TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
195


Sara baru saja mendapatkan informasi dari Wira jika pelaku pembunuhan Ken sudah tertangkap dan Sara sama sekali tak terkejut jika pelakunya adalah Alea.


Sejak awal Sara sudah menduga jika pelakunya adalah Alea meskipun Vanes dan Faris melindungi gadis itu namun Sara yakin jika Alea pelakunya.


Rasa bersalah Sara kembali mencuat karena Ia sempat menuduh Arga. Sama sekali bukan maksud Sara untuk menuduh Arga, waktu itu Arga mendapatkan ancaman dari Ken, Sara hanya khawatir jika Arga emosi hingga akhirnya membunuh Ken lebih dulu namun ternyata pemikirannya itu salah besar. Arga sama sekali tidak menyentuh Ken.


"Bu... Pak Zil sudah datang." kata Sekretaris Sara yang baru saja masuk.


Siang ini Sara memang ada meeting dengan Arga, Sara sudah senang dan berniat untuk meminta maaf namun ternyata yang datang bukan Arga melainkan Zil.


"Nona terlihat kecewa, apa karena saya yang datang?" tanya Zil lalu tersenyum.


Sara menggelengkan kepalanya, "Jika kau yang datang artinya Arga masih marah padaku."


Zil mengangguk, "Apa Nona berniat untuk minta maaf?"


"Tentu saja Zil."


"Kalau begitu semangatlah Nona, saya yakin Tuan pasti akan memaafkan Nona dengan mudah. Harap mengerti Nona mungkin saat ini Tuan sedang emosi."


Sara mengangguk, "Aku mengerti Zil, aku memang sudah keterlaluan."


Zil tersenyum, "Bisakah kita memulai meeting sekarang Nona?"


Sara mengangguk dan mengajak Zil keruang meeting. Saat Sara keluar dari ruangannya, Sara berpapasan dengan Faris yang juga baru keluar dari ruangannya.


"Mau jemput Vanes?"


Faris mengangguk, "Sekalian mau ke kantor polisi jemput Papa, katanya pelaku pembunuhan sudah ditemukan."


"Alea, pelakunya Alea." ucap Sara.


Faris tampak terkejut, Ia tak mengatakan apapun lagi dan langsung pergi meninggalkan Sara dan Zil.


"Dia pasti terkejut karena anak bawaannya membawa masalah dirumah." gumam Sara lalu kembali melangkahkan kakinya ke ruang meeting.


Sementara itu Faris mulai melajukan mobilnya menuju kampus Vanes. Beruntung Vanes sudah berada diluar kampus jadi Faris tidak harus menunggu Vanes.


"Ada apa mas? Kok mas keliatan sedih?" tanya Vanes saat memasuki mobil dan melihat raut wajah Faris sedikit aneh.


"Pelakunya sudah ditangkap sayang."


Vanes tersenyum, "Syukurlah mas, jadi Ken bisa tenang disana."


"Jangan terkejut, ternyata pelakunya adalah Alea." ungkap Faris.


Meskipun Faris sudah melarang Alea agar tidak terkejut namun nyatanya Vanes masih terkejut bahkan sangat terkejut.


"Bagaimana bisa Alea melakukan itu pada Ken, bukankah dia mencintai Ken?" tanya Vanes dengan raut wajah sedih.


Faris menggelengkan kepalanya, "Aku juga tidak tahu, sebaiknya kita tanya Papa karena Papa saat ini berada dikantor polisi."


Vanes mengangguk dan Faris segera melajukan mobilnya menuju kantor polisi.


"Pelakunya sudah ditangkap." kata Wira saat Vanes dan Faris turun dari mobil untuk menjemputnya.


"Ya kami sudah tahu Pa... Apa boleh kami menemui Alea?"


"Jadi Sara sudah memberitahumu jika pelakunya Alea?" tanya Wira karena hanya Sara yang Ia beritahu tentang Alea.


"Kalian tidak bisa bertemu dengan Alea sekarang." ucap Wira.


"Kenapa Pa? Kami benar benar ingin memarahi gadis tidak tahu diri itu." omel Vanes membuat Faris khawatir hingga mengelus perut Vanes meminta istrinya itu lebih sabar karena tengah hamil saat ini.


