
Wira meletakan ponselnya dinakas lalu Ia kembali berbaring diranjangnya.
Padahal tadinya Wira baru bisa tidur namun suara telepon malah menganggunya.
Kini Ia kembali tidak bisa tidur lagi.
Wira menatap ke langit langit kamarnya, merasa aneh dengan sikap Tantri yang kini tidak menginginkan penyelidikan tentang kecelakaan yang dialami oleh Rizal.
Menurut Wira sangat mencurigakan, kini Wira malah menebak jika mungkin Tantri sudah tahu perilaku buruk putranya namun mendukung putrnya tetap bersama dengan Vanes.
Benar benar tak bisa dibiarkan lebih lama lagi pikir Wira.
Dirumah sakit...
Vanes masih menatap Mama mertuanya, Ia menunggu Mamanya memberikan jawaban untuknya.
"Jadi ada apa dengan Papa Ma?" tanya Vanes sekali lagi.
Rizal terlihat menepuk jidatnya disaat melihat Mamanya kebingungan harus menjawab apa.
"Aku meminta Mama untuk menghubungi Papa dan mengatakan jika aku sudah sadar." kata Rizal akhirnya membantu Mamanya.
"Ditengah malam begini? Bukankah besok tidak apa apa." protes Vanes takut jika istirahat Papanya terganggu karena telepon dari Tantri.
"Maafkan Mama sayang." ucap Tantri menghampiri Vanes, "Mama terlalu senang hingga tak sadar ini sudah tengah malam."
Mendengar ucapan Tantri membuat Vanes merasa sungkan hingga akhirnya Ia angguki saja.
"Mama mau kembali tidur, ngantuk sekali dan Vanes juga kembali tidur saja. Biarkan Rizal istirahat."
"Baik Ma." Vanes kembali berbaring dikasur lipatanya.
Semua orang sudah kembali tidur dan Rizal pun bisa bernafas lega karena masalahnya sudah selesai. Kini Ia juga bisa ikut terlelap.
...****************...
Beberapa pagi sudah dilewati Faris tanpa Vanes. Meskipun Faris bisa namun dalam hatinya ada banyak rindu untuk Vanes.
Faris sudah bersiap pergi ke kampus tempat Ia mengajar.
Sehari setelah kepulangannya, Faris memang langsung melamar menjadi dosen disalah satu universitas rekomendasi dari temannya, beruntung Ia langsung diterima dan sudah mulai bekerja beberapa hari disana.
Tidak ada kendala apapun dalam pekerjaan Faris kali ini karena menjadi dosen memang sudah diimpikan oleh Faris sejak dulu.
Baru beberapa hari mengajar saja, Faris sudah banyak Fans, Ia bahkan dijuluki Dosen ganteng oleh beberapa mahasiswi yang terkenal genit dikampus itu.
"Itu tugas pertama dari saya, jangan ada yang beralasan. Besok pagi tugas itu harus dikumpulkan dimeja saya." ucap Faris dengan tegas lalu keluar dari kelasnya.
Meskipun banyak yang menyukai Faris tidak membuatnya besar kepala hingga memanjakan mahasiswinya.
Faris tetap tegas mengajar para generasi bangsa itu.
Faris memasuki ruangannya, dikampus ini semua dosen yang mengajar memiliki ruangan masing masing jadi jarang ada interaksi dengan dosen lainnya.
Faris mengendurkan dasinya, baru 1 kelas masih ada 5 kelas lagi untuk hari.
"Semangat buat kesuksesan masa depan." gumam Faris mulai membuat bahan yang akan Ia ajarkan setelah ini.
Faris terlalu konsen merangkum hingga Ia terkejut saat mendengar pintunya diketuk dari luar.
"Masuk." pinta Faris.
Pintu terbuka, nampak salah satu mahasiswinya memasuki ruangan Faris dengan tatapan mata nakal.
"Ada apa Jessi?" tanya Faris yang sudah mengenal nama mahasiswinya itu.
"Pak seperti ya saya tidak bisa membuat tugas yang Bapak berikan." kata Jessi dengan suara manja.
"Bukankah saya sudah bilang jika tidak menerima alasan apapun." balas Faris tegas.
"Bukan begitu pak..." entah apa yang dipikirkan Jessi hingga gadis itu malah membuka kancing atas kemeja yang dipakainya sendiri.
