TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
164


Arga memanggil Zil agar datang ke kantor Sara dan mengambil mobilnya karena Ia ingin pulang diantar oleh Sara.


Arga sudah sampai dikantor Sara dan Ia tak mau melewatkan kesempatan apapun bersama Sara dan inilah jalan satu satunya agar Ia bisa pulang bersama Sara.


"Kamu membuat segalanya rumit." omel Sara yang harus menunggu Zil datang dan juga harus mengantar Arga pulang.


"Kenapa harus merasa rumit, ini sangat mudah." balas Arga cengegesan.


"Kita harus menunggu sopirmu datang, entah berapa lama Ia akan datang."


"Dia akan segera sampai, tenang saja."


Dan benar saja, tak membutuhkan waktu lama, Zil keluar dari taksi.


Arga melempar kunci mobilnya ke arah Zil dan dengan cepat, Zil menangkap kunci mobil Arga.


"Mana kunci mobilmu?" pinta Arga pada Sara.


"Ini mobilku, biarkan aku yang menyetir."


"Oh baiklah baiklah, kita akan masuk sekarang." ajak Arga masuk ke dalam mobil lebih dulu diikuti oleh Sara.


Sepanjang perjalanan, Sara hanya diam dan fokus untuk menyetir, berbeda dengan Arga yang mengoceh tiada henti, entah bernyanyi ataupun bertanya sesuatu pada Sara.


"Apa kau punya pacar?" tanya Arga kembali bertanya meskipun Sara hanya diam saja, "Jika kau diam artinya kau punya." kata Arga membuat Sara kesal dan mau tak mau menjawab ucapan Arga.


"Aku tidak punya, aku baru saja bercerai." akui Sara.


"Wow mengejutkan, jadi kau janda?"


Seketika Sara menghentikan mobilnya lalu menatap Arga kesal, "Memang kenapa kalau janda!"


"Tidak, aku hanya bertanya kenapa kau harus marah." balas Arga menyadari jika Sara sedikit sensitif.


"Aku tidak marah, hanya saja ucapanmu tentang janda terdengar meremehkanku!"


"Kenapa kau bercerai?" tanya Arga.


Sara hanya diam, tak menjawab dan kembali menyetir mobilnya.


"Katakan alasanmu bercerai." Arga sangat penasaran.


"Itu sama sekali bukan urusanmu."


"Tentu saja akan menjadi urusanku setelah ini." kata Arga.


Sara mengerutkan keningnya tak mengerti, "Apa maksudnya ini semua? Kenapa harus menjadi urusanmu?"


Arga berdecak, "Katakan padaku sekarang kenapa kau bercerai?" Arga masih tak menyerah.


"Ku bilang bukan urusanmu!"


Arga menghela nafas panjang lalu menunjuk ke arah rumahnya, "Ada disebelah sana."


Sara menghentikan laju mobilnya tepat di sebuah rumah mewah yang hampir mirip dengan rumah Wira, "Mampirlah." ajak Arga, "Ayahku pasti senang."


"Tidak perlu. Aku akan pulang sekarang." kata Sara namun Arga masih juga belum keluar dari mobil Sara.


"Apa kau benar benar tidak akan mengatakan alasanmu bercerai?" tanya Arga lagi masih memaksa Sara.


"Ku bilang tidak, untuk apa pula kau harus tahu!" sentak Sara tak lagi sabar menghadapi Arga.


"Baiklah, jika kau tidak mau mengatakan, aku akan mencari tahu sendiri."


Kedua mata Sara melotot, "Apa yang kau inginkan sebenarnya? Kenapa kau harus mencari tahu?"


Arga tersenyum, "Karena kau sudah mencuri hatiku." ucap Arga lalu keluar dari mobil membuat Sara melonggo tak percaya mendengar ucapan Arga.


Sara masih menatap punggung Arga yang semakin lama semakin tak terlihat. Sara menggelengkan kepalanya, Ia kembali mengingat ucapan Faris yang mengatakan jika Arga tertarik padanya dan kini... Arga seolah memberi tanda jika apa yang di ucapkan oleh Faris itu memang benar.


Sara melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang karena pikirannya sedang tidak fokus saat ini memikirkan tentang ucapan Arga.


Ditengah jalan, Sara merasa ada sepeda motor yang mengikuti mobilnya. Sara merasa mengenal siapa yang mengikutinya itu, Ia pun menghentikan mobilnya dan melihat pemilik motor itu juga berhenti.


Sara keluar dari mobil, dugaannya benar jika yang mengikutinya adalah Ken.


"Ada apa?" tanya Sara dengan nada tak suka.


Sara berdecak, "Sekarang kau sudah melihatnya bukan jadi aku akan pergi." ucap Sara lalu berbalik ingin kembali masuk ke mobil.


Ken hanya diam saja, membiarkan Sara memasuki mobil tanpa berniat mencegahnya.


"Dasar aneh." gumam Sara kembali melajukan mobilnya.


Sara sempat melihat spion dan Ken masih mengikutinya. Ia membiarkan saja karena tak tahu apa tujuan Ken mengikutinya. Sara memasuki gerbang rumah Wira dan kali ini Ken tidak mengikutinya.


Sara sempat melihat ke arah Ken yang juga melihat ke arahnya.


Pria itu tersenyum lalu melajukan motornya meninggalkan Sara.


"Ada apa dengannya?" gumam Sara menggelengkan kepalanya lalu berjalan memasuki rumah.


Pagi harinya...


Faris menunggu Vanes yang tengah memakai tespack didalam kamar mandi. Ia tampak gugup dan tak sabar padahal sudah tahu jika Vanes hamil.


Saat Vanes keluar, Vanes memberikan 5 tespack dengan merek berbeda pada Faris dan semua tespack bergaris 2.


"Alhamdulilah sayang, kau memang hamil." ucap Faris lalu memeluk istrinya.


"Tapi setelah ini kita periksa dulu ya mas." ajak Sara yang langsung diangguki oleh Faris.


"Tentu sayang, setelah periksa kita mengumumkan pada semua orang jika kamu hamil." kata Faris yang diangguki setuju oleh Vanes.


Keduanya turun untuk sarapan bersama, raut bahagia keduanya membuat semua orang penasaran dengan apa yang terjadi termasuk Wira.


"Apa kau sudah sembuh? Bukankah kemarin kau pucat dan sakit?" tanya Wira.


"Sakit apa?" Sara ikut penasaran.


"Cuma masuk angin."


"Ohh masuk angin, jangan jangan hamil." tebak Sara, "Waktu aku hamil kemarin kan sempat masuk angin." ungkap Sara.


Wira menggelengkan kepalanya, "Jangan menebak seperti itu, jika tidak nanti akan mengecewakan semua orang." kata Wira.


"Baiklah Paman." ucap Sara merasa bersalah.


"Sudah sudah kenapa malah jadi tegang begini." celetuk Vanes lalu tertawa.


"Mbak Vanes habis dapet rejeki nomplok ini pasti, kelihatan bahagia banget." Rani ikut menimpali.


"Ya Ran, rejekinya emang nomplok banget makanya kita berdua seneng." balas Faris yang semakin membuat semua orang penasaran.


"Katakan saja apa? Jangan membuat penasaran." Wira bertanya lagi namun Faris dan Vanes hanya tersenyum.


Sementara itu ditempat lain, Herman tersenyum senang saat melihat Arga duduk dimeja makan bersamanya. Setelah beberapa tahun Ia tak pernah satu meja dengan Arga meskipun hanya sekedar makan bersama.


"Kau benar benar berubah nak." ucap Herman tersenyum senang.


"Jika itu menganggu Ayah, aku tidak akan duduk disini." kata Arga.


"Apa yang kau bicarakan, tentu saja tidak menganggu hanya saja aku curiga jika kau mendekati ku pasti kau menginginkan sesuatu dan kali ini apa?"


Arga tersenyum lebar, "Ayah benar benar Ayahku karena mampu mengerti aku."


Herman berdecak, "Katakan apa?"


"Masih yang kemarin, tentang melamar Sara." kata Arga.


Herman menghela nafas panjang, "Apa yang sudah memiliki jawabanya?"


Arga mengangguk, "Kemarin aku sempat memikirkan dan sekarang aku sudah memiliki jawaban."


"Lalu apa jawabanmu?"


"Aku menerima status Sara, buatlah aku dan Sara menikah secepatnya Ayah dan aku akan segera memberikan Ayah cucu."


Bersambung...


Jan lupa like vote dan komennnn