TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
103


Ken melepaskan bibir Sara. Ia menatap wajah ayu Sara yang selalu menggodanya. Ken melepaskan tangannya dari pinggang Sara dan meminta Sara kembali duduk disampingnya.


"Jangan menggoda saya lagi Nona, saya tidak mau melakukan apapun yang membuat Nona marah nantinya." ucap Ken.


Sara tersenyum sinis, "Munafik!"


Ken kesal dengan ucapan Sara namun akhirnya Ia memilih diam, tidak mengubris kekesalan Sara.


Ken beranjak dari duduknya, berniat pergi meninggalkan Sara.


"Mau kemana?" tanya Sara.


"Tidur Nona, besok kita harus bangun awal untuk pergi ke kampung halaman Faris."


Sara berdecak, "Aku tidak bisa tidur, seharusnya aku minum dulu agar aku bisa tidur."


Ken tersenyum, menatap Sara sejenak sebelumnya akhirnya berbalik, berjalan meninggalkan Sara yang masih murung.


Ken membuka pintu kamarnya, saat akan menutup pintu Ia terkejut melihat Sara berada didepan pintu.


"Apa yang Nona lakukan disini?"


"Ku bilang aku tidak bisa tidur, kau malah meninggalkanku!" omel Sara.


"Saya antar ke kamar Nona." ucap Ken.


Sara langsung menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku ingin tidur disini."


Ucapan Sara sontak membuat Ken terkejut, "Nona jangan, saya tidak mau Tuan Wira-" belum selesai dengan ucapannya, Sara sudah menyerobot masuk ke dalam kamar Ken.


"Keluar Nona." pinta Ken namun Sara malah berbaring diranjangnya.


Ken berdecak kesal melihat Sara begitu keras kepala. Ia tak lagi memperdulikan keberadaan Sara dan membuka bajunya, hanya memakai boxer pendek lalu berbaring disamping Sara.


"Apa kau selalu telanjang seperti ini?" tanya Sara melihat Ken menarik selimut, menutupi separuh tubuh sixpacknya dengan selimut.


"Hmmm, tidurlah Nona jika mau tidur disini." ucap Ken lalu memejamkan mata.


Sara berdecak, Ia kesal dengan sikap Ken yang terkesan jual mahal padahal Ken yang sudah menodainya.


Sara akhirnya mendekat hingga tubuhnya menempel dilengan Ken.


Ken kembali membuka matanya lalu bergeser ke samping lagi agar lengannya tidak menempel dengan tubuh Sara yang membuat adiknya bangun.


Sara tak menyerah, Ia kembali mendekat hingga akhirnya Ken berbalik dan menghadap ke arah Sara.


"Apa Nona ingin?" Bisik Ken ke telinga Sara membuat Sara merinding menahan geli.


"Apa yang kau katakan itu!" balas Sara gugup.


"Katakan jika Nona ingin, saya akan melakukannya tapi Nona tidak boleh marah lagi." ucap Ken.


Sara terdiam sejenak seolah sedang memikirkan tawaran Ken.


"Kita selalu melakukan tanpa sadar, sejujurnya aku hanya penasaran dengan rasanya."


Ken tersenyum nakal, "Baiklah jika Nona ingin merasakan, saya akan melakukannya dengan senang hati."


Ken menyentuh pipi Sara, Baru ingin memulai permainannya, mendadak Ia berhenti dan menatap Sara, "Menikahlah denganku Nona." pinta Ken yang langsung membuat Sara shock lalu mendorong tubuh Ken.


"Lancang!" ucap Sara menatap Ken marah lalu beranjak dari ranjang Ken. Sara keluar dari kamar Ken dengan keadaan kesal.


Ken hanya bisa menghela nafas panjang, Ia menawarkan pernikahan karena Ken lah yang sudah menodai Sara. Perasaan bersalah merasuki pikiran Ken dan berniat untuk tanggung jawab namun Sara selalu saja menolaknya.


Ken juga menyadari alasan Sara menolak mungkin karena dirinya hanyalah pesuruh bukan pengusaha atau orang kaya yang bisa memberikan banyak uang pada Sara.


Ken kembali memejamkan mata, waktu tidurnya hanya 2 jam setelah itu Ia harus bersiap pergi ke kampung halaman Faris.


