TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
232


Selama ini Asih sudah melewati banyak cobaan dan penderitaan bersama Slamet suaminya. Ia merasa Slamet adalah pria baik dan bertanggung jawab. Slamet juga selalu melindungi keluarga kecilnya dari hal apapun.


Itulah yang membuat Asih begitu mencintai mendiang suaminya dan tidak ingin mengganti dengan pria manapun.


Namun kemarin saat pertama kali melihat Herman dan pria itu tersenyum padanya, entah mengapa hati Asih bergetar.


Asih sendiri tidak tahu perasaan apa itu, kenapa Ia bisa merasa aneh dengan seorang pria yang baru dikenalnya. Meski begitu, Asih tidak ingin buru buru mengatakan jika Ia memiliki rasa yang sama dengan Herman.


Asih ingin meyakinkan dirinya sendiri tentang perasaannya yang sebenarnya.


"Pasti Ibu takut mengkhianati cinta Bapak kan?" Tebak Faris yang langsung diangguki oleh Asih.


"Mungkin itu salah satunya."


Faris tersenyum lalu mengenggam tangan Asih, "Bapak sudah meninggal Bu, jadi Faris rasa Bapak akan mengerti jika Ibu menikah lagi."


Asih menatap Faris, "Jadi kamu setuju kalau Ibu menikah lagi?"


Faris mengangguk, "Apapun keputusan Ibu, Faris akan mendukungnya."


"Ibu masih ingin memikirkan ini dulu."


"Faris kembali mengangguk, "Tidak perlu buru buru Bu, Om Herman pasti mengerti."


"Tapi bagaimana jika Ibu menolak? Apakah hubungan persaudaraan ini akan berubah tidak baik?" tanya Asih dengan raut wajah khawatir.


Faris menggelengkan kepalanya, "Tentu saja tidak Bu, Om Herman bukan orang yang seperti itu. Dia pasti bisa mengerti alasan Ibu menolak." kata Faris membuat Asih merasa lega.


"Om Herman itu orang baik Bu, mungkin jika bukan Om Herman, Faris belum tentu mengizinkan."


Asih mengangguk, "Ya Ibu juga bisa melihatnya."


Setelah puas mengobrol dengan Asih, Faris keluar dari kamar Asih, membiarkan Ibunya istirahat.


Tengah malam..


Faris pergi ke dapur untuk mengambil air minum dan Ia dikejutkan dengan keberadaan Rani yang tengah makan buah padahal ini sudah tengah malam.


"Laper Ran?" suara Faris juga mengejutkan Rani.


"Iya Mas."


"Tadi makannya sedikit sekarang laper kan?"


Rani mengangguk lalu memaksakan senyum takut membuat Faris curiga.


Faris ikut duduk disamping Rani, "Kamu lagi ada masalah Ran?" tanya Faris.


Rani kembali terkejut mendengar pertanyaan Faris, "Eng enggak kok mas."


"Jangan bohong, keliatan banget kalau kamu lagi ada masalah." ucap Faris mengingat sejak pagi tadi gelagat Rani sedikit aneh, seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


Rani menghela nafas panjang, Ia memang sedang dilanda masalah saat ini dan masalahnya juga sangat besar namun Rani tak mungkin mengatakan itu pada Faris.


"Kalau nggak mau cerita nggak apa apa tapi jangan siksa diri kamu ya Ran? Kamu harus tetap sehat dan kuat biar bisa mengatasi masalah kamu." nasihat dari Faris.


Rani mengangguk, "Iya mas, pastilah itu."


Faris menepuk bahu Rani lalu beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Rani.


Sebelum naik ke atas tangga, Faris sempat melihat ke arah Rani lagi.


"Kamu lagi ada masalah apa Ran sampai nggak mau cerita sama aku?" gumam Faris.


...****************...


Pagi ini Arka berangkat sekolah diantar oleh Faris karena memang lokasi sekolah searah dengan kantor Faris.


Setelah mengantar Vanes ke kampus Faris melajukan mobilnya menuju sekolahan Arka.


"Makasih Mas." ucap Arka yang langsung diangguki oleh Faris.


Arka keluar dari mobil Faris, berjalan memasuki gerbang sekolahnya.


"Woy.." suara Genta terdengar memanggil.


