TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
224


Arka duduk di pos kampling yang ada dikampungnya. Ia menunggu seseorang disana.


15 menit akhirnya yang ditunggu Arka datang.


Seorang gadis cantik yang seumuran dengan Arka.


Gadis itu tersenyum lalu duduk disamping Arka, "Sudah lama nunggunya?" tanya Gadis itu.


Arka menggelengkan kepalanya, "Nimas ada yang ingin ku bicarakan padamu." kata Arka mode serius.


Gadis bernama Nimas itu kembali tersenyum, "Bicara apa?"


"Mungkin aku akan pindah ke kota ikut bersama Ibu dan Ayah sambungku."


Senyuman Nimas berubah getir, "Sudah ku duga hal ini pasti akan terjadi, lalu bagaimana dengan hubungan kita?" tanya Nimas yang tak lain adalah kekasih Arka.


"Kita masih bisa berhubungan walaupun jarak jauh kan?" tanya Arka ingin mengenggam tangan Nimas namun seketika ditolak oleh Nimas.


"Aku nggak yakin."


Arka terlihat panik, "Kenapa nggak mungkin? Aku bisa setia sama kamu dan pasti pulang untuk kamu." Arka mencoba meyakinkan.


Lagi lagi Nimas tersenyum getir, "Aku tetap nggak yakin karena kebanyakan pasangan kandas setelah hubungan jarak jauh." kata Nimas, "Kalau memang kamu mau ke kota, kita akhiri hubungan baik baik jika pun kita memang berjodoh, suatu saat pasti akan bertemu lagi." tambah Nimas.


Arka menggelengkan kepalanya, "Nggak, aku nggak mau putus sama kamu."


"Tapi aku nggak bisa Ka." pinta Nimas.


"Kamu harus percaya sama aku. Kita coba dulu tetap jalani hubungan nanti setiap hari minggu aku pulang buat temui kamu." kata Arka meyakinkan.


Nimas tampak terdiam, memikirkan ucapan Arka.


"Jangan putus ya?" mohon Arka.


Setelah berpikir cukup lama, Nimas akhirnya kembali berbicara, "Baiklah jika memang begitu, kita tidak akan putus dan aku akan menunggumu."


Seketika senyum Arka mengembang dan langsung memeluk Nimas.


"Jangan begini nanti kalau orang lihat kita di sangka mesum." kata Nimas melepaskan pelukan Arka.


"Aku seneng banget karena kita nggak jadi putus."


Nimas tersenyum dalam hatinya Ia bergumam, "Semoga kamu bisa menjaga kesetiaan kamu buat aku walaupun aku sedikit ragu tapi aku akan memberi kesempatan untukmu."


Setelah selesai berbincang, Arka mengantar Nimas pulang. Rumah Nimas tidak jauh, mereka hanya berbeda RT saja.


"Kapan berangkat ke kota?" tanya Nimas saat keduanya sudah sampai didepan rumah Nimas.


"Mungkin 2 atau 3 hari lagi."


Nimas mengangguk mengerti, "Sebelum kembali ke kota aku ingin setiap pulang sekolah kita pergi jalan jalan dulu."


Arka mengangguk setuju, "Kalau perlu kita bolos sekalian."


Nimas menggelegkan kepalanya, "Tidak mau."


Arka tertawa, "Baiklah baiklah apapun yang di inginkan pacarku pasti ku turuti."


Nimas tersenyum lalu segera masuk ke dalam rumah. Setelah dipastikan Nimas masuk ke dalam, Arka segera pulang kerumah takut ibunya akan menunggu Ia pulang.


Baru sampai didepan rumahnya, Arka melihat Wira duduk di bangku depan rumah. Ia pun menghampiri Ayah sambungnya itu, "Disini dingin." kata Arka ikut duduk disamping Wira. Meskipun awalnya Arka tak setuju dengan pernikahan Ibunya namun kini Arka malah merasa nyaman dengan Ayah barunya padahal mereka baru beberapa kali bertemu namun Arka merasa nyambung bicara dengan Wira apalagi jika mengingat anak menantu Wira yang juga baik padanya, Arka merasa senang dan merestui pernikahan Ibunya adalah pilihan yang tepat.


"Nungguin kamu pulang, dari mana?" tanya Wira.


"Habis ketemu temen."


