
Wira dan keluarganya sudah duduk diruang tamu sederhana milik Bik Sri dimana Bik Sri juga ikut duduk disamping Arka.
"Kenalkan ini Arka putra saya." ucap Bik Sri, "Dan ini Tuan Wira, lalu ini Non Vanes putrinya Tuan Wira dan sebelahnya lagi Den Faris suaminya Non Vanes." Bik Sri memperkenalkan pada Arka siapa saja yang datang kerumahnya saat ini.
Wajah Arka masih datar, memperhatikan satu persatu tamu yang datang kerumahnya termasuk Wira.
Hingga wajah datar Arka berubah sedikit ramah setelah mendengar sapaan Vanes.
"Haloo Arka... Kelas berapa kamu?"
"kelas 3 Smk."
"Wah sebentar lagi lulus dong." ucap Vanes yang langsung membuat Arka tersenyum.
"Ya."
"Rencananya mau kuliah dimana setelah lulus?"
"Belum tahu." balas Arka.
"Kuliah dikampusku saja, ada banyak jurusan dengan masa depan cerah disana." kata Vanes.
Arka menatap ke arah Bik Sri seolah meminta tolong ibunya agar menjawabkan pertanyaan Vanes.
"Pengennya jadi polisi Non." kata Bik Sri.
"Wah nanti jadi polisi ganteng dong." goda Vanes yang lagi lagi membuat Arka tersenyum.
"Saya buatkan minum dulu." pamit Bik Sri dan Vanes ikut beranjak dari duduknya, "Mau ikut Bik."
Kini tinggalah Faris, Wira dan Arka.
"Mau jalan jalan keluar?" tawar Arka pada Wira.
Mendengar tawaran Arka tentu saja Wira langsung mengangguk setuju.
"Aku nunggu disini saja Pa." kata Faris tak ingin menganggu pembicaraan Arka dan Wira.
Arka mengajak Wira berjalan ke belakang rumah dimana ada sebuah kolam ikan disana.
"Kau yang membuatnya Nak?" tanya Wira melihat kolam ikan itu cukup besar.
Arka menggelengkan kepalanya, "Bukan aku tapi Ayahku. Sudah bertahun tahun dan aku masih merawat kolam ikan ini." ungkap Arka.
Wira tersenyum, "Ayahmu pasti orang baik."
"Ya tentu saja itulah sebabnya aku tidak ingin posisi Ayahku tergantikan oleh siapapun!" ucap Arka dengan tegas.
"Tidak akan ada yang bisa mengganti posisi seseorang dalam hidup Arka." kata Wira membuat Arka langsung menatap ke arah Wira, "Dia akan tetap menjadi Ayahmu sampai kapanpun."
"Lalu bagaimana jika Ibuku menikah dan akan melupakan Ayahku?" protes Arka.
"Istriku juga sudah meninggal, aku sama seperti ibumu dan aku sama sekali tidak berniat melupakan ataupun menghapus tentang istriku. Dia masih ada disini." kata Wira sambil menunjuk ke arah hatinya, "Hanya saja hidup harus terus berjalan, kita tidak boleh terpaku oleh masa lalu." kata Wira yang langsung membuat Arka terdiam.
"Aku tahu, kau pasti takut jika Ibumu menikah denganku dan Ayahmu akan terlupakan."
Arka mengangguk, "Ya aku tidak mau Ibu melupakan tentang ayah."
Wira menggelengkan kepalanya, "Saat ini kami hanya butuh teman pelengkap dimasa tua dan aku pikir Ibumu tidak akan melupakan Ayahmu. Dia pasti masih menyimpan Ayahmu didalam hatinya."
"Apa kau tidak akan cemburu atau marah?" tanya Arka.
Wira menggelengkan kepalanya, "Aku bahkan mengalami hal yang sama jadi untuk apa aku marah."
"Aku tidak akan berjanji banyak, jika kau merestui hubungan kami, aku akan mengusahakan segala cara untuk membuat ibumu dan kamu bahagia." ucap Wira.
Arka menghela nafas panjang, Wira terlihat pria yang baik dan mungkin bisa memahami dirinya dan juga Ibunya.
"Kapan kau akan menikahi Ibuku?" tanya Arka akhirnya.