Arka melihat Genta yang baru datang menaiki mogenya. Arka menghentikan langkah kakinya, menunggu Genta memarkirkan motornya.


"Lo jalan kaki?" tanya Genta.


Arka menggelengkan kepalanya, "Dianterin sama Abang gue."


Genta merangkul Arka mengajak Arka masuk ke kelas.


Arka tersenyum tipis, "Gue mana berani minta." ucap Arka mengingat betapa susahnya hidupnya sebelum ini. Sekarang Ia bisa sekolah dan hidup nyaman saja Arka sudah merasa beruntung.


"Culun amat Lo!"


Arka kembali tersenyum, "Ya gimana lagi,"


"Pagi Arka..." suara centil seorang gadis terdengar mendekati Arka.


Dia adalah Suci teman sekelas Arka dan juga siswi paling cantik dikelasnya.


Suci mengulurkan sebuah undangan untuk Arka, "Datang ya?" pinta Suci.


Arka membuka undangan ulang tahun milik Suci, "Club black night?" tanya Arka memastikan jika Ia tak salah membaca tempat yang diadakannya pesta ulang tahun.


"Bokapnya pemilik club, pastilah perayaannya disana." kata Genta.


Arka berohh ria, "Aku nggak janji bisa datang apa nggak tapi aku tetap belikan kado buat kamu." ucap Arka mengingat Ia belum pernah sekalipun masuk ke tempat hiburan malam seperti itu. Arka takut jika kedatangannya malah membuat malu.


"Harus datang, nggak boleh enggak!" paksa Suci.


Genta menepuk bahu Arka, "Sudahlah Bro, datang saja."


Mau tak mau Arka mengangguki permintaan Genta.


Sepulang sekolah, Arka dan Genta pergi ke mall untuk membeli hadiah ulang tahun Suci.


"Gila, mahal amat tas ginian doang." ucap Arka melihat sebuah tas dengan harga 30 juta.


"Kalau disini mana ada tas murah." balas Genta.


"Lo mau beliin tas itu buat Suci?" Arka menatap Genta tak percaya. Genta masih sekolah dan uang pasti meminta orang tuanya tapi sudah berani menghamburkan uang sebanyak itu hanya untuk membeli sebuah tas.


"Kenapa enggak? Kalau buat cewek jangan pelit bro!"


"Lo suka sama Suci?"


Genta malah tertawa, "Mana mungkin, Suci itu sepupu Gue!"


"Ohh, kirain suka."


"Lo mau beliin apa buat Suci?" tanya Genta.


"Boneka sajalah."


Genta tertawa, "Gila Lo, mana suka Suci sama boneka."


"Trus apa?"


"Lingerie aja."


Arka mengerutkan keningnya, "Lingerie itu apa?"


Genta menggelengkan kepalanya tak percaya, "Selama ini Lo kemana aja? Lingerie nggak tahu!" omel Genta.


Arka tertawa, "Serius gue nggak tahu.:


"Sini Lo ikut gue." ajak Genta.


Arka menurut saja mengikuti langkah kaki Genta hingga Ia terkejut saat Genta mengajaknya masuk ke toko pakaian dalam wanita.


"Gila Lo, nggak mau gue!" omel Arka saat Genta baru saja memperlihatkan bentuk lingerie padanya.


"Kenapa? Dia pasti suka Lo beliin ginian." ucap Genta sambil tersenyum tengil.


"Nggaklah, gue beliin jaket aja." ucap Arka keluar dari toko meninggalkan Genta.


Arka tidak habis pikir jika Genta akan sejail ini padanya.


Setelah memilih milih akhirnya Arka mendapatkan sebuah jaket dengan harga 500ribu. Entah Suci akan suka atau tidak yang penting Arka sudah berniat baik membelikan kado untuk Suci.


"Udah dibilang beliin lingerie tadi malah Lo beliin Jaket. Nggak akan ke pake sama dia." kata Genta.


"Ntar gue dikira mesum beliin gituan." ucap Arka.


"Nggak akan lah, justru kalau Lo beliin lingerie tadi dijamin Suci langsung ngajakin Lo tidur bareng."


Arka terkejut mendengar ucapan Genta, Ia bahkan menggelengkan kepalanya tak percaya mendengar Genta mengatakan itu padanya.


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen yaaa