
Alea tersenyum puas saat melihat Ken terlelap disampingnya dalam keadaan polos tanpa busana. Ia menarik selimut agar menutupi tubuh polosnya dan juga Ken.
Alea lebih baik diajak bercinta dengan kasar dari pada harus mendapatkan kekerasan fisik dari Ken.
Ia mencintai pria itu dan tak ingin mati ataupun kehilangan Ken.
Alea akan melakukan segala cara agar Ia bisa tetap bersama dengan Ken selamanya.
Alea baru ingin memejamkan matanya, Ia merasa perutnya mual. Alea segera beranjak dari ranjang, berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
"Sial, apa yang terjadi." gumam Alea kembali memuntahkan isi perutnya.
Alea mengingat ingat tanggal dan benar saja jika Ia sudah terlambat datang bulan selama 5 hari. Seketika tubuh Alea bergetar mengingat amarah Ken jika sampai terjadi sesuatu padanya, misalnya kehamilan.
"Tidak... Aku tidak boleh hamil. Jika aku hamil, Ken pasti akan meninggalkanku!" ucap Alea dengan bibir bergetar.
Alea melangkahkan kakinya perlahan keluar dari kamar mandi lalu mengambil tespack yang Ia beli beberapa hari sebelum Alea pindah kerumah Ken.
Dengan tangan bergetar, Alea segera menggunakan tespack itu dan betapa terkejutnya Alea saat melihat hasil tespacknya bergaris 2.
Kemarin Alea sempat mengharapkan hamil agar bisa bersama dengan Ken namun sekarang, tidak... Alea tidak ingin hamil karena Ia tidak mau kehilangan Ken.
"Aku harus membunuh bayi ini, aku harus aborsi!" gumam Alea berkali kali.
Alea mengenggam erat tespack itu lalu membuangnya ditempat sampah. Ia keluar dari kamar mandi dengan perasaan takut.
"Ada apa?" suara Ken menambahkan rasa takut Alea.
"Ti tidak, aku pikir sedang masuk angin jadi aku muntah." ucap Alea.
Ken tak lagi merespon, Ia memilih kembali tidur, mengacuhkan Alea membuat Alea merasa lega dan kembali berbaring disamping Ken sambil memikirkan apa yang harus Ia lakukan agar bayi yang ada dirahimnya itu mati.
Pagi hari dirumah Wira, semua orang berkumpul untuk sarapan bersama.
"Kau terlihat bahagia." kata Wira saat menatap Sara, "Aku senang melihatmu sudah baik baik saja."
Sara mengangguk, "Aku tidak ingin membuat semua orang khawatir jadi aku harus bahagia mulai sekarang." kata Sara.
Faris berdecak, "Tapi aku tidak yakin karena itu, aku merasaa..."
Mata Sara langsung melotot ke arah Faris, memberi peringatan pada Faris agar tidak menceritakan tentang Arga pada semua orang.
"Karena apa?" Wira tampak penasaran.
"Biarkan Sara yang mengatakan sendiri Pa." balas Faris tidak ingin membuat Sara kesal.
"Tidak ada apa apa Paman, tidak perlu dipikirkan." kata Sara.
"Nanti jika waktunya tepat Papa pasti akan tahu segalanya." tambah Faris yang kembali membuat mata Sara melotot kesal.
Selesai sarapan, Sara berjalan lebih dulu keluar rumah tanpa menunggu Faris dan Vanes.
"Kau bawa mobil sendiri?" tanya Vanes pada Sara.
"Ya, lebih baik bawa mobil sendiri."
"Kenapa harus membawa mobil sendiri, bukankah ada yang menjemputmu?" cibir Faris dengan nada mengejek.
"Aku tidak suka merepotkan orang lain." kata Sara lalu memasuki mobilnya dan segera melajukan mobilnya meninggalkan Faris dan Vanes.
Vanes berdecak, "Jangan membuat suasana hatinya buruk mas." kata Vanes mengingatkan.
"Kenapa? Aku hanya bercanda sayang." kata Faris merangkul Vanes dan mengajak Vanes memasuki mobil.