Baru beberapa menit, Ken mendengar suara pintunya terbuka dan saat Ia membuka mata ternyata Sara kembali masuk ke kamarnya.


Hanya 1 ronde untuk malam ini dan kali pertamanya Ken bisa melihat senyuman Sara.


"Aku tak menyangka rasanya akan senikmat ini."


Ken tersenyum tipis lalu kembali memejamkan matanya karena Ia benar benar sudah mengantuk.


Rasanya baru sebentar Ken tidur, Ken terbangun saat mendengar bunyi alarm ponselnya.


Ken melihat ke sampingnya, sudah tidak ada Sara disana, mungkin gadis itu sudah kembali sejak tadi pikirnya.


Ken beranjak dari ranjang, merasakan kepalanya yang berdenyut, efek dari tidur sesaatnya.


Ken segera pergi mandi, takut jika semua orang sudah menunggu diluar.


Dan benar saja, Saat Ken keruang tengah istana Wira. Semua orang sudah berada disana termasuk Sara yang kini sudah rapi dan cantik mengenakan bajunya.


"Kau terlambat Ken." ucap Wira yang langsung membuat Ken menunduk malu.


"Maafkan saya Tuan."


Mereka akhirnya menuju mobil masing masing, Faris dan Vanes berada dimobil lain lengkap dengan sopir mereka sementara Ken, Sara dan Wira berada disatu mobil juga dimana sudah ada 1 orang yang akan mengemudikan mobilnya.


"Aku akan duduk didepan, kau dibelakang saja menemani Sara." pinta Wira saat Ken membuka pintu mobil bagian depan.


"Tapi Tuan..."


"Sudah menurut saja."


Ken akhirnya menuruti permintaan Wira, duduk dibelakang bersama Sara dengan wajah datarnya namun tak disangka, Saat Ia sudah duduk disamping Sara, gadis itu mengulurkan sebotol kopi instan untuk Ken.


Karena terkejut, Ken hanya menatap Sara hingga membuat Sara kesal dan langsung meletakan kopi di pangkuan Ken.


Ken tersenyum geli, "Terimakasih Nona." ucap Ken dengan suara pelan namun Sara membalasnya dengan lirikan sinis.


Setelah melewati perjalanan panjang, mereka akhirnya sampai dikampung tujuan. Mereka tak langsung kerumah Fadis namun berhenti disebuah hotel karena mereka berencana akan menginap dihotel setelah acara selesai.


Dihotel itu Vanes mulai dirias oleh MUA yang sengaja dibaww dari kota.


Faris tak henti hentinya menatap wajah ayu Vanes yang kini sudah sah menjadi istrinya.


"Apa tidak bagus?" tanya Vanes saat sudah selesai dirias dan memakai baju pengantin adat sunda.


"Sangat bagus dan sangat cantik." puji Faris yang kini juga sudah mengenakan baju pengantinnya.


"Kamu memang pandai merayu." ucap Vanes lalu tersenyum.


Setelah persiapan selesai, pukul 10 pagi, mereka berangkat dari hotel menuju tempat resepsi dirumah Faris. Tenda dan dekorasi sudah terpasang disana. jujur Faris merasa lega, meskipun pernikahan ini dadakan namun semua bisa berjalan sesuai keinginannya.


Mereka melewati rangkaian acara dan juga menyalami semua tamu yang hadir hingga acara selesai pukul 1 siang.


Wajah Vanes tampak pucat karena mungkin merasa kelelahan.


Faris merasa tak tega akhirnya membawa Vanes memasuki kamarnya. Kamar sederhana yang berbeda jauh dengan kamar Vanes dikota.


"Rapi sekali." puji Vanes yang sudah kedua kalinya memasuki kamar Faris dan merasakan kenyamanan dikamar itu.


Faris membantu Vanes melepaskan aksesoris kepala yang menghiasi kepala Vanes setelah itu Faris menyiapkan baju ganti untuk Vanes.


"Aku bisa ganti baju sendiri." protes Vanes saat Faris ingin menganggu.


"Tidak, biarkan aku yang menggantikan untukmu." ucap Faris lalu tersenyum nakal.


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen yaaa