
Rizal membeku, tubuhnya terasa sulit digerakan bahkan bibirnya pun seperti tidak bisa berucap. Bagaimana ini? Bagaimana bisa Ia membuat Mira hamil disaat Ia sudah ingin memperbaiki hubungannya dengan Vanes batin Rizal.
"Jangan bercanda." kata Rizal dengan suara pelan.
"Aku tidak bercanda, bagaimana jika kita ke rumah sakit untuk membuatmu percaya jika aku benar benar hamil." kata Mira kembali memeluk lengan Rizal namun seketika disentak oleh Rizal.
"Gugurkan kandungan itu sekarang!" ucap Rizal membuat Mira sangat terkejut.
"Apa maksudmu? Kau ingin membunuh anak kita?"
"Omong kosong apa ini? Apa kau yakin ini anak ku?"
Duarrr.... Hati Mira rasanya meledak saat mendengar Rizal mengatakan itu padanya.
"Kau tidak hanya ingin membunuh anak ini tapi kau juga tak mengakui anak ini?" Mira menatap Rizal dengan mata merah berair menahan tangis.
"Aku selalu melihatmu minum obat penunda kehamilan setelah kita berhubungan jadi mustahil jika kau hamil kecuali kau sengaja berhubungan dengan pria lain untuk menjebak ku."
Plakk... Mira menampar keras pipi Rizal. apa yang dikatakan Rizal memang benar karena saat berhubungan dengan Nathan, Mira tidak pernah minum obatnya namun Mira tak ada niat untuk menjebak Rizal seperti yang Rizal tuduhkan padanya.
Rizal emosi dengan tamparan Mira, Ia menarik lengan Mira dengan kencang lalu menekannya, "Gugurkan kandungan itu, aku sama sekali tidak ingin punya anak denganmu!"
"Apa yang kau katakan? Apa kau sudah tak mencintaiku lagi?"
Rizal tersenyum namun senyumannya terlihat mengerikan, "Benar, aku memang sudah tak mencintaimu lagi."
Tangis Mira akhirnya pecah mendengar pengakuan Rizal. Kini akhirnya Ia mengerti kenapa sikap Rizal berubah akhir akhir ini dan ternyata karena Cinta Rizal untuknya sudah memudar.
"Aku mencari kesempatan untuk mengakhiri hubungan kita dan sepertinya ini saat yang tepat untuk melakukan itu semua. Sebaiknya kita akhiri saja. Aku sudah menikah dan aku ingin fokus bahagia bersama istriku." kata Rizal membuat tangis Mira semakin pecah.
"Jangan ada pikiran kau bisa menganggu keluargaku atau mengancamku, aku tidak akan membiarkan kau melakukan itu. Kau sangat tahu bagaimana aku bertindak, aku bisa saja membunuhmu." kata Rizal lagi.
Mira tak lagi bisa menopang dirinya hingga Ia jatuh tersungkur dilantai mendengar ucapan Rizal. Mira tahu, sangat tahu betapa jahat dan liciknya Rizal dengan orang lain. Bahkan Rizal sempat menyingkirkan musuhnya dengan cara yang kejam hanya untuk membuatnya menang dan kini Ia tak menyangka jika Dirinya juga akan diperlakukan yang sama.
Mira yang membantu Rizal untuk mencapai kesuksesan, Ia bahkan rela menjadi simpanan bahkan tubuhnya dinikmati oleh Rizal setiap hari namun yang Ia dapatkan hanyalah kehancuran dirinya sendiri.
"Ayo ikut aku sekarang." Rizal kembali menarik tangan Mira.
"Kemana?" tanya Mira dengan suara lirih.
"Tentu saja menggugurkan kandunganmu."
Mira menyentak tangan Rizal, "Jangan berharap kau bisa melakukan itu padaku. Aku benar benar tidak akan membunuh bayi ini."
Rizal tersenyum, "Jika kau tidak ingin membunuh bayi sialan itu sebaiknya kau pergi dari sini, jangan pernah menampakan diri atau mengangguku lagi."
Mira terdiam cukup lama hingga akhirnya Ia pun menjawab, "Baiklah, jika memang itu yang kau inginkan. Aku tidak akan pernah menganggu dan mengusikmu lagi sebaliknya kau juga harus melakukan itu."
