dan malah berpapasan dengan Rani yang tengah makan buah apel.


"Laper Budhe." ucap Rani.


Asih ikut duduk disamping Rani, "Tumben tengah malam begini laper padahal malam tadi kamu juga sudah makan." heran Asih.


"Aku juga nggak tahu Budhe, akhir akhir ini sering banget ngerasa laper."


Asih tersenyum kecil, "Kayak orang hamil saja."


Uhuk uhuk... Seketika Rani tersedak.


"Pelan pelan, Budhe nggak akan minta." ucap Asih sambil tersenyum geli.


Rani minum segelas air yang Ia ambil lalu mengakhiri makannya, "Rani udah kenyang, mau balik ke kamar dulu." ucap Rani langsung pergi begitu saja meninggalkan Asih.


Asih menatap punggung Rani lalu menghela nafas panjang, "Kenapa harus terjadi lagi." gumam Asih.


Rani sudah kembali ke kamar. Ia mengunci pintu kamarnya dengan tangan bergetar.


Rani duduk dipinggir ranjang lalu mengambil kalender yang ada dimeja.


Rani meletakan kembali kalendernya lalu menggelengkan kepalanya, "Tidak... Tidak mungkin!"


Rani mengambil tespack yang Ia simpan di laci lemari kamarnya. Ia pergi ke kamar mandi untuk menggunakan tespack yang sengaja Ia beli beberapa minggu yang lalu.


Dengan jari tangan bergetar, Rani melihat hasil tespcak itu dan hasilnya... Garis 2.


Seketika tubuh Rani ambruk dilantai, Ia membuang tespack itu dan kembali menggelengkan kepalanya, "Tidak mungkin, tidak mungkin." ucap Rani tak percaya.


Selama ini Dylan selalu menggunakan pengaman saat mereka bermain jadi bagaimana ini bisa terjadi? Rani tak percaya, Ia benar benar tak percaya.


Rani kembali ke kamar dengan membawa tespacknya. Ia mengambil ponsel dan langsung memanggil Dylan.


Satu kali panggilan... Dua kali panggilan bahkan ketiga kalinya tidak ada jawaban dari Dylan.


"Masih tengah malam, tentu saja Dylan tidur." gumam Rani meletakan ponselnya dan berhenti menghubungi Dylan.


Tubuh Rani lemas seketika mengetahui dirinya hamil.


"Kenapa tebakan Budhe Asih bisa benar." gumam Rani, "Atau mungkin Budhe Asih sudah tahu?"


Rani kembali menggelengkan kepalanya, "Tidak... jangan sampai semua orang tahu. Aku tidak mau mengecewakan orang orang." ucap Rani lalu menangis.


Paginya...


Rani tidak ikut sarapan, Ia meminta Dylan menjemputnya lebih awal karena Ia sudah tak sabar memberitahu Dylan tentang apa yang terjadi padanya.


"Tumben Rani nggak sarapan?" heran Faris saat semua orang sudah dimeja makan dan Rani malah langsung keluar rumah.


"Mungkin Rani lagi diet mas." Timpal Vanes.


Faris berdecak, "Udah kurus gitu masih mau diet."


"Ya namanya juga anak muda mas." tambah Vanes.


Faris beralih menatap ke arah Arka yang sudah rapi mengenakan seragam sekolahnya, "Gimana Arka semalam bisa tidur nggak?"


Arka mengangguk, "Rasanya nggak mau bangun mas."


Semua orang tertawa mendengar celetukan Arga, "Udah siap kan sekolah di tempat baru?"


Arka mengangguk, "Mbak Sara kemana? Nggak ikut sarapan sama kita?" tanya Arka tidak ada Sara disana.


"Sara dirumah Mas Arga suaminya jadi ya nggak ikut sarapan bareng kita." balas Wira.


Arka berohh ria. Kemarin Ia pikir Sara dan suaminya ikut tinggal disini tapi ternyata Arka salah.


Selesai sarapan bersama, Arka, Vanes dan Faris bersiap untuk berangkat. Sebelum masuk ke mobil Asih terlihat mengejar Faris.


"Ada yang mau Ibu bicarakan." kata Asih yang langsung diangguki oleh Faris.


Faris berjalan mendekati Asih, "Mau ngomong apa Bu?"


"Ibu merasa ada yang aneh dengan Rani."


"Aneh gimana Bu?"


"Mungkinkah Rani hamil..."


Faris terkejut dengan ucapan Ibunya, "Bagaimana bisa ibu bilang begitu?"


"Ibu lihat dari bentuk tubuhnya Rani yang berbeda dan Rani semalam makan buah apel." adu Asih, "Bukankah selama ini Rani tidak suka apel? Tapi semalam Ibu lihat Rani makan buah apel dengan sangat lahap. Ibu khawatir kalau Rani sampai bernasib sama seperti Rina." ungkap Asih.


Faris mengelus bahu Asih, meminta agar Ibunya lebih tenang, "Ibu tenang saja, nanti Faris selidiki lagipula Dylan itu pria baik bukan pria brengsek, dia tidak akan menyakiti Rani."


Asih mengangguk, "Semoga saja tebakan Ibu salah." kata Asih yang langsung diangguki oleh Faris.


Setelah Faris memasuki mobil, Asih pun segera masuk kerumah.


Sementara itu Rani dan Dylan baru saja sampai ke kantor. Dylan sudah tak sabar ingin tahu apa yang akan dibicarakan oleh Rani.


Keduanya memasuki ruangan Dylan dan Rani segera memberikan tespacknya pada Dylan.


"Kamu hamil?"


Bersambung..


Jangan lupa like vote dan komen..