Wira tersenyum lebar, "Secepatnya."
"Bagaimana kalau minggu depan?" tawar Arka.
"Tidak masalah, hari ini pun jika boleh akan ku lakukan." balas Wira mantap.
Arka menggelengkan kepalanya, "1 minggu saja ku pikir sudah cepat dan anda malah meminta hari ini."
Wira tertawa.
"Tidak, aku tidak akan memaksa apapun yang kau inginkan dan membuatmu senang."
Arka mengangguk lalu mengajak Wira kembali masuk ke dalam.
"Kalian darimana?" tanya Sri menatap Arka dan Wira bergantian.
"Aku mengizinkan Ibu menikah lagi," kata Arka to the point.
Bik Sri, Vanes dan Faris langsung tersenyum mendengar ucapan Arka, "Kamu yakin Nak?"
Arka mengangguk, "Ya Bu dan Ibu bisa menikah minggu depan." tambah Arka.
"Terima kasih Arka sudah memberi kami kepercayaan." kata Vanes yang langsung membuat Arka tersenyum.
"Alhamdulilah kalau begitu nak tapi apa tidak cepat jika menikah minggu depan?" tanya Bik Sri.
Arka menghela nafas panjang, "Pacar ibu saja malah ingin menikah besok." protes Arka yang langsung membuat semua orang tertawa.
Setelah berbincang cukup lama tentang pernikahan, Bik Sri, Wira dan Vanes kini berada didapur untuk menyiapkan makan malam sementara Faris dan Arka berada diluar rumah. Faris tertarik dengan hobi Arka yang memiliki motor tua.
"Berapa dulu kamu membelinya?" tanya Faris.
"Gratis mas orang peninggalan Almahrum Ayah."
"Tapi bisa kerena gini ya?" puji Faris.
"Aku modif mas, tiap bulan dapat uang saku nggak pernah jajan, uangnya buat modif motor." kata Arka lalu tertawa.
"Besok kalau ke kota motornya dibawa nih?" tanya Faris.
Arka mengerutkan keningnya tak mengerti, "Mau ngapain mas ke kota?"
"Lah setelah Ibumu menikah kamu pasti diboyong ke kota."
Arka langsung menggelengkan kepalanya, "Kayaknya enggak aja deh mas, aku disini saja nggak apa apa."
"Kenapa? Kamu sungkan tinggal disana?" tanya Faris dan Arka hanya diam.
Faris menepuk bahu Arka, "Jangan sungkan mereka itu orang baik. Aku dulu juga sama seperti kamu. Hanya pria miskin yang berasal dari kampung tapi nyatanya mereka tidak pernah mempermasalahkan itu, mereka welcome dan menerima aku dengan baik." ungkap Faris.
"Nggak percaya mas." balas Arka menatap Faris nggak percaya.
"Serius, tanya saja sama Bik Sri kalau nggak percaya." ucap Faris.
Arka kembali diam, Ia sudah berbicara dengan Wira dan kini berbicara dengan Faris, Arka merasa nyaman berbicara dengan mereka.
"Sepertinya mereka memang orang baik, tidak salah jika aku mengizinkan Ibu menikah lagi." batin Arka.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Vanes yang baru saja keluar dan bergabung dengan Arka dan Faris.
"Motornya Arka keren nggak yank?"
Vanes menatap ke arah motor tua milik Arka, "Keren mas, kapan kapan bisa minjem nih buat healing." celetuk Vanes.
Arka mengangguk, "Pakai aja nggak apa apa."
"Nanti setelah pernikahan kamu ikut tinggal ke kota kan Arka?" tanya Vanes memastikan.
"Belum tahu mbak."
"Kok Belum? Harus lah kan kita nanti jadi keluarga."
Arka tampak masih ragu.
"Nggak usah dipaksa, kasih Arka buat memikirkan ini." kata Faris yang akhirnya diangguki Vanes.
"Iya deh iya, semoga Arka mau tinggal bareng dikota ya?" rayu Vanes.
Arka hanya tersenyum.
"Jangan khawatir Arka, setelah ini kita akan menjadi saudara tiri tapi aku nggak akan jahat kok, janji." ucap Vanes yang akhirnya membuat Arka tertawa.
Bersambung...
Jan lupa like vote dan komen yaaa