"Alea sedang menjalani pemeriksaan kejiwaan, Papa akan menceritakan segalanya pada kalian. Lebih baik sekarang kita pulang dulu." ajak Wira yang langsung diangguki Faris dan Vanes.


Sesampainya dirumah, Vanes segera menagih janji Wira untuk menceritakan tentang Alea. Wira duduk disofa yang ada diruang keluarga, di ikuti oleh Faris dan Vanes yang tak sabar ingin mendengar cerita Wira.


Wira mulai menceritakan secara detail tentang apa yang Ia dengar saat diruang pemeriksaan, tidak Ia tambahi juga tidak Ia kurangi. Apa yang Ia ucapkan sama persis seperti yang di ucapkan oleh Alea.


"Aku tidak menyangka Ken akan sejahat itu." ucap Vanes.


"Tidak ada yang menyangka namun itulah kenyataannya. kita tidak bisa menyalahkan Alea karena dia juga terluka dan Ken... Entah apa yang membuat Ken berubah seperti itu. Dulu Ken pria yang baik dan sangat setia pada Papa tapi sekarang, Ken benar benar tak terduga." kata Wira.


"Meskipun begitu sepertinya kita tetap harus menemui Alea mas." kata Vanes pada Faris.


"Ya, kita akan menemui Alea setelah proses sidang selesai."


Vanes mengangguk setuju. Kini Vanes merasa bersalah pada Sara karena Ia yang sudah membawa Alea datang kerumah hingga menimbulkan masalah sebesar ini bahkan Vanes juga sempat membela Alea kemarin padahl Alea bersalah.


"Mungkin nanti aku harus meminta maaf pada Sara mas."


Faris mengangguk, "Ya kita harus minta maaf tapi jangan membebani diri karena kita juga tidak tahu jika Alea lah yang membunuh Ken." nasihat Faris yang langsung diangguki oleh Vanes.


Sementara itu dikantor Arga...


Arga berjalan mondar mandir diruangannya, Ia menunggu Zil yang tak kunjung pulang dari kantor Sara.


"Sebenarnya apa yang mereka bicarakan? Kenapa lama sekali?" omel Arga mengingat Zil berangkat ke kantor Sara pukul 1 siang dan sekarang sudah pukul 5 sore.


Pintu ruangan terbuka dimana Zil berdiri sambil tersenyum tengil. Zil tak mendekati Arga, Ia masih berdiri didepan pintu.


"Apa yang kau bicarakan dengan Sara? Kenapa lama sekali?" omel Arga.


"Tentu saja kami membicarakan bisnis Tuan, apa lagi?"


"Apa kau yakin hanya bisnis? Biasanya jika aku yang datang hanya 1 jam saja dan kau..." Arga menghitung menggunakan jarinya, "Kau sudah berada disana 4 jam, apa yang kau lakukan?"


Zil tersenyum, "Jalanan macet Tuan, saya terlambat datang dan terlambat kembali ke kantor, maafkan saya Tuan."


Arga berdecak, "Alasanmu saja, kau pasti bermain keluar? Siapa yang kau temui?" tuduh Arga.


"Tidak Tuan, sebenarnya saya tadi mengantar Nona Sara."


Arga mengerutkan keningnya, "Mengantar kemana?"


"Menemui mantan kekasihnya sewaktu masih kuliah."


"Apa!" suara Arga terdengar keras dan kesal.


"Benar Tuan, tadi Nona meminta saya mengantarnya ke kafe dan ternyata Nona bertemu dengan bule tampan." ungkap Arga.


"Brengsek!"


"Apa Tuan marah?"


"Seharusnya dia datang kesini untuk minta maaf kenapa dia malah selingkuh!" omel Arga.


"Apa Tuan marah?"


"Tentu saja aku marah, dia benar benar-"


"Benar apa?" suara Sara terdengar membuat Arga terkejut. Sara datang membawa bucket bunga yang sangat cantik.


"Kenapa kau ada disini?" tanya Arga lalu menatap ke arah Zil yang tertawa.


Arga menatap tajam Zil, kini Ia sadar jika Zil tengah mengerjainya.


Zil segera kabur dan Sara masuk ke ruangan Arga tak lupa menutup pintunya.


"Aku minta maaf, aku benar benar minta maaf. Aku tahu aku sudah salah menuduhmu jadi maukah kau memaafkan ku?"


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen...