TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
27


Setelah menghubungi Mira melalui panggilan telepon, Rizal naik ke atas dan langsung mengetuk pintu kamar Vanes.


Tak menunggu lama, pintu kamar terbuka memperlihatkan Vanes yang mengenakan setelan piyama pendek, memperlihatkan paha mulus milik Vanes yang mengoda mata Rizal.


"Ada apa?" tanya Vanes dengan tatapan mata tidak ramah.


Rizal mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan proyek baru yang membuatnya harus keluar kota.


"Besok ada kerjaan keluar kota,"


Vanes mengerutkan keningnya, "Masalahnya apa?"


"Aku cuma ngasih tahu kamu, siapa tahu pas bangun pagi kamu bingung karena aku udah nggak ada dirumah."


Vanes menghela nafas panjang, "Bukankah biasanya langsung pergi, kenapa pula harus pamit." heran Vanes.


"Aku ingin memperbaiki hubungan kita, jadi aku akan melakukan hal seperti ini agar kita bisa-"


"Sudah terlambat, aku pikir sudah terlambat." kata Vanes merasa jengah dan ingin menutup pintu namun Rizal menahan pintu Vanes.


"Belum terlambat, masih ada waktu 5 bulan untuk memperbaiki hubungan kita."


Vanes hanya diam, tak lagi menjawab membuat Rizal tersenyum lega karena mengira Vanes akan memberikan kesempatan.


Setelah pintu kamar Vanes tertutup, Rizal segera mempersiapkan barang yang akan dibawa besok pagi.


Pukul 4 pagi, Rizal sudah berangkat menuju bandara dimana Mira sudah menunggu disana.


"Aku pikir kau akan membatalkan perjalanan bisnis ini." cibir Mira.


Rizal merangkul bahu Mira, "Tentu saja tidak sayang, keuntungan yang akan kita dapatkan dari kerjasama ini sangat banyak, aku tidak akan menyiakan kesempatan ini."


Mira tersenyum senang dan keduanya segera memasuki pesawat.


Sementara itu dirumah, Pukul 6 pagi Faris baru selesai bersiap untuk berangkat pulang kampung. Rencananya Faris akan pulang naik kereta.


"Sarapan dulu den sebelum pulang." kata Bik Sri saat Faris keluar dari kamar membawa tas punggungnya.


"Mas Rizal sama Mbak Vanes belum bangun ya bik?" tanya Faris melihat meja makan masih sepi tidak ada siapapun.


"Lho Den Faris nggak tahu kalau Tuan pergi keluar kota?" Bik Sri tampak terkejut.


"Faris malah tidak tahu Bik, memang sudah berangkat?"


"Sudah jam 4 tadi Den."


Faris mengangguk dan segera duduk, "Kalau mbak Vanes belum bangun?"


"Bel- eh Nona mau kemana?" Bik Sri kembali dikejutkan oleh Vanes sudah rapi, siap untuk pergi dan bahkan membawa koper.


Faris berbalik menatap Vanes dan sama terkejutnya melihat Vanes membawa koper.


"Mau kemana Mbak?" Faris mengira Vanes sudah menyerah dengan hubungannya dan berniat kabur dari rumah.


"Mau ikut kamu." kata Vanes yang lagi lagi membuat Faris dan Bik Sri kembali terkejut.


"Ak aku mau pulang kampung mbak, ikut gimana maksudnya?" Faris merasa bingung.


"Kamu bilang kalau didaerah sana ada pantai, nah aku ikut kamu pulang dan setelah itu kita jalan jalan ke pantai lagian Mas Rizal pergi ini jadi aman." kata Vanes sambil memperlihatkan kunci mobil miliknya.


"Nggak Mbak, jangan..." tolak Faris seketika membuat raut wajah Vanes berubah kecewa.


"Apa kata orangtuaku mbak kalau bawa Mbak Vanes pulang kerumah dan lagi-" Faris tak melanjutkan ucapannya.


"Ohh ya sudah." Vanes tak memaksa Ia kembali membawa kopernya naik ke atas kamarnya.


Faris benar benar dibuat kalut, rasanya Ia juga ingin mengajak Vanes pergi ke kampung halamannya, bertemu dengan orangtuanya lalu berjalan jalan ke pantai bersama namun Ia takut, takut membuat orangtuanya kecewa karena Faris menyukai kakak iparnya sendiri.


Bik Sri yang masih berdiri disana pun ikut merasakan kekalutan yang dirasakan oleh Faris.


Bik Sri tidak berkomentar apapun karena Ia juga bingung harus membela siapa kali ini.


Cukup lama Faris duduk hingga Ia akhirnya beranjak dari meja makan dan naik ke atas. Faris mengetuk pintu kamar, karena lama tidak dibuka Faris akhirnya membuka sendiri pintu kamar Vanes.


"Mbak... Ayo berangkat sekarang." ajak Faris membuat Vanes mendongak menatap Faris lalu sedetik kemudian Ia kembali menunduk acuh.


Faris gemas dengan tingkah Vanes, Ia akhirnya mendekati Vanes, "Ternyata selain pecemburu juga tukang ngambek ya?" celetuk Faris dan langsung terlihat senyum tipis terukir di bibir Vanes.


"Berangkat sekarang, aku tunggu dimobil." ajak Faris lalu mengambil kunci yang tergeletak dimeja dan menyeret koper Vanes keluar dari kamar.


Dengan perasaan senang, Vanes akhirnya mengikuti langkah kaki Faris, keluar dari rumah menuju mobil yang sudah Ia siapkan subuh tadi.


"Hati hati dijalan Non,"


"Iya Bik," balas Vanes lalu memeluk wanita paruh baya itu.


Faris segera melajukan mobilnya keluar dari garasi rumah.


Faris pikir ini akan menjadi perjalanan menyenangkan untuknya dan masalah orangtuanya, Ia akan memikirkan lagi cara agar Vanes diterima dirumahnya.


Tak terasa sudah setengah perjalanan untuk sampai kerumah. Faris menghentikan laju mobilnya disebuah taman kota.


Ada banyak penjual kaki lima disekitar taman.


"Mbak, udah pernah jajan di kaki lima kayak gitu belum?" tanya Faris.


Vanes menggelengkan kepalanya, "Biasanya tidak higienis."


Faris tersenyum, "Mbak tunggu disini, aku mau beli jajan sebentar."


Vanes mengangguk, Ia menunggu Faris didalam mobil.


Mata Vanes menatap punggung Faris kesana kemari dan Vanes tersenyum saat melihat Faris memberikan uang untuk pengemis yang ada disana.


"Dia sangat baik." gumam Vanes.


Faris kembali memasuki mobil dengan membawa banyak jajanan kaki lima.


"Ini namanya cilok," kata Faris memperlihatkan bungkusan plastik berisi makanan yang penuh dengan saus kacang. "Kalau yang ini crepes."


"Aku sering beli ini." ucap Vanes menujuk crepes dengan ukuran jumbo.


"Pasti belinya di mall." cibir Faris dan Vanes hanya tersenyum.


Faris menusuk satu butir cilok menggunakan tusukan lalu mengulurkan pada Vanes, "Cobain deh mbak."


Bukan nya mengambil ciloknya, Vanes langsung memakan ciloknya. Vanes ingin disuapi oleh Faris.


"Enak." puji Vanes kembali meminta suapan cilok pada Faris.


Dengan senang hati Faris terus menyuapi Vanes hingga sebungkus ciloknya dihabiskan oleh Vanes semua.


"Aku pikir Mbak nggak doyan." Cibir Faris dan Vanes hanya tersenyum.


Faris kembali melanjutkan perjalanan. keduanya menghabiskan waktu untuk bercerita, mendengarkan musik, bernyanyi bersama hingga tak terasa sudah sampai dirumahnya Faris.


"Cuma rumah sederhana Mbak, nggak semewah dirumahnya Mbak Vanes." kata Faris saat menghentikan mobilnya tepat didepan rumah sederhana berwarna hijau muda.


"Aku bahkan tidak pernah memperdulikan hal seperti itu." balas Vanes.


Keduanya akhirnya turun dari mobil. tampak seorang wanita paruh baya berdiri, menyambut kedatangan keduanya.


"Ibu kira kamu nggak jadi pulang." kata Asih langsung memeluk putranya.


"Jadi dong buk, udah kangen sama Ibu dan Bapak."


Faris melepaskan pelukan Asih lalu membawa ibunya untuk menghampiri Vanes yang masih berdiri disamping mobil.


"Bukankah dia..." Asih tak melanjutkan ucapannya dan langsung menatap Faris penuh tanya.


Raut wajah Asih berubah cemas.


Bersambung....