Faris segera melajukan mobilnya menuju kampus Vanes. Sesampainya disana, Faris kembali dibuat kesal saat melihat pria yang kemarin bersama Vanes berdiri didepan seolah sedang menunggu Vanes.
"Aku tidak tahu." balas Vanes yang memang tidak tahu kenapa Rio berdiri disana.
Karena kesal, Faris ikut turun bersama Vanes dan benar saja kekhawatiran Faris terjadi, saat Vanes turun dari mobil, pria itu berjalan menghampiri Vanes.
"Aku nungguin kamu." ucap Rio tanpa sadar Faris ada di belakang Vanes.
"Suaminya Vanes." Faris langsung mengulurkan tangannya pada Rio.
Rio sempat menatap heran ke arah Faris sebelum akhirnya Ia tersenyum senang, "Ya ampunn ciiinnn ganteng banget suami kamu."
Seketika Faris terkejut mendengar suara Rio yang sedikit aneh, tidak seperti pria pada kebanyakannya.
"Boleh nggak suaminya dipinjem semalam?" goda Rio membuat Faris semakin terkejut sementara Vanes hanya terkekeh.
"Gila kamu, suami aku normal, nggak usah aneh aneh." omel Vanes.
"Ak aku berangkat dulu." pamit Faris terdengar gugup lalu pergi meninggalkan Vanes dan Rio.
Vanes yang masih tertawa geli akhirnya menghampiri Faris, masuk ke dalam mobil, "Sekarang mas tahu kan kenapa kemarin aku senyum sama dia?" tanya Vanes yang langsung diangguki Faris.
"Gila, ternyata temen kamu bencong. Hii." ucap Faris merasa ilfil.
Vanes kembali tertawa, "Gitu aja kemarin kamu marah sama aku." protes Vanes.
Faris tersenyum lalu mengelus kepala Vanes, "Maaf sayang, namanya juga cemburu. Sudah sana udah ditungguin tuh sama Rio dari pada nanti dia nyamperin aku lagi." kata Faris yang langsung diangguki Vanes.
Setelah mencium punggung tangan Faris, Vanes keluar dari mobil dan masuk ke gedung kampus bersama Rio.
...****************...
Beberapa jam berada dikantornya, Sara melihat ke arah arojinya yang sudah menunjukan pukul 12 siang, waktunya untuk istirahat makan siang.
"Sudah waktunya makan siang." gumam Sara celinggukan seperti mencari seseorang dan karena tidak ada yang mengajaknya makan siang diluar, Sara memilih makan siang di kantin kantor.
Sepanjang makan siang, Sara merasa ada yang aneh dengan dirinya, entah apa yang Ia rasakan dan Sara merasa itu aneh, sangat aneh.
"Kenapa dia tidak datang?" gumam Sara dan beberapa menit kemudian Sara memukul kepalanya, "Apa aku gila? Untuk apa aku menunggunya!" omel Sara pada dirinya sendiri.
Selesai makan siang, Sekretaris Sara memberi jadwal jika hari ini harus bertemu dengan Arga lagi.
Sara berdecak, "Apa harus aku yang bertemu dengannya!" omel Sara padahal dalam hatinya Sara ingin bertemu dengan Arga.
"Kali ini Pak Arga yang datang Bu jadi Ibu Sara tidak perlu kesana, silahkan menunggu diruang meeting." kata Sekretarisnya.
"Baiklah, aku juga sedang malas pergi kesana." kata Sara acuh dan segera pergi ke ruangan meeting.
Sara menunggu hampir 15 menit namun Arga tak kunjung datang membuat Sara menjadi kesal karena Arga tak tepat waktu tidak seperti dirinya kemarin yang ontime datang ke kantor Arga.
20 menit berlalu dan kini hampir 30 menit, Sara merasa kesal dan marah. Ia pun beranjak dari duduknya dan hendak keluar dari ruangan untuk menanyakan pada sekretarisnya tentang keterlambatan Arga namun baru akan membuka pintu, seorang pria asing tampak berdiri didepan pintu.
"Maafkan saya terlambat Nona."
"Siapa kau?"
"Saya Zildan, asisten pribadi Tuan Arga. Saya datang untuk menggantikan Tuan Arga yang tidak bisa hadir Nona."
Seketika raut wajah Sara berubah.
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komenn