"Pasti susah ya mau pisah sama temen temen kamu disini?" tebak Wira.


Arka mengangguk, "Tapi lebih baik begitu asal bisa lebih dekat dengan Ibu."


Wira tersenyum lalu mengeluarkan amplop kecil dan diberikan pada Arka.


"Apa ini?"


"Buka saja."


"Sandinya tanggal ulang tahun kamu." kata Wira.


Arka masih terkejut dan tak percaya jika Wira memberinya kartu atm, "Tapi ini..."


"Sudah ada uang didalam atm itu, gunakan dengan baik dan karena kamu akan pindah ke kota jangan lupa traktir teman teman kamu." kata Wira menepuk bahu Arka lalu beranjak dari duduknya.


"Terima kasih." ucap Arka yang membuat Wira tersenyum lalu masuk ke dalam rumah meninggalkan Arka.


Semalaman Arka tidak bisa tidur, Ia masih mengenggam kartu atm yang diberikan oleh Wira. Ia tak tahu berapa nominal uang yang ada di kartu, membuatnya penasaran hingga tak bisa tidur ditambah lagi perasaan Arka yang campur aduk saat ini antara senang namun juga merasa sungkan.


Paginya, Arka buru buru berangkat sekolah dan langsung pergi ke mesin atm untuk melihat berapa uang yang diberikan Wira untuknya.


Dan betapa terkejutnya Arka saat mengetahui nominal atm ada 50juta.


Baru kali ini Arka melihat ada banyak angka nol di saldo atmnya.


"Gila, ini sih gila." gumam Arka menepuk nepuk pipinya karena merasa tak percaya.


Arka ingat pesan Wira yang mengatakan jika Ia bisa mentraktir teman temannya sebelum pindah ke kota. Ia pun mengambil uang 3 juta untuk membelikan makan siang di jam istirahat.


Arka bahkan memborong semua jajanan kantin untuk semua teman temannya.


"Sering sering balik kampung Ka biar bisa jajanin kita terus." ucap salah satu teman Arka.


"Iya Ka, punya bokap kaya harus bagi bagi sama kita."


Arka hanya tersenyum menanggapi teman temannya.


Jam pulang sekolah, Arka menepati janjinya untuk mengajak Nimas pergi jalan jalan.


"Kenapa kita kesini?" tanya Nimas saat Arka membawanya ke sebuah mall.


"Ya buat jalan, jajan trus kamu bisa beli apapun yang kamu mau." kata Arka.


Nimas tampak keheranan, "Kalau punya uang mendingan disimpen."


Arka mengeluarkan kartu atm didalam kantong bajunya, "Habis dikasih ini sama Ayah sambungku." pamer Arka, "Kita bisa belanja sepuasnya dengan ini." tambah Arka.


"Ta tapi..." Nimas tampak ragu hingga menarik tangannya dan Nimas tak punya pilihan lain selain mengikuti Arka.


Arka membelikan banyak barang untuk Nimas, Tas, sepatu, baju serta perlengkapan sekolah.


"Apa ini nggak berlebihan Ka?" tanya Nimas masih saja sungkan.


Arka tersenyum, "Enggak lah, lagian ini juga yang minta Ayah sambungku biar jajanin temen temen sebelum pindah."


"Tapi ini terlalu banyak Ka buat aku."


Arka berdecak, setahun mereka pacaran Arka sama sekali belum pernah membelikan barang apapun untuk Nimas karena Nimas selalu menolak mengingat keadaan Arka dulu juga sangat susah namun sekarang, Nimas masih saja mau menolak barang pemberiannya, "Kalau nggak mau buang saja semuanya."


Nimas terkejut dengan ucapan Arka, "Jangan dong, iya deh maaf."


Arka tersenyum, "Kita pulang sekarang ya?"


Nimas mengangguk dan segera menaiki motor Arka.


Sampai dirumah Nimas, Arka membantu Nimas membawa barang belanjaan.


"Kok sepi?"


"Bapak sama Ibu lagi kerumah nenek."


Arka tersenyum lalu mendekati Nimas, "Wah kesempatan bagus dong."


Nimas terkejut dan langsung menghindari Arka.


Bersambung...


Jan lupa like vote dan komen yaaa...


Ceritanya jadi bercabang kemana mana hehe semoga kalian tetap suka ya gaesss