Rizal tertawa mendengar ucapan Mira, "Kau gila? Kau sudah tidak spesial lagi untukku, aku tidak akan pernah menganggumu lagi."
Mira mengangguk, Ia mengambil tas miliknya lalu beberapa barang penting yang ada dimeja kerjanya. Mira mengelus perutnya lalu menatap ke arah Rizal dengan raut wajah kecewa setelah itu Mira keluar dari ruangan Rizal.
"Sial, aku tidak menyangka akan semudah ini. Aku pikir Mira akan sulit dilepaskan." kata Rizal lalu tertawa puas.
Mira berjalan keluar dari kantor dengan membawa banyak barang. Nathan yang melihatpun tak membiarkan Mira membawa barang sebanyak itu karena tahu Mira tengah hamil anaknya. Meskipun Nathan sedang kesal dengan Mira namun rasa cintanya pada Mira lebih besar dari pada rasa bencinya.
Tanpa mengatakan apapun, Nathan mengambil alih tas jinjing yang dibawa Mira lalu membawakan sampai ke mobil.
Nathan sempat melihat wajah sembab Mira yang menjadi bahan gunjingan orang kantor.
"Kau bisa menyetir sendiri atau mau ku antar?" tawar Nathan saat sampai dimobil Mira.
"Aku sendiri saja tidak apa." suara Mira terdengar lirih dan lemas.
Nathan mengangguk, "Jika butuh sesuatu segera hubungi aku." kata Nathan yang langsung diangguki Mira, "Aku akan kesana setelah jam pulang kerja. Tunggu aku." kata Nathan lagi lalu kembali masuk ke kantor.
Mira sempat memandangi punggung Nathan, Ia menghela nafas panjang. Rasanya bodoh sekali, ada pria yang sangat mencintai dan berjuang untuknya namun Ia malah memilih bersama pria seperti Rizal bahkan rela menjadi yang kedua.
Mira segera melajukan mobilnya meninggalkan kantor. Dadanya semakin terasa sesak jika mengingat ucapan Rizal.
...****************...
Rizal keluar dari kantor dengan wajah sumringah. Terlalu bahagia hingga Ia juga bersiul.
"Rasanya menyenangkan sekali." ucap Rizal segera memasuki mobilnya.
Beberapa hari ini pak Seto izin cuti jadi terpaksa Ia menyetir mobil sendiri.
Rizal mulai melajukan mobilnya keluar dari kantor. Rizal melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena tak sabar ingin segera sampai dirumah.
Saat jalanan menurun, ada truk dari arah depan yang akan menyebrang, Rizal merendahkan kecepatan dan ingin menginjak remnya namun sayang remnya sama sekali tidak berfungsi.
"Sial ada apa ini." umpat Rizal.
Karena panik dan takut menabrak truk, Rizal akhirnya membelokan mobilnya hingga Ia menabrak pohon besar yang ada dipinggir jalan.
Mobilnya remuk, kepalanya membantur setir mobil hingga mengeluarkan darah yang banyak. tatapan Rizal semakin abu abu karena merasakan pusing yang sangat luar biasa hingga akhirnya Rizal pun tak sadarkan diri.
Kecelakaan yang dialami Rizal membuat semua orang yang ada disana panik dan memanggil ambulance.
Rizal segera dibawa kerumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan sementara itu ada seorang yang tak jauh dari kerumunan yang melihat ke arah Rizal dengan tersenyum puas.
"Sayang sekali dia tidak mati." gumam Orang itu lalu pergi meninggalkan kerumunan.
Ditempat lain, Nathan memasuki basement apartemen Mira. Ia keluar dari mobil dan segera memasuki apartemen Mira.
Kini Ia sudah memiliki sandi pintu apartemen Mira jadi Ia tidak perlu menunggu Mira membuka pintu.
Nathan masuk membawa sekotak donat, cemilan kesukaan Mira.
Tampak Mira tengah duduk disofa sambil melamun.
Nathan berjalan mendekat, duduk disamping Mira.
"Aku ingin kita melakukannya." kata Mira.
"Melakukan apa?"
"Aku ingin balas dendam dan aku tertarik dengan cara yang pernah kau berikan padaku."
Nathan tersenyum lebar, inilah yang Ia tunggu setelah sekian lama.
Akhirnya Mira mau membantunya untuk menghancurkan Rizal.
Bersambung...