"Saya tidak terbiasa pusing memikirkan tugas seperti ini jadi saya mengganti dengan..." Jessi sudah membuka semua kancing bajunya hingga memperlihatkan bra berwarna merah dimana didalam bra itu terdapat gundukan gunung kembar yang lumayan besar dan membuat siapa saja pasti tergoda.
Jessi tersenyum nakal, Ia berdiri lalu berjalan kesamping hingga kini sudah berada didepan Faris.
Tak cukup hanya membuka kancing bajunya, Jessi bahkan melepaskan roknya, benar benar membuat Faris gila.
"Bapak bisa melakukan apapun yang Bapak suka, asal saya tidak perlu mengerjakan tugas itu." kata Jessi dengan jelas.
Bukannya tertarik, Faris langsung tersenyum sinis, "Kamu pikir saya tertarik?"
Seketika raut wajah Jessi berubah merah, Ia malu sangat malu karena terang terangan Faris menolaknya.
"Pakai kembali rokmu dan keluar dari ruangan saya! Jika besok kamu tidak mengumpulkan tugas yang saya berikan, jangan harap bisa masuk ke kelas saya lagi!" ucap Faris dengan galak membuat Jessi memanyunkan bibirnya lalu keluar setelah memakai kembali pakaiannya.
"Sialan sialan! apa dia homo? Kenapa dia menolak ku!" umpat Jessi saat sudah berada diluar.
Sementara Faris didalam ruanganya terlihat memijat kepalanya sendiri. Sungguh Ia tak menyangka jika salah satu mahasiswinya berani menawarkan diri hanya karena sebuah tugas.
"Pantas saja semua Dosen memiliki ruangan sendiri ternyata hanya untuk ini!" kesal Faris.
Faris kembali menfokuskan diri mempelajari bahan materi meskipun pikirannya masih mengingat tubuh seksi milik Jessi.
"Sialan! Kenapa pikiranku jadi kotor begini." umpat Faris lalu membanting pulpennya.
"Ingat Faris, jika kau seperti ini, kau tidak akan mendapatkan apapun termasuk Vanes. Ingat tujuanmu Faris, ingat!" kata Faris berusaha meyakinkan dirinya.
Setelah menyebut nama Vanes, ajaibnya Faris tidak lagi mengingat tubuh Jessi. Benar benar ajaib pikir Faris.
Sementara itu dirumah sakit,
Vanes tengah duduk disalah satu bangku kantin rumah sakit. Tangannya mengaduk aduk kopi hangat yang baru saja datang.
Vanes memikirkan semua ucapan mertuanya yang Ia dengar.
Ya semalam Vanes mendengar semuanya, Ia belum tidur, pura pura tidur karena penasaran ingin mendengar pembicaraan Tantri dan Rizal.
Tantri mengetahui segalanya itulah yang Vanes dengar.
Tantri tahu perselingkuhan Rizal namun tetap membela Rizal. Sungguh terasa menyakitkan dan kejam.
"Sebenarnya apa yang mereka cari dariku dan Papa?" gumam Vanes.
"Mungkinkah harta?"
Vanes berdecak, "Bukankah itu sangat kejam."
Vanes menyeruput kopinya lalu terkejut saat melihat salah satu anak buah Papanya mendatanginya.
"Tuan Wira sedang berada disini Nona."
Vanes mengangguk paham, Ia menyeruput kopinya sekali lagi lalu beranjak dari duduknya.
Vanes memasuki ruangan Rizal, tampak Papanya sudah duduk dikursi dekat ranjang, tengah mengobrol dengan Rizal.
"Tidak perlu memikirkan perusahaan, Papa akan bantu handle semuanya." kata Wira.
"Terima kasih banyak Pa..."
Vanes mengerutkan keningnya, Ia sedikit bingung dengan Rizal yang santai sekali mengizinkan Papa mengurus perusahaan Rizal. bagaimana jika Papa malah tahu perselingkuhan Rizal mengingat wanita simpanan Rizal juga berada dikantor itu?
Kini malah Vanes yang merasa khawatir.
"Apa kau gila? Kenapa kau mengizinkan Papa mengurus perusahaanmu?" protes Vanes saat Wira sudah keluar dari kamar inap.
Rizal malah tertawa, "Kenapa aku harus khawatir?"
"Bagaimana jika Papa tahu tentang wanita selingkuhanmu?"
Lagi lagi Rizal malah tertawa, "Sudah ku bilang aku sudah berakhir dengan wanita itu lagipula dia juga sudah ku usir."
Vanes tertegun, Ia tak menyangka jika Rizal benar benar serius dengan ucapannya.
